Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2018

Asian Games 2018 telah berakhir. Namun tak sedikit masyarakat Indonesia yang masih merasakan euforianya. Mulai dari euforia Opening Ceremony terbaik, harap cemas pada saat menonton pertandingan, dan Closing Ceremony Asian Games yang spektakuler. Dari semua hal tentang Asian Games tahun ini, buat saya yang paling menarik adalah official song Asian Gamesnya. Lagu soundtrack Asian Games 2018 ini ada sebanyak 18 lagu. Kebanyakan orang lebih mengenal lagu 'Meraih Bintang' yang dinyanyikan Via Vallen. Ada satu lagu official song Asian Games ini yang buat saya beda dari yang lain. Mungkin kebanyakan orang hanya sekilas tau reffnya saja tanpa tahu judulnya. Jadi judulnya 'Bright As The Sun.'
Lagu ini saya sebut beda dari yang lain, karena merurut saya lagu ini sarat akan makna dan motivasi. Diciptakan oleh musisi tanah air yaitu Rian dan Rama D'Masiv, Nino RAN, Irfans Samsons dan Ade Govinda. Dan dinyanyikan oleh 18 penyanyi yang pasti juga asal Indonesia. Sebelum saya menulis mengenai ini, saya sudah cek banyak yang menceritakan motivasi apa saja dibalik lagu tersebut.

Baca ini: Ini Dia 7 Makna Plus Motivasi di Balik Lirik Lagu 'Bright As The Sun' sebagai Theme Song Asian Games 2018.
 
Lagu ini layak diperdengarkan untuk semua pemuda, pun momentumnya tidak hanya waktu Asian Games aja. Lagu ini cocok banget buat memecut semangat apapun situasinya. Saat sudah mau pupus harapan, saat mulai selisih karena perbedaan dan lain sebagainya. Lagu ini bisa dikatakan 'anak muda banget'. Selain emang nadanya kekinian dan liriknya pun sangat sesuai dengan pemuda.

Mari kita lihat, pada lirik Tegaklah berdiri, Terbanglah Kau Tinggi mengajarkan untuk tidak cepat puas atas pencapaian kita. Teruslah menjadi lebih baik lagi. Kita tahu pemuda adalah dimana masa-masanya sedang mencari jati diri. Keberadaan mereka ingin diakui, ingin eksis, ingin dikenal banyak orang dan lain-lain. Buat saya sesuai dengan lirik selanjutnya Inilah Saatnya, Namamu Bergema. Menjadi sebuah pecutan bukan buat anak muda?

Kemudian pada makna lirik selanjutnya, para pembaca pasti tahu dan paham kekalahan sebagai kemengan yang tertunda. Namun rupanya tidak cukup hanya tahu dan paham saja. Seperti lirik selanjutnya Jangan pernah berputus asa, jadi yang terbaik. Yakin deh pasti diantara dari kalian ada yang nulis motto jaman SD atau SMPnya; 'Don't Give Up' atau jangan menyerah dan semacamnya. Namun realitanya berapa banyak orang yang dikasih kesulitan sedikit, langsung ngeluhnya minta ampun dan udah langsung mundur teratur. Tanpa tahu hasil kalo kita coba dulu akan jadi apa. Lalu berapa banyak pemuda yang mengerjakan sesuatu dengan maksimal. Semisal mengerjakan tugas dari dosen atau dari atasan, mengerjakannya yang semampu kita aja udah. Tanpa mau repot-repot memberikan yang terbaik dan mempersembahkan yang terbaik yang udah kita kerahkan semua kemampuan kita.

Dalam bagian reffnya menggunakan bahasa inggris diantaranya and fight your fears come on, don't waste your times. Bisa dikatakan hal ini yang paling sulit untuk dikontrol adalah melawan rasa takut dan malas. Mari kita kalkulasikan dalam satu tahun, kesempatan emas apa yang kita lewati hanya karena takut atau buang-buang waktu? Dalam satu hari, berapa jam waktu kita diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan produktif? Yuk kita evaluasi.

