Minggu, 26 Februari 2017

Maimunnah dalam kesendiriannya
  Diakhir zaman seperti sekarang, banyak kawla muda yang sering sedih dengan status 'Single'nya. Perkembangan pergaulan zaman sekarang membuat kebanyakan remaja dengan berbagai latarbelakang memiliki keinginan untuk mempunyai kekasih. Katanya sih guna menghilangkan kesendiriannya, membahagiakan hidupnya dan menemani kesehariannya. Tapi, apakah menjadi 'Single' adalah sebuah pilihan hidup yang buruk? Penasaran kan apa jawaban mereka. Simak berikut jawaban wanita-wanita single yang nyaman kesendiriannya. Ohya nama-nama yang ada dibawah ini hanyalah nama samaran. Bukan nama sesungguhnya. Silahkan menikmati :)
Apa di benakmu kalo mendengar kata single?  
Rani: Belum menikah
Aisyah: Jomblo. Yang suka doain ujan pas malem minggu, jomblo ngenes sih itu.
Mbak Kirana: Single itu satu, satu itu sendiri, sendiri sepi. Ah ga juga kok :))
Maimunnah: Single itu bukan sendiri. Single itu bareng keluarga dan saudara. Single itu bisa berduaan sama Allah (:
Dinda: Kata yang bisa digunakan para jomblo untuk membela diri dan menyebut dirinya single biar lebih keliatan elegan

Kamu merasa hidupmu dipenuhi dengan kesendirian?

Rani: Tidak. Allah selalu bersamaku
Aisyah: Enggaklah, kan punya temen, sahabat, saudara, keluarga, dan Allah sih pastinya eaa
Mbak Kirana: Emng kalo dalam hidup ada 1 pria yg selalu ngisi hari2 kita, akan beda rasanya? Aku punya banyak sahabat kok :))
Maimunnah: Tidak. Karena kemana2 ada malaikat kanan kiri.
Dinda: Engaa doong, ada banyak orang di sekitar kita yang selalu membuat tersenyum dan menangis seperti, orang tua, keluarga, sahabat, dan ada banyak hal yg di lakukan.

Tapi pernah ngerasain punya pasangan, a.k.a kekasih?

Rani: Pernah
Aisyah: Pernah
Mbak Kirana: Pernah.
Maimunnah: Belum. Nanti aja setelah "Sah"
Dinda: Pernah. Beberapa tahun lalu, udah lama banget

Apa yang kamu rasain pas punya pasangan? Lebih bahagia atau lebih sedih dibandingkan saat kamu sendiri?

Rani: Lebih bahagia sendiri
Aisyah: Kalo sedih atau senengnya sih sm aja gak ada bedanya, tapi sedihnya org pacaran ga mutu banget gak sih? Alay aja sekarang klo ingetnya. Kalo yang d rasa pas punya pasangan sih was was ya takut org tua tau
Mbak Kirana: Biasa aja si, karna waktu itu pacarannya cuma main-main doaang, ntah kalo serius(?)
Maimunnah: Kayaknya ribet, semua harus dibagi~
Dinda: Jika kita punya pasangan kita mempunyai kebahagiaan tersendiri dan rasa kesedihan bahkan marah, sedangkan dengan status single kita mempunyai rasa bahagia yang berbeda, kesedihan yg berbeda pula. Bahkan terkadang adakalanya merasa lebih bahagia jika kita sendiri

Pernah merasa sedih gak dengan 'ke-single-an' yang kamu jalanin?

Rani: Ngga sih. Keep husnudzon with Allah
Aisyah: Pernah sih kalo lagi sendirian di kontrakan karena anak2nya pada malem mingguan. Untungnya masih bs main hape, nonton youtube jadi udah terhibur lagi
Mbak Kirana: Pernah sih. Kadang ngerasa pengen punya pacar biar ada yg bisa diajakan jalan2 berdua tanpa takut ada org lain yg marah, pernah merasa ingin ada yg merhatiin juga, ngelindungin, bikin kita jadi spesial deh pokoknya
Maimunnah:  Pernah sih. Makanya berusaha menyibukkan diri untuk kebaikan, kalo ngga bisa2 terjerumus dalam hal 'kotor' itu
Dinda: Sedih sih engga. Paling ada rasa "Ah gue pengen deh punya pacar" tapi setelah dipikir2 hanya sekedar keinginan yg ga mau di wujudin aja 

Suka iri gak sama orang-orang yang punya pasangan?

Rani: Ngga sih. Sendiri lebih baik
Aisyah: Kadang. Apalagi klo malem2 liat temen gue suka dapet makanan gitu dari pacarnya, tp abis itu biasa lagi, kan gue kedapetan makanannya juga wkwk. Atau pas lagi dirayain ultah, tp gue kan punya temen yg suka ngerayain ultah gue juga, jd ga ngiri lagi
Mbak Kirana: Kadang2. Karna ngerasa kita gabisa kaya mereka. Cuma yaaa kalo diratapin terus ga akan ada habisnya :"
Maimunnah: Enggak sama yg belum halal mah~
Dinda: Iri sama beberapa pasangan sih, apalagi pasangan yang kemungkinan itu jodohnya dia dan udah persiapan mau nikah 😔

Apa yang kamu rasain dalam ke-single-an kamu? Pernah merasa terpuruk?

Rani: Biasa aja
Aisyah: Enggaklah, enak malah temenan sm siapa aja bisa.
Mbak Kirana: Terpuruk banget engga, cuma gimana ya? Kadang kalo lagi sendirian tuh suka mikir "coba punya cowo, pasti bla bla bla..."
Maimunnah: Jangan lebay ah
Dinda: Engga dong, karna pernah merasa terpuruk dikala pacaran jadi lebih bahagia dong kalau single haha 


Pendapat kamu apa buat generasi muda yang suka sedih dengan ke-single-annya?

Rani: Kalem. Allah punya waktu terbaik
Aisyah: Gausah alay deh. Doa aja yg banyak biar dipertepat jodohnya dan waktu
Mbak Kirana: Yaelah lu ga bakal mati, main aja yg jauh, cari banyak temen, nanti juga lupa sendiri kalo jomblo
Maimunnah: Sedih kenapa sih? Banyak orang yg butuh kebermanfaatan kita lho ;)
Dinda: Ngapain sedih sih, dengan single lo dapat melakukan hal2 yg mungkin gak lo dapet di masa pacaran, dengan menjadi single lo bisa mempersiapkan banyak hal untuk menjadi dewasa. Jalani aja selagi lu masih sendiri dan belum dikekang sama sidia "terutama bagi wanita yang kodratnya harus mengikuti suami"

Apa pesan kamu buat orang2 single di luar sana?

Rani: Fokus perbaiki diri aja dulu
Aisyah : Gausah sedih, gausah ngerasa gak laku, pacaran ga seenak yg di bayangin
Mbak Kirana: Lakuin yg terbaik ajaa biar dapet yg baik jugaa
Maimunnah: Nikmati masa sendiri, manfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi buat calon ibu ;)
Dinda: Yuk berbenah diri, persiapkan diri menjadi lebih baik sehingga bisa menemukan pasangan yang ideal.
Kalau pesan kamu buat calon pasangan hidupmu kelak?

Rani: Jaga shalat dan Alqur'an
Aisyah: Belajar yg bener, sholatnya jgn pernah ditinggal, tahajud dhuha nya di tingkatin, sekarang sama2 usaha perbaikan diri dulu
Mbak Kirana: Di sini aku lagi berusaha untuk menjadi baik, semoga kamupun begitu :"
Maimunnah: Semangat selalu berbagi denganku 
Dinda: Jaga pandanganmu yaa dari hal2 yang nggak nggak, ttp jaga hatimu untuk cinta sejatimu


The conclution is many woman more happier than she have a couple. Disaat banyak wanita yang terpuruk dengan ke-single-annya, masih banyak juga wanita yang berprinsip untuk tidak mempunyai pasangan sampai 'saatnya' nanti. Status 'Jomblo Sampai Halal' yang disandang membuat mereka percaya bahwa seseorang yang baik untuk pasangan yang baik pula. Berbenah dan meningkatkan kualitas diri menjadi pilihan terbaik untuk para kaum single. 

Selain karena dilarang dalam islam pada surat Al-isra ayat 32 yang berbunyi: Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk, ketidak-single-an/pacaran termasuk juga hubungan tanpa status adalah hal yang berdampak negatif untuk studi kita, perilaku keseharian kita, dan tentunya mempengaruhi ketaatan kita pada Allah juga orangtua. Wajar bila setiap orang mempunyai kisah masalalu dengan seseorang lawan jenis yang ia kasihi. Tetapi yang terpenting adalah pilihan hidupnya yang sekarang, yang menjadikan status 'single' ialah bukti ketaqwaan dan kecintaannya terhadap sang pencipta. 


By the way buat yang (lagi) gak single, apa kalian yakin bahagia bersama kekasih kalian dengan menjalakankan larangan yang maha kuasa?

Jumat, 24 Februari 2017

Hijrahku di Berlin.
Oleh Shofiyah Najiyah

Pstt jangan tanya siapa modelnya ehe
Kulangkahkan kaki menyusuri pertokoan Kottbusser Tor. Kurapihkan sedikit hijab yang sudah setahun ini menemani hidupku di Jerman. Kottbusser tor adalah bagian dari Kreuzberg Jerman. Daerah ini banyak ditempati oleh orang turki dan arab. Jadi tidak heran di sebelah kanan dan kiri jalan banyak terdapat kafe-kafe halal.