Lirik yang paling mengena di hati ialah; berbeda bukan alasan untuk tak saling menopang. Tujuan, cita dan harapan. Tak bisa saya pungkiri bahwasanya kebanyakan dari kita terlalu gengsi untuk mau bahu-membahu, hanya karena dari golongan yang berbeda. Kita sudah terlalu mengkotak-kotakkan, sehingga sulit untuk bersatu padu. Padahal yaa sejak jaman nabi pun yang menjadi kunci kesuksesan adalah kebersamaan dan tidak mudah terpecah belah. Kemudian buat saya lirik yang paling pamungkas yang mengingatkan pada Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstatinopel; jadikanlah jiwa mudamu, mengukir sejarah. Memang usia-usia produktif seperti pemuda ini harus diotimalkan untuk mencetak sejarah kebaikan.

Lagu ini bagus untuk menyadarkan kawla muda menggapai impian yang lebih tinggi. Kita harapkan lagu ini berbanding lurus dengan realita yang ada. Tentu kalau dari kacamata saya, jauh sebelum lagu ini dibuat sudah ada yang membuktikkan menjadi cerah seperti matahari. Bright as the Sun. Sudah ada yang menaklukkan dunia dengan semangat muda penuh gelora didadanya. Usia boleh muda, tapi nyalinya seperti orang dewasa. Menurutku lagu ini guna untuk recovery memanfaatkan momentum di Asian Games tahun ini. Hal yang lagi dibicarakan akhir-akhir ini adalah naiknya kurs dollar dan rupiah semakin merosot. Sebagai pemuda mari kita bantu pemerintah untuk menjaga mata uang tercinta kita. Meminimalisir kebiasaan menjadi komsumtif dalam pembelian barang elektronik, impor dan pergi travelling ke luar negeri. Meskipun melambungnya nilai tukar rupiah, tidak menjadi alasan untuk malas mewujudkan impian pemuda. Bekerja dan belajarlah dengan giat. Give your best, let God do the rest. Sumber energi paling besar terdapat pada bersatunya pemuda. Gak heran kan Soekarno mau mengumpulkan 10 pemuda untuk taklukkan dunia :) Last but not least #AyoLebihBaik!

Kamis, 12 April 2018


Selamat siang temen-temen. Apa kabar nih? Semoga selalu semangat terus yaa. Berdasarkan dua postingan sebelumnya, saya mau bahas sisi kehumasan yang ada di serial Drama The Publicist. Buat temen-temen yang belum baca review drama The Publicist buatan Viu Indonesia, yuk langsung di klik aja link disini yaa.

Tapi kita pendahuluan singkat dulu. Jadi The Publicist ini merupakan serial drama dari Viu Indonesia. Di sutradarai oleh Monty Tiwa dan dibintangi oleh Adipati Dolken, Prisia Nasution, Baim Wong, Poppy sovia dan Reza Nangin. Serial drama ini tayang di aplikasi Viu mulai November 2017. Drama ini menceritakan seorang Reynaldi (Adipati) aktor yang mengalami krisis kepercayaan publik karena tersandung skandal narkoba. Kemudian hadir seorang image consultant, Julia Tanjung (Prisia) yang diminta untuk membantu memperbaiki citra dan reputasi Reynaldi. Ada Robert Hanafi (Baim), pengusaha sukses sebagai teman lama Julia.  Well langsung aja saya akan review film ini berdasarkan sisi kehumasannya. Kalau dibikin jurnal atau karya ilmiah, mungkin judulnya gini 'Peran Humas Perbaiki Citra dalam Serial Drama Indonesia (Studi kasus Drama The Publicist dari VIU Indonesia).' Heheheh

1. Manfaatkan Digital Publicist.

Kata Mba Julia image building jaman sekarang itu erat kaitannnya dengan sosial media. Karena bagus untuk keberadaan di sosial media. Aneh sih disini Rey gak main sosial media sama sekali. Hampir gak realistis kalau seorang artis jaman now gak punya sosial media. Disini dijelaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan untuk memperbaiki citra ialah menggencarkan sosial media. Of course, all people now, social media adalah tempat terbaik untuk pencitraan.

Dalam penggunaannya pun disini konsultan Julia mengarahkan untuk menetapkan target sasaran berdasarkan karakteristik sifat yang sesuai. Media sosial dimanfaatkan tidak hanya menjelaskan siapa kita. Akan tetapi dapat dimanfaatkan untuk sarana edukasi. Untuk media pembelajaran. Saya pernah denger kata dosen saya, pekerjaan PR itu esensinya tentang mengedukasi publik. Sebab kalau untuk menciptakan citra positif semua orang juga bisa. Namun bagaimana yang dipublikasikan mengandung value-nya. Ada nilainya, jadi substasinya gak terkesan picisan. Seperti Rey yang mengunjungi tempat rehabilitas narkoba dan memberikan pencerahan serta motivasi kepada mereka. Kemudian asisten yang diminta Julia sebagai Digital Publicist untuk melakukan live streaming di akun instagramnya Rey.