Kakiku berhenti di depan toko makanan arab. Membaca menu-menu baru di depan toko kebab. Tiba tiba aku mendengar ada yg memberikan salam dari belakang. Reflek aku menjawabnya dan menengok ke belakang.  Seorang ibu-ibu yang sepertinya asal turki menyalami dua perempuan di hadapannya. Rupanya Ibu tersebut hanya menyalami perempuan yang memakai hijab.

"Wo komms du her?"
"Ich komme aus Malaysia." Muka ibu itu terlihat sumringah. Tak hanya disalami, wanita berhijab itu juga hendak dipeluknya.
"Ahh Malaysia. Was machst du?"
"Ich bin eine studierende."

Ibu asal turki tersebut hanya tersenyum dan mengangguk kecil ke arah perempuan yang tidak memakai hijab.
Kejadian tersebut sama persis dengan kejadian yang pernah ku alami. Saat jalan berdua teman yang memakai hijab, mereka, orang-orang turki di Jerman hanya menyalami temanku yang memakai hijab. Mereka tidak memberikan salam kepadaku. Mungkin hal itu tidak akan terjadi, jika waktu itu saya memakai jilbab juga. Karena dia pasti tidak mengetahui jika saya seorang muslim. Betapa indahnya islam. Diberi salam oleh orang-orang yang berbeda negara dengan kami, tapi ternyata kami bersaudara.

Dari Kottbusser Tor aku menaiki U-Bahn menuju jembatan dekat Der Fernsehturm yang dulu sering aku kunjungi.  Berlin di sore hari memang memukau. Dan menikmati matahari terbenam di Jerman diatas jembatan ini adalah hal yang suatu saat nanti akan kurindukan bila tidak tinggal di Jerman lagi. Bagiku jembatan ini adalah jembatan kenangan. Jembatan yang menjadi saksi bisu berakhirnya kisahku dengan seorang mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tinggal di Hamburg.

"Bist du Diana?" Aku mengangguk.
Hari pertama aku mengenakan hijab dihadapan Paulus, ia sedikit terkejut. Diam melihatku dari ujung kaki sampai kepala. Saat itu pertama kalinya aku terserang grogi dan ketakutan yang amat dalam saat bertemu Paulus. Teman dekat yang menemaniku selama tiga tahun tinggal di Jerman kini merasa asing dihadapanku. Selama beberapa menit saat itu kita tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Wie geht es dir?"
"Mir geht es gut Paul."
Aku masih ingat saat itu aku sudah begitu yakin dengan pilihanku.
"Maafin saya ul. Ada banyak hal yang terjadi pada saya yang bikin saya sadar bahwa hidup itu bisa berakhir kapan aja. Dan saya ga bisa menunda keinginan saya lagi untuk berhijrah. Saya gabisa membayangkan hidup saya selanjutnya tanpa datangnya hidayah dari Allah."

Penjelasan saya waktu itu buat Paulus mengerti. Dinding keyakinan kita semakin terlihat jelas berbeda. Paulus menghormati keputusanku. Besar harapannya agar aku tetap bisa mengisi kehidupannya. Namun dengan segenap usahaku, aku menolaknya dengan halus. Senja saat itu terasa begitu sesak dan berbeda. Perpisahan yang menghasilkan pertemanan antara aku dengan Paul sebatas teman seperjuangan dari Indonesia di Jerman.

Sudah genap satu tahun rupanya. Dulu diatas jembatan ini sering kami habiskan waktu bersama. Menikmati senja, menemaninya mengamen dengan gitar kesayangannya atau sekedar menikmati suguhan musik dari pengamen lainnya. Butuh banyak perjuangan dalam menempati pijakan pilihanku yang sekarang. Aku tidak ingin agama yang menjadi keyakinanku hanya sebagai formalitas saat aku terlahir di dunia, saat menikah dan saat aku wafat nanti.

Hidup di Jerman membuatku banyak berpikir. Mendapatkan hidayah untuk berhijab. Meninggalkan Ikhtilat dan menjaga hubungan dengan lawan jenis. Bisa dikatakan bahwa mungkin dengan ketiadaan takdirku di Jerman, aku belum mendapatkan esensi dalam beragama itu sendiri. Menengadah ke langit, aku berharap segala hal yang aku pilih adalah yang sesuai dengan koridorNya. Dan tentu saja berpisah dengan orang yang kita sayangi bukan berarti berhenti mendoakan. Selalu kuselipkan do'a agar Paulus menjalani hidup yang lebih baik dan  diberikan Allah hidayah untuk memeluk apa yang kuyakini.

Terjemahan
Wo komms du her?: Where do you come from?
Ich komme aus Malaysia: i'm from Malaysia
Was machst du?: What do you for living?
Ich bin eine studierend: I'm a student here.
Bist du Diana?: Are you Diana?
Wie geht es dir?: kamu kenapa?
Mir geht es gut: aku baik2 aja kok

I know my germany still making mistakes. I just wanna trying some different chase. Opening suggestion everytime. By the way this flash fiction, i copied from Forsad's website. Auf Wiendersehen :)
Dimanakah dirimu saat kitab sucimu dinistakan? Islam adalah identitas yang sangat melekat jauh tidak hanya sampai kita wafat. Di negara manapun pijakan kaki berdiri, Al-Qur'an tetap menjadi kompasnya kehidupan umat islam. Kerealistisan tidak berlaku, jika syariat islam tidak ditegakkan, jika perihal aqidah yang jadi pertimbangan. Logika sudah bukan tolak ukur, jika Al-quran adalah harga akhirat. Segala macam bentuk kesuksesan duniawi, tidak bisa menjamin tujuan inti kehidupan. Sesunggguhnya di dunia inilah sedang kita bangun surga di akhirat. Karenanya, 4 November aku akan turun, sebagai bukti islam agamaku dan al-Quran pedoman hidupku. 
Kira-kira itu tadi yang aku tulis, beberapa hari menjelang Aksi bela Islam 4 November 2016. Keinginanku cukup besar untuk hadir di aksi tersebut. Aksi Bela Islam Jilid II yang menuntut si penista agama segera dipenjarakan. Hati dan aqidahku terusik, kitab suci Al-Quran yang kuhafal, yang berusaha kuamalkan, kitab pedoman hidup umat dilecehkan terang-terangan. Tapi hukum lamban untuk memproses keadilannya. Padahal sebagai bukti bahwa kita adalah bangsa beradab dan cinta damai, kita perlu menegakkan keadilan dan supremasi hukum.

Awalnya rasa sedih dan kesalku belum pada tingkatan saat ini. Namun hatiku tersentuh melihat postingan snapgram temenku yang dari Jogja berangkat aksi H-1. Kalo gasalah dalam postingannya itu, dia ngejelasin kalo dia ridha ikhlas apapun yang terjadi nanti pas aksi yang akan dijalaninya. Dia gak tau apa dia bisa balik lagi kembali ke Jogja setelah aksi ini. Yang dia tau, dia balik ke Jakarta untuk membela agamanya, untuk menjadi mujahid di JalanNya.

 

Video tersebut diambil oleh temenku dari Forsad yang turun aksi. Seharusnya aku juga ada disitu menggelorakan takbir:') Teramat sedih, pada hari itu Jurusanku lagi akreditasi yang mengharuskan semua mahasiswa ikut serta. Dan pulangnya abis dzuhur mungkin sebenernya masih bisa, tapi temenku ngajak buat ngurus observasi dulu ke sebuah perusahaan. Sepulangnya aku hari itu, aku bersedih menangis tidak bisa ikut turun. Aku mau bela agamaku juga. Aku mau al-Quran yang kubela di dunia ini, bisa membelaku kelak diakhirat.

Setelah aksi bela islam Jilid II ini, alhamdulillah ada lagi Aksi Bela Islam Super Damai Jilid III hari Jumat 2 Desember 2016. Aksi yang terkenal dengan Aksi 212 ini buatku sangat istimewa. Kenapa? karena beretepatan dengan ulang tahunku yang ke 21 :")) Allah maha baik. Hari lahirku yang ke 21 dirayakan dengan doa bersama 7,4 juta umat muslim dari seluruh penjuru di Monas, Jakarta. Aksi yang bener-bener damai dan tentram, yang membuat banyak orang bergidik dengan kekuatan umat islam, supaya Hukum ditegakkan. Supaya Allah mengabulkan doa kami. Aksi yang bersejarah untuk kaum muslimin di Indonesia. Gak merusak tanaman. Gak ada sampah bertebaran. Semuanya dipungutuin sama peserta aksinya. Aksi yang dirahmati Allah karena hujan turun saat peserta aksi sedang menjalankan ibadah shalat jumat.Ya Allah aku juga mau bagian dari mereka :')

Yang lebih bikin aku terharu, adalah rombongan dari Ciamis yang jalan kaki ke lokasi aksi di Jakarta. YaAllah setiap langkah yang kita jalanin ke tempat sholat aja dinilai pahala olehMu. Sebesar apa pahala dan keikhlasan hambaMu yang kuat jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. HambaMu ini malu yaAllah, hamba yang tinggal juga di Jakarta belum bisa ikut juga ke aksi tersebut.
MENAKJUBKAN !!! Video Pemandangan Udara 7 Juta Orang Aksi 212 di Monas!
Sumber disini

Lagi-lagi Aku tidak bisa ikut aksi karena kuliahku yang absennya sudah diujung tanduk. Sedih sih, tapi yaa mau gimana lagi. Di aksi 212 ini, alhamdulillah Umiku bisa ikut turun menjadi bagian dari mereka. Sempet terlintas di pikiranku, nanti kalau aku sudah jadi seorang ibu nanti. Lalu anakku bertanya kepadaku. Sedang dimanakah Ibu saat Aksi bersejarah itu terjadi? Aku malu jika harus jujur karena aku sibuk dengan kuliahku. Sibuk dengan duniaku. Doaku, sebelum wafatku Allah mengizinkan aku untuk turun ke medan juang dalam membela agama dan KitabNya.