2. Public Relations harus punya network yang luas

 Public Relations maupun image consultant harus punya banyak relasi. Meskipun fokusnya adalah mengembangkan dan mempertahankan mutu. Tapi bisa sia-sia kalau gak punya jaringan yang luas. Kalau menurut saya, soalnya humas itu bisa bekerja dalam industri atau bidang apapun. Jadi humas Bank minimal harus punya kenalan orang-orang yang berkecimpung dalam keuangan dan perbankan. Humas perfilman, harus punya jaringan Production House, sutradara dan aktor-aktor. Humas seorang aktor pun lebih luas lagi. Tidak hanya harus kenal orang-orang dalam industri entertaiment. Melainkan tahu pihak-pihak yang terlibat dalam dunia seni peran beserta isinya. Seperti Julia yang punya kenalan teater Lampu sebagai tempat unjuk bakat Rey sebagai aktor hebar.

3. Good media relations

Melibatkan media sangat penting dalam pembentukan citra. Seperti halnya Julia yang mengundang para wartawan dari berbagai media untuk memperlihatkan kehebatan Rey di teater setelah selesai dari rehabilitas. Tidak hanya pembuktian secara langsung, Julia pun memberikan penegasan bahwasanya Rey merupakan aktor dengan akting yang sungguh luar biasa. Tidak sekedar mengundang, dengan sopan secara lisan maupun tulisan, Julia juga menjamu media dengan makan malam yang telah dia sediakan. Guna menciptakan rasa nyaman media untuk melakukan wawancara lebih lanjut. Pasca acara tersebut Julia dengan team membaca pemberitaan yang berisi tentang Rey. Hal ini juga yang seorang humas lakukan yaitu, media monitoring. Untuk kemudian dianalisis dan dievaluasi apakah pemberitaan tersebut menimbulkan citra positif, negatif atau netral.

4. Make a good looking


Dalam hal apapun, kita semua paham kalau jika ingin menggapai hasil yang memuaskan maka pondasinya harus kuat dulu. Sama halnya dengan perspektif kehumasan, jika ingin publik seneng, tertarik sama produk atau jasa kita, kita harus bikin dulu kemasannya sebagus mungkin. Dalam hal ini kemasannya ialah penampilan Reynya. Julia merubah Rey agar lebih good looking. Julia merubah semua style Rey agar terlihat professional dan lebih kekinian. Professional image tentu sangat berpengaruh untuk membangun citra positif.

5. Image building bukan pembohongan publik

Meskipun seorang humas harus totalitas dalam pembentukan citra. Namun bukan sebuah pembenaran jika harus melakukan pembohongan kepada publik. Humas harus tetap bersikap jujur sekalipun harus mengakui kesalahan. Tapi jujurnya harus yang berkelas, dengan tidak menjatuhkan diri sendiri. Dalam drama ini, Javier asisten Rey melakukan pembohongan publik, yang mana Javier mengumumkan di social media kalau Rey adalah aktor pemain sebuah film bernama Java Raphsody. Padahal pada tahap itu, Rey masih masuk tahap mau audisi. Belum tentu lolos. Well, be honest is still number one. PR always striving to be absolute the best.

6. Press conference untuk klarifikasi

Press conference merupakan solusi paling awal jika perusahaan terkena masalah. Tentunya setelah planning yang matang, perusahaan harus segera buka pembicaraan di publik. Jika perusahaan menghindar, publik akan menilai perusahaan mengatasi konflik dengan gaya yang tidak kooperatif. Apapun situasinya PR perlu menciptakan situasi tenang, dan meredakan suasana konflik. Seperti yang dilakukan Julia, saat penangkapan Rey dari BNN yang kedua kalinya. Julia melakukan penolakan tuduhan narkoba serta memberikan pembuktian bahwa tuduhannya tidak valid.

Well yeah saya berasa lagi kuliah 3 SKS Manajemen Humas hahaha. Correct me if i wrong. Silahkan bila ada yang ingin menambahkan. Yang belum nonton, harus nonton banget kalau kalian tertarik mempelajari dunia kehumasan. Yaa minimal sampai episode delapanlah. Selebihnya konflik-konflik hubungan antar Rey, Julia sama Robert aja sih.