Alhamdulillah Allah mengabulkan do'aku. Aku ikut Aksi doa bersama di Masjid Al-Istiqlal, hari Sabtu tanggal 11 Februari 2017, atau yang sering dikenal dengan kode Aksi 112. Karena dari Forsad gak turun secara formal bersama-sama, aku ikut serta bersama rombongan ibu-ibu ODOJ. Paginya, aku sempet galau karena di Jakarta paginya hujan cukup deras. Karena dari Rawamangun aku berangkat sendiri, jadi aku harus memesan Transportasi Online biar gampang kesananya. Sedihnya, tak ada satupun driver yang mau menerima pesananku:( Sampai akhirnya terimakasih Bapak Jamal Mu'minin telah mengantar saya ke area sekitar aksi di Al-Istiqlal.

Di jalan aku terharu dengan cerita Bapak Jamal yang tinggal di Kampung Melayu ini. Ternyata anaknya Pak Jamal yang masih SMP juga ikut aksi 112. Bahkan udah menginap dari semalem di Masjid Al-Istiqlal. Pak Jamal di jalan sedikit mengungkapkan kemarahannya dengan si penista agama. Kalo gak salah dia bilang Lihat Mbak, hujan ini rahmat dari Allah. Hujan yang Allah turunkan menjadi berkah bagi peserta aksi hari ini. Dahsyat ya mbak umat islam itu. Hari ini umat islam berkumpul lagi membela al-maidah ayat 51. Anak saya aja ikut aksi.

Belum sampai si lokasi, aku harus pakai jas hujan karena hujannya makin lebat. Sampai daerah Pasar Senen, aku ngelewatin peserta aksi juga yang lagi jalan kaki ke Istiqlal. Aku liat anak kecil juga ikutan aksi ditemani orangtuanya. Derasnya hujan tak menyurutkan mereka dalam menggelorakan takbir kepada Allah. Saat itu juga air mataku berlinangan seiring dengan percakapan bersama Pak Jamal. Ya Allah Permudahkan langkah kami berjuang di jalanMu.
Di depan Masjid Al-Istiqlal
Sesampainya aku di depan Majid Ail-istiqlal, kawasan daerah Al-istiqlal sudah dipadati oleh para peserta aksi. Tentu aku sangat senang dan penuh haru. YaAllah akhirnya hambaMu ini bisa menjadi bagian dari mereka, mujahid dan mujahidah yang membela agama, al-quran dan ulama. Berjalan menuju pintu al-fattah dan berakhir berdzikir di dekat kali. Ya disitulah tempatku, akhirnya memanjatkan sholawat dan dzikirku kepadaNya. Tausyiah yang para habaib dan ulama sampaikan membuatku tak sedikit menitikkan air mata.

Benar yang disampaikan teman-teman dan yang ada si sosial media, para peserta aksi datang tidak diinisiasi oleh partai-partai politik. Aksi yang selama ini dilakukan oleh umat islam, bukan perihal pilkada atau politisasi. Para peserta aksi pure murni ingin membela agama dan alquran. Kulihat raut-raut ketulusan mereka. Senyum yang mereka lemparkan satu sama lain. Kami hanya ingin hukum ditegakkan seadil-adilnya. Kalian bilang pasukan nasi bungkus? siapa yang rela mengobarkan hartanya unttuk membiayai jutaan umat untuk turun. Bahkan di aksi 212 dan 112, uang pun sudah tidak ada nilainya. Makanan dan minumann dibagikan secara gratis. Banyak orang muslimin yang menginfakkan sebagian hartanya untuk aksi hari ini.

Sering aku temukan oknum-oknum lain, tak terkecuali oarng islam sendiri mengatakaan "masyarakat jakarta dan penegak hukum gk boleh di tekan begini terus, aktifitas warga Jakarta juga terganggu kali" atau "Alquran gk perlu dibela tong, urus diri sendiri aja pada belum becus malah bela2 alquran, MASIH PADA PUNYA DOSA KAN???" atau "Ente dari daerah yang nyampah naik bus kemari? dapet honor berape tong? jangan lupa bapa ibu di bagi2 ya, hehe"  Astagfirullah, kalau tak ada ilmu dan bukti mending jangan ngomong tong. Beropini juga mesti ada landasannya kali:(

Wahai saudaraku tidak selamanya kita mencari keuntungan lewat dunia, mengindahkan dunia dan mementingkan kepentingan duniawi. Kontribusi kita mengikuti aksi atau menyedekahkan harta kita untuk donasi aksi adalah salah satu cara untuk mengambil keuntungan di akhirat. Toh hidup di dunia ini cuma sebentar kok. Yang kekal kan hidup di akhirat. Sesungguhnya yang sedang kita bangun adalah surga kita di akhirat. Buat apa dunia kita bikin indah dan megah, tapi amal kita hidup di dunia tidak bisa mengindahkan hidup kita nanti di akhirat. 

Dan disinilah kita membela surat Al-Maidah ayat 51. Mengapa kita harus membela agama dan kitabNya? Bukankah Allah maha besar dan penuh kuasa atas segala sesuatu? justru itu Allah maha kuasa untuk membolak-balikkan dunia ini. Allah ingin menguji kita sebagai hambaNya, seperti yang dikatakan Allah dalam kitab suciNya:
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا Ø¥ِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللَّÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ Ø£َÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukannya."
Ya Allah semoga apa yang umat islam lakukan pada aksi 411, 212, 112 dan aksi apapun yang diniatkan untuk membela agama dan kitabMu, dapat menjadi saksi di akhirat kelak terlebih untuk HambaMu yang hina ini. Inilah bukti real kami mencintai dan tulus membela agamaMu. Kami hambaMu datang insyaAllah selalu berkumpul dalam ketaatan. Tidak ada yang paling bernilai di dunia ini dibanding keridhoan Allah kepada kita. Matikanlah kami dalam Syahid di JalanMu. Engkaulah sebenar-benarnya pelindung dan pembela.

Check it her blog too!

Senin, 12 Desember 2016

Image result for budaya mencontek
Sumber Gambar Ini
Salah satu budaya buruk pelajar Indonesia adalah menyontek. Mencontek menurut bahasa arab disebut dentan ghish (الغش) dan khadi'ah (الخد يعة) yang berarti tipu daya. Adapun pengertian dalam bahasa inggris cheating memiliki makna asal dari menipu, memperdaya, berperilaku tidak jujur dan melanggar aturan secara sengaja. Media mencontek bisa lewat teman, gadget atau buat kertas contekan sendiri. Budaya yang satu ini amat sangat mendarah daging di Indonesia. Dari kalangan pelajar, tenaga pengajar, bahkan pejuang skripsi, tesis dan disertasi ikut melestarikan budaya menyontek.

Penyebab terbesar pelajar Indonesia untuk menyontek adalah tidak belajar. Dikarenakan malas buka buku, malas belajar dan malas buat berusaha. Kalaupun mereka sudah belajar, dan ada soal yang mereka gabisa jawab, maka mereka akan menyalin jawaban teman atau serching di internet. Motivasi pelajar Indonesia untuk menyontek tak lain adalah mengejar nilai setinggi-tingginya. 
Mayoritas pelajar bahkan meyakini bahwa nilai adalah segalanya. Nilai yang bikin lulus ujian, nilai yang bikin keterima di PTN favorit atau nilai yang bikin kita diterima di seleksi administratif pekerjaan. Buat mereka bukan cara yang terpenting, melainkan hasilnya. Jika dikaitkan dengan ilmu psikologi, budaya mencontek ini di latarbelakangi oleh bagaimana orangtua dan guru mendidiknya, lingkungan, dan nilai-nilai yang dianut. Ketiga hal tersebut yang menjadi tombak dari pilihan menyontek.
Kebanyakan dari pelajar Indonesia melupakan bahwa "Nilai-nilai yang terkandung dalam amal kita, sama usaha yang dinilai oleh Allah SWT jauh lebih penting daripada nilai kuantitatif di kertas." Urgensi amal kita jauh lebih penting dari nilai yang kita dapat dari hasil mencontek.
Allah Maha melihat, Allah Maha mengetahui. Sekecil apapun perbuatannya kita akan diminta pertanggung-jawabannya sama Allah di Yaumil Akhir nanti. Sesepele apapun, sesederhana apapun, termasuk perilaku contek-mencontek ini. Dari kebanyakan orang yang memelihara budaya ini, adapula yang sudah berprinsip untuk tidak mencontek dan memberikan contekan. Lantaran sudah susah-susah belajar, dan semudah itu orang-orang menyalin hasil jawaban kita. 