Oh iya postingan sebelumnya saya lupa kasih kekurangan dan kelebihan. Jadi kelebihannya buat saya, serial drama ini bagus banget dari sisi penokohan, alur dan sinematografi.  Kalau kekurangannya, saya bingung kenapa gak diceritain kemana keluarga Robert, Julia dan juga Rey. Cerita akan lebih lengkap dan terasa lebih realistis jika diceritakan sedikit secara historis perihal keluarga mereka. Soalnya Julia hanya menceritakan adeknya saja. Saya kasih nilai drama ini 8 dari 10. Terima kasih yang udah baca sampai habis wkwkwk. Sampai ketemu di postingan selanjutnyaa.

Jumat, 30 Maret 2018


Halo temen-temen. Berhubung hari ini tanggal 30 Maret, Hari Film Nasional. Saya pengen review sebuah serial drama, berjudul seperti poster diatas, The Publicist. Menurut saya drama ini menjadi wajah baru dalam rekam jejak serial drama, maupun perfilman Indonesia. Kalau kalian pernah denger aplikasi VIU. Viu merupakan sebuah layanan video-on-demand (Film/Drama Korea terbaru dll). Tidak dipungut biaya selama 30 hari pertama dan selebihnya dikenai biaya 30ribu per bulan, jika ingin melanjutkan. Jadi Serial ini dipublikasikan di aplikasi Viu, yang kalian bisa download di ponsel, maupun tablet. Temen-temen bisa nonton video-video di Viu secara online maupun offline.

Buat temen-temen yang sering nonton drama korea (drakor), The Publicist bisa menjadi pilihan drama Indonesia rasa Korea. Drama yang sering melibatkan antara konflik percintaan dengan dunia politik, kedokteran, jurnalistik dan lain sebagainya. Kalau kalian pernah nonton Pinocchio, drakor yang bertemakan dunia wartawan. The Publicist ini menurut saya sebelas dua belas sama Pinocchio.  The Publicist melibatkan ilmu kehumasannya. Serial drama ini di sutradarai oleh Monty Tiwa, sutradara yang cukup banyak men-direct film-film layar lebar. Seperti Sabtu Bersama Bapak, Critical Eleven, Mau jadi Apa? dan film yang akan tayang April nanti Reuni Z. Dibintangi oleh aktor pemenang FFI 2013, Adipati Dolken, Prisia Nasution, peraih Piala Citra FFI juga tahun 2011, Baim Wong, Poppy sovia dan Reza Nangin.

Serial drama ini tayang sebanyak 13 episode mulai 22 November 2017, setiap hari rabu dan kamis. Dimulai dengan kisah seorang Reynaldi (Adipati) aktor yang mengalami krisis reputasi karena tersandung skandal narkoba. Kemudian datang seorang image consultant muda, cantik dan professional, Julia Tanjung (Prisia Nasution) yang diminta untuk membantu memperbaiki citra dan reputasi Reynaldi. Agar ia bisa kembali berkarir di dunia hiburan. Kemudian ada Robert Hanafi (Baim Wong) sebagai teman lama Julia, pengusaha muda yang maju ke Pilkada untuk pemilihan walikota. Dari situasi yang seperti ini, kita bisa merasakan drama Indonesia rasa korea.

Jadi, saya akan review berdasarkan dua sisi. Sisi penilaian teknis film itu sendiri dan sisi konten cerita dalam kacamata dunia kehumasan. Disclaimer ini kacamata saya pribadi. Tidak maksud untuk menjatuhkan atau melebih-lebihkan. Berhubung saya bukan orang film, saya akan menilai apa adanya sebagai orang awam. Kurang lebihnya mohon ditambahkan yaa temen-temen.

1. Poster

Poster-poster The Publicist ini menampilkan wajah Prisia, Adipati dan Baim wong saja. Background posternya, tempat kerja Prisia atau hitam dengan nuansa lampu-lampu. Kalau dari segi poster, buat saya pribadi tidak langsung tertarik untuk menontonnya. Mungkin karena saya tipikalnya butuh waktu lama untuk akhirnya memutuskan untuk menonton atau membaca suatu karya. Jujur first impression waktu sering lihat iklan tentang serial ini, my reaction is flat. I don't know, just i don't have any reason to watching this drama. Menurut saya, poster yang ditampilkan tidak mencirikan  nuansa filmnya seperti apa. But perhaps this is they said 'dont judge by cover.' Rupanya dalemnya wow menarikkkk.