Buat aku sendiri, ujian menjadi tolak ukur atas pemahaman kita terhadap materi yang selama ini didapatkan. Dan nilai yang menjadi posisi seberapa persen kita menguasai materi tersebut. Sejatinya kita kuliah sekolah 12 tahun dan dilanjiutkan kuliah 4 tahun, tujuannya ialah untuk menuntut ilmu dan medapatkan ridho Allah. Sesungguhnya ijazah hanyalah formalitas dalam dunia pendidikan. Yang terpenting adalah pengaplikasiannya, ilmu yang akan bermanfaat untuk diri kita, orang lain bahkan berguna bangsa ini. Lantas kalau kita nyontek, esensi mencari ilmu apa yang kita dapat selama ini, bahkan tega melakukan hal yang sejatinya tidak Allah ridhoi?

Ketakutan dengan teman kita, kalau ga ngasih contekan akan kalah dengan rasa takut kita kepada Allah. Statement nilai adalah segalanya, seharusnya bisa tersisih dengan reminder hal-hal yang tidak Allah ridhoi, dan dengan hal-hal yang menjerumuskan kita kepada liang dosa. Perasaan mengerjakan ujian hasil jerih payah sendiri tanpa mencontek dan memberikan contekan, akan jauh lebih menyenangkan daripada mendapatkan nilai hasil hasil contekan atau mefasilitasi budaya  mencontek.
Iyasih nilainya bagus, tapi kalo timbangan amal buruk lo lebih berat begimane? :(
Allah gak akan merubah takdir seseorang sampai seorang tersebut melakukan usaha dalam merubah dirinya sendiri. Mencegah kemungkaran yang paling mudah adalah mencegah melewati hati. Selama kita mengingkari bahwasanya mencontek itu adalah dosa, salah dan kita tidak memfasilitasi budaya tersebut, insyaAllah yang kita lakukan tidak terhitung dosa. Semoga budaya mencontek dan memberi contekan perlahan bisa menjamur dan  tidak diimplementasikan oleh generasi selanjutnya. Aamiin.

Jumat, 21 Oktober 2016

Umur 14-16 saya merasa tidak terlalu terbuka dengan orang tua. Diusia saya yang sekarang, saya merasa dulu di Umur saya 17-18 tahun saya mulai mencoba berontak dari hal-hal yang tidak orangtua saya bolehkan. Saya merasa terganggu apabila orangtua ngehubungin saya terus dan mengkhawatirkan hal-hal kecil. Umur 18 tahun saya merasa tidak bebas karena hal-hal kecil pun selalu dipermasalahkan dengan orangtua. Saya merasa umur 18 tahun adalah usia yang cukup dewasa untuk saya mengambil keputusan sendiri. Umur 18 tahun saya merasa cukup bisa dalam mengatur rutinitas dan hal-hal lainnya. Sedangkan pada usia 19 tahun saya sudah pasrah tidak mau ambil pusing dengan lagi-lagi ketidaksesuaian keinginan orangtua dengan keinginan saya sendiri. Dan di usia 20 tahunlah, saya baru tersadar betapa pentingnya peran orangtua bagi masa depan dunia dan akhirat saya. Mungkin ya dari dulu SMA sadar, namun tidak bisa menjelaskan secara rinci dan luas kenapa peran orangtua sangat penting untuk setiap anaknya.

Orangtua adalah madrasah pertama bagi setiap anak. The first role model bagi anak adalah orangtuanya. Di usia-usia saya sebelumnya entah kenapa saya belum percaya diri dan mampu 100% untuk menunjukkan kasih sayang dan rasa terimakasih saya kepada orangtua. Saya merasa di usia 20 tahun ini saya baru benar-benar full memberikan perhatian kepada mereka, mengikuti semua apa yang diinginkannya dan lain-lain.

Untuk ukuran mahasiswa yang jauh dari orangtuanya, dan pulang tiga atau dua minggu sekali, orangtua saya masih sangat perhatian di usia saya yang sudah mulai berkepala dua. Ketika dini hari, orangtua saya mengirim pesan singkat agar saya bangun shalat tahajud, dan masak nasi untuk sarapan. Di siang hari pun orangtua saya mengingatkan untuk segera makan siang, dan jangan sampai telat. Setelah saya pulang kuliah sekitar jam lima, ibu saya pun mengingatkan untuk membeli makan malam terlebih dahulu sebelum menuju kosan. Di semester 5 ini memang tugas dan system belajarnya benar-benar beda dari semester sebelumnya. Ya memang harus diwajari, karena semester 5 ini adalah semester terakhir saya kuliah efektif. Sehingga tugas dan dealine yang saya hadapi bener-bener dahsyat.Di awal semester 5 saat hecticnya bimbingan dan pengumpulan laporan PKL, selama semingu jadwal makan tidur dan istirahat saya sangat tidak teratur. Waktu saya sangat disita dengan ngerjain laporan PKL. Sampe pas akhir pekannya, saya jatuh sakit,. Gak ada makanan dan minuman yang bisa masuk ke perut. Dan betapa mulia hati kedua orangtua saya, mereka datang menjenguk di hari kedua saya sakit.