2. Trailer

Trailer The Publicity berdurasi satu menit. Gaya trailernya menurut saya sudah terbilang mirip dengan trailer drama korea lainnya. Sangat mirip dengan ala-ala drakor karena pengambilan lokasi syuting ini ada yang di Jepang. Trailer juga ada subtitle bahasa inggrisnya. Saya kurang paham sih pengaruh keberadaan subtitle inggris di trailer ini. Kalo dramanya memang menggunakan subtitle, tapi berbahasa indonesia. Secara keseluruhan, trailernya menurut saya menggambarkan 60% alur cerita. Julia Tanjung dicintai oleh dua orang yang sangat berbeda, Reynaldi, mantan pecandu narkoba dan Robert, sang pengusaha muda.

 

3. Original Soundtrack.

Saya pernah baca di suatu platform kalo lagu tema atau soundtrack yang baik yang bisa membingkai cerita atau menggambarkan tokoh utama dalam film. Soundtrack film ini yang akan menjadi brand image suatu film. Sehingga apabila orang mengingat lagu tersebut, akan mengingat pula filmnya. Soundtrack The Publicist ini. Monty Tiwa sendiri yang menciptakan liriknya. Diaransemen oleh Andi Rianto dan dinyanyikan oleh Marcell Siahaan berjudul Changing Lanes. Bila ada permintaan rate, soundtrack ini saya beri nilai 8/10. Alasannya, pertema tentu originalitas lagunya. Kedua, cukup mewakili alur ceritanya. Seorang junkie yang ingin kembali, merubah citra diri menjadi positif. Seperti halnya judulnya Changing Lane merubah jalur.



4. Pemeran atau penokohan

Buat saya karakter yang dimainkan disini sudah pas dan sesuai porsinya. Tidak ada yang kurang dan dilebih-lebihkan. Prisia mampu memerankan karakter pekerja tangguh dan image consultant yang professional. Pun Adipati Dolken sudah tidak bisa diragukan lagi aktingnya mendekati sempurna dalam memerankan karakter Rey. Tapi sepertinya saya cenderung menyukai karakter Robert yang di perankan Baim Wong- yang menurut saya sangat istimewa. Jadi Robert ini kan workaholic banget, tapi Robert juga bisa sweet dan lembut sama Julia. Yang bikin saya sakit hati, Robert business oriented banget. Kaku gitu. Kurang bisa membawa suasana menjadi menyenangkan. Tapi kalau Rey terlalu anak kecil sifatnya, kalo gak suka sama sesuatu langsung pergi gitu aja~ So, yeah karakter mereka kuat banget. Saya pernah denger penokohan dikatakan sukses, kalau berhasil membuat penonton cinta atau kesel banget sama peran yang dimainkan. Berarti menunjukan keberhasilan dalam berakting.

5. Konten Cerita

Jadi tema serial drama ini menurut saya merupakan gabungan dunia aktor dengan dunia kehumasan. Pada episode pertama kita disuguhi dengan lokasi syuting Rey, lalu ada casting film, syuting iklan, dan audisi teater. Meski menurut saya, sedikit lebih banyak unsur kehumasannya seperti keterlibatan pers pada saat wawancara, konferensi pers, media sosial dan citra dalam penampilan juga sikap. Opening dan alurnya drakor banget, maju mundur gitu. Klimaks atau konfliknya gak picisan kaya sinetron. Cukup gak bisa ditebak. Dengan adanya konflik masa lalu disini buat saya menjadi nilai plus kesamaan dengan drama korea.

6. Sinematografi

Cukup suka pengambilan gambarnya. Pergantian shoot per shootnya bagus. Apalagi pas scene Rey mabuk di jalanan, udah kelas drakor banget. Colour gradingya juga hidup. Yeah, you know sekelas Monty Tiwa udah gabisa diragukan lagi filmnya.

7. Scene dan dialog terbaik

Saya suka setiap scene Julia yang bareng sama Robert. Menggambarkan hubungan dua orang dewasa yang sangat profesional. Dialog terbaiknya "You're a great actor rey, you have to know that. Gak ada jumlah narkoba yang bisa hapus itu." In my perspective, it's like mau seburuk apapun masa lalu kelam kamu, yang namanya udah bakat, itu gak akan bisa tenggelam :')


Di hari film nasional ini, saya berharap yang terbaik untuk perfilman Indonesia. Semoga semakin banyak produksi film-film yang memiliki nilai-nilai positif dan edukasinya. Jadi tidak hanya sekedar menghibur saja. Apapun genre atau temanya, film bisa mewakili karakter bangsa Indonesia. Suatu film lahir bukan untuk tandingan film-film yang sudah ada. Melainkan menjadi perkembangan pencapaian film yang harus lebih baik lagi. Dan sebagai kacamata seorang muslim, saya berharap akan lebih banyak lagi produksi film yang punya nilai islami, meneruskan dakhwah rasulullah.

Last, jaya dan dukung terus perfiman Indonesia(:

Jumat, 02 Februari 2018

Hari ini 1 Januari 2018. Udah seminggu film Dilan 1990 tayang di bioskop. And guess what, baru hari ke 7 tayang, penontonya sudah mencapai 2 juta lebih. Selamat tim produksi Falcon beserta para kru dan pemainnya. Buatku ini merupakan sebuah rekor sih. Rekor untuk film yang merupakan adaptasi dari sebuah novel. Juga rekor untuk film bergenre remaja SMA. Film Dilan cukup booming dengan berbagai memenya tentang beberapa dialog dan adegan yang ada di film ini. Aku tidak akan membahas beratnya rindu seperti yang ada pada dialog. Namun jangan hujat aku karena kesibukanku, sampai detik ini aku belum juga nonton filmnya. Honestly, i excited enough to waching this movie.

Terlepas karena film Dilan dosis bapernya tinggi, apalagi karena pemain utamanya itu Iqbal Ramadhan. Ada keinginan nonton Dilan karena udah pernah baca ketiga novelnya karya Pidi Baiq. Kalau kalian team baca novelnya dulu baru nonton filmnya atau nonton dulu filmnya belum belum baca novelnya? Novel Dilan aku baca kalau tidak salah tahun 2015. I curious enough apakah filmnya cukup representatif dari segala hal yang ada di novelnya. Alasan-alasan orang nonton film di bioskop pasti beragam macam. Ada orang yang mau nonton sebuah film, tapi tidak termotivasi untuk menontonnya di bioskop. Jadi nunggu filmnya tayang di TV atau keluar di bioskop online aja gitu. Berikut lima alasan orang-orang yang nonton film di bioskop.

1. Film yang di adaptasi dari novel. 

Kebetulan aku adalah salah satu orang yang sering menonton film dari adaptasi novel yang udah ku baca. Film pertama yang ku tonton itu film Laskar Pelangi. Laskar Pelangi menurut tante wikipedia, termasuk kategori film dengan penoton terbanyak yaitu sekitar 4 jutaan. Novel yang aku baca waktu SD itu, aku tonton sebanyak dua kali pas SMP.  Film ini masih menginspirasi sepanjang hidupku. Mulai dari ceritanya, pemeran-pemerannya bahkan lirik lagu soundtracknya. Ah, jadi mau nostalgia dengan mimpi-mimpi kecil jaman SMP.

Tante Wikipedia
2. Memiliki kesamaan dengan film tersebut.

Akhir tahun 2016, aku nonton film Negeri Van Orange dengan alasan utama udah baca novelnya beberapa bulan lalu. Gak menyangka banget kalau mau di film-in. Alasan aku nonton film itu sebagai nostalgia karena latarnya mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Jadi mengingat jaman sempet tinggal di negara tulip dulu. Waktu itu aku juga pernah review filmnya di sini. So orang bisa termotivasi untuk nonton sebuah film mungkin karena memiliki kesamaan dari segi pengalaman. Seperti mantan-mantan santri mungkin akan memutuskan untuk nonton Cahaya Cinta Pesantren.

3. Suka sama genrenya atau Aktor pemainnya bagus

Gak jarang, orang akhirnya memutuskan menonton sebuah film di bioskop karena yang main salah satu artis idolanya. Beberapa kali aku denger curhatan temen, yang rela-relain nonton sebuah film karena ada Herjunot Alinya. Atau karena ada Reza Rahadiannya. Banyak juga orang yang tertarik dengan sebuah film karena menaruh attention pada film tersebut. Sebab bergenre thriller, horor, komedi, romance, islami, action,atau animasi mungkin. Ada satu film bergenre islami yang menginspirasi banget buat aku. Ada yang masih inget film Iqro? film garapan masjid Salman ITB yang melibatkan tentang membaca Al-Qur'an. Masih inget banget kebetulan waktu itu lagi ada masalah, setelah nonton film itu entah kenapa jadi menemukan pencerahan.

Berhubung suka sejarah, aku jadi tertarik dengan film dokumenterThat's why aku juga sering nonton film yang memang di angkat dari kisah nyata di masa lalu. Film-film sejarah yang pernah ku tonton itu, Sang Pencerah; sejarahnya Muhammadiyah. Juga kisah presiden kita Pak BJ.Habibi, dari jaman masih kuliah sampai nikah dengan almarhumah ibu Ainun. Ah sama ini film Dibalik 98, latar tempat dan suasananya menggambarkan sejarah banget pas ricuhnya rezim Soeharto 1998. Di balik 98 termasuk film yang kutonton sebanyak dua kali di bioskop. Tentu dengan temen yang berbeda.

4. Sensasi nonton bersama-sama

Ada sebagian orang yang kurang bisa nonton sendiri. Seakan lebih nyaman untuk menonton bersama di bioskop. Pun dengan orang-orang yang tidak di kenalinya. Katanya sih feelnya lebih dapet daripada nonton sendiri di rumah dengan laptopnya. 

5. Refreshing atau nemenin temen

Pas jaman kuliah, pernah nonton film Supernova,  Now You See Me 2, Spiderman, Assalamu'alaikum Beijing dan Koala Kumal cuma karena iseng aja cari hiburan. Refreshing dari rutinitas yang penat dan kadang membosankan. Nonton film Hangout pun cuma sebatas nemenin adik. Iya, nonton film luar pun aku cuma sekedar iseng aja. Of course manfaat dari nonton iseng bisa di jadikan bahan pembicaraan biar makin nyambung ngobrol sama temennya. Berdasarkan riset kecilku di Instagram, orang pergi nonton ke bioskop lebih banyak dengan alasan ini ketimbang karena suka genrenya. It means kita gak bisa pungkiri kalo nonton film di bioskop merupakan salah satu bentuk hiburan masyarakat Indonesia.



Padahal ujung-ujungnya juga bakal tayang di TV, tapi mungkin alasan di atas bisa membuat orang  tidak sabar menunggu filmnya keluar di bioskop online. Ada satu alasan terakhir kalau dari aku, why finaly i decided to watching a movie in cinema? Demi mendukung dunia perfilman Indonesia. Klasik sih emang hehe. Berhubung dulu pernah bercita-cita jadi sutradara film walaupun sekarang engga lagi. I only be a movie observer. Tapi niatan untuk coba bikin film tetep ada. Bolehlah kalau ada projek film, mungkin bisa di libatkan heheh. That's why i passionate enough to editing video.
Anyway, Kalau kalian nonton film di bioskop karena alasan nomor berapa? Atau ada yang punya alasan lain mungkin. Tell me below the comment :)


Senin, 22 Januari 2018

Alhamdulillah, 15 Januari 2018 kemarin aku baru aja memenangkan Juara dua Hiburan Lomba blog dari dompet dhuafa. Jujur ini pertama kalinya ikut kompetisi blog ini. Aku bersyukur banget bisa menjadi salah satu pemenang, meskipun bukan pemenang utama. Biasanya cuma ikut lomba tulis cerita aja. Sebelum mulai nulis, aku searching dulu karakteristik pemenang seperti apa. Selain pastinya mengikuti syarat dan ketentuan, juga harus ada infografik atau gambar pendukungnya sebagai ilustrasi sebuah tulisan.

Pengumuman Pemenang di Dompet Dhuafa

Entah ini yang ke berapa kalinya, aku merasa kalo jadi content creator dengan media blog itu rupanya gak semudah yang ku kira. Padahal yaa hanya modal nulis doang kan ya. Tapi kenyataanya gak sesimpel itu. Selain kita harus mempertanggung jawabkan apa yang kita tulis. Kita juga perlu berpikir keras dengan memperhatikan relevansi tulisan kita.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan tulisanku, aku menemukan banyak hal yang ada pada sang juaranya. Namun tidak kutemukan pada tulisan blogku. Well, i would like to review juara 1 dan juara 3. Kenapa juara 2 enggak? Karena buatku, juara 2 memang sudah bagus dari segi kontennya. Juara pertama dan juara ketiga sudah memiliki domain sendiri yaitu www.dudukpalingdepan.com dan joecandra.com. Jadi menurutku inilah 5 alasan mengapa mereka pantas dan layak untuk menang.

1. Redaksi yang di pakai ringan dan enak di baca. 

Runutan tulisan tidak langsung serta merta membahas topiknya, tapi menceritakan pengalaman atau kisah pribadi mereka. Yang which is ini related banget menurutku sama pengalaman kebanyakan orang. Juara pertama awalnya menceritakan semasa kuliahnya dulu akif dalam lembaga kemasyarakatan, lalu setelah mempunyai keluarga tetap menjadi relawan namun berupa donasi. Sedangkan juara ketiga berawal dari salah jurusan saat kuliah, lalu berkiprah di UKM untuk mengembangkan passionnya. Berkat passionnya dalam UKM, dan modal salah jurusan ini justru menjadi bahan untuknya mengajar dan menjadi relawan untuk banyak orang. Yang tulisan juara 3 aku ini aku suka banget sih, karena alur tulisannya gak ngebosenin. Dari menceritakan tentang pendidikan sampai bercerita dengan jelas mengenai Dompet Dhuafa. Di sini aku ngerasa udah beda banget sih, karena tulisanku gayanya jurnalis banget. Jadi agak kaku gitu kesannya

2. Banyak foto dan infografinya. 

Of course rupanya foto-foto dan ilustrasi yang ku tampilkan belum cukup untuk menjelaskan secara gamblang apa yang ku maksud.

Desain Ilustrasi yang di pakai Juara Pertama

Lucu ya, ini desain medsos Dompet Dhuafa yang di bikin sama Juara pertama
Gambar Ilustrasi juara 3

3. Tulisannya sangat informatif dan kaya akan data dan nilai-nilai. 

Hal ini menunjukkan bahwa tulisannya sangat edukatif. Dengan memasukkan nilai-nilai, maka tulisan bisa di ambil pelajaran atau hikmah yang cukup besar oleh pembaca.

Data mengenai pendidika oleh juara 3


Survey data donasi dari juara 3
 Adapun nilai-nilai yang di sisipkan ke dalam tulisan di lihat dari quotes-quotes, misalnya seperti yang terdapat pada tulisan juara 3 ini. Seseorang akan di kenang dan di ingat oleh orang lain ketika orang tersebut memiliki nilai. Quotes ini di sisipkan dalam menjelaskan mengenai Hero Zaman Now.  

Atau yang seperti juara 1 katakan ini
Relawan tak di bayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai. Kalimat ini ia tambahkan setelah menceritakan beragm banyak manfaat dan keuntungan yang ia dapat setelah menjadi relawan sosial.
 
4. Sangat menonjolkan program-program dan bagaimana dompet dhuafa bekerja. Tuh gimana gak bisa jadi juara, kalau selengkap ini.
Juara 1

5. Mendefinisikan Dompet Dhuafa dengan redaksi sendiri yang mudah di ingat. Sebagai closing penulis blog ini lagi-lagi juga melibatkan dompet dhuafa yang di sesuaikan dengan tema tulisannya.

Dompet Dhuafa memang benar-benar solusi kekinian yang memudahkan generasi milenial dalam membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menangani kemiskinan. -Juara3.

Keren-keren ya program Dompet Dhuafa, bukan hanya banyak programnya tapi terstruktur dan tepat sasaran. Lembaga seperti ini cocok sekali untuk kita yang bekerja, sibuk mengurus keluarga, dll sehingga tidak sempat turun langsung sebagai relawan. -Juara 1

Dari kelima hal di atas buat jadi pelajaran aku banget, untuk ke depannya lebih lengkap, informatif dan edukatif lagi. Semoga bermanfaat. Silahkan buat kalian yang mau ikutan lomba blog, bisa diterapkan 5 hal di atas tadi. But this is my version of review their blog. Mungkin kalian kalau sudah baca tulisan mereka menemukan lagi alasan lainnya sebagai bukti kelayakan pemenang. Sampai ketemu di postingan selanjutnyaaaa