Beberapa kali memang saya seringkali jatuh sakit, akibat gak bisa kontrol makan dan tidur karena sibuknya kuliah. Fisik saya terbilang lemah, sehingga orangtua saya juga memberikan fasilitas dan materil yang memadai agar saya tetap sehat dan lancar kuliahnya. Entah mulai sejak kapan, saya sudah sering menanyakan kegiatan sehari-hari orang tua saya. Usia 18 tahun awal masuk kost, ibu saya rajin banget sms saya sekedar mengingatkan hal-hal kecil seperti kunci pintu kosan. Jaman semester satu, ibu saya juga masih rajin nganterin saya balik ke kosan kalau akhir pekan saya pulang ke rumah. Dan saya menyesal kenapa dulu saya tidak memberikan perhatian full ke orangtua. Yang saya tanyakan cukup sekedar kabar kesehatan dan kondisi di rumah. Saya ga nanyain ibu sedang apa, sudah makan apa belum, atau lagi ada di mana.

My Half

Saya paham hal-hal yang tidak kita inginkan bisa saja terjadi pada saya ataupun pada orangtua saya. Tidak ada yang tau perihal waktu kapan salah satu dari kami mengakhiri petualangan di dunia. Di usia 18 tahun kebawah saya sama sekali tidak terlintas dan tersadar, bahwa kapan aja kita bisa dihadapkan dengan kondisi kehilangan orangtua atau berakhirnya hidup diri saya sendiri. Dan mulai usia 19 tahun, gatau kenapa saya mulai membayangkan bagaimana hidup saya nanti dengan ketiadaan orangtua. Sebagai anak pertama, sekarang orangtua lebih banyak diskusi atau bercerita kepada saya. Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan kedua adik saya, orangtua mulai menitipkan dan mempercayakan saya untuk mulai membantu mengurusi adik-adik. Adik saya yang pertama baru masuk kuliah arsitektur di Semarang. Dan adik saya yang kedua duduk dibangku SMP kelas 2. Saya rasa, saya terlambat. Baru di usia menjelang awal 21 tahun, saya memberikan 100 persen perhatian saya kepada orangtua dan adik-adik. Setiap dua atau tiga hari sekali, saya selalu menanyakan kabar adik saya. Sedang sibuk ngejain tugas apa. Lagi dimana, ada makanan gak di kosan.

Ya mungkin di luar sana pasti sudah memahami kewajiban seorang anak kepada orangtuanya harus bagaimana. Seusia sekitar 20 tahun keatas, kita sedang sibuk-sibuknya dengan aktivitas hidup kita yang semakin seru dan menantang. Kita sedang senang bertemu dengan banyak orang, bergaul dan menikmati masa muda kita bersama teman-teman. Tapi saya harap temen-temen selalu ingat, bahwasanya bisa membahagiakan orangtua adalah perasaan yang gak bisa digantikan dengan apapun. Selalu mendoakan dan memberikan yang terbaik adalah kewajiban kita. Barang atau rumah semahal apapun tidak akan sebanding dengan kasih sayang dan perjuangan jihad yang orangtua berikan kepada kita. Semahal apapun pemakaman yang kita berikan tidak akan mempengaruhi, kalau beliau sudah tidak ada nanti. Waktu kita sebenarnya banyak, namun kadang kita tidak bisa memanfaatkan waktu untuk selalu membahagiakan orangtua.

Allah telah menjelaskan di dalam Alqur’an Al-isra ayat 23: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang diantara keduanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Maka dari itu, buatlah mereka bahagia, sesekali jangan buat keduanya menangis. Mendoakan mereka adalah satu hal yang tidak pernah terlewatkan dalam barisan doa setiap sujud kita. Buatlah orangtua sangat bangga dan bersyukur telah mempunyai anak seperti kita. Berikanlah yang terbaik untuk keduanya. Sayangilah orangtua seperti mereka menyayangi kita di waktu kecil. Ridho Allah adalah ridho orangtua. Surga adalah di telapak kaki ibu. Amalkanlah dan hafalkanlah al-quran agar bisa memberikan mahkota kepada keduanya di akhirat nanti. Semoga kita selalu termasuk golongan yang beriman kepadaNya, dan taat kepada orangtua. Aaamiin ya rabbal alamin.

Kamis, 08 September 2016


     Hidup itu indah dan penuh kegembiraan, segembira menciptakan Kata Pengantar di awal skripsi. Hidup itu penuh ketelitian, seteliti saat menciptakan Daftar Isi. Untuk menjadi dewasa dalam menjalani hidup, anggap saja aku telah melewati 45% masalah dalam hidup. Dan tentu masalah tersebut sudah kutuangkan dalam Latar Belakang Masalah. Tak ketinggalan dengan Rumusan Masalah, sudah Kusiapkan pertanyaan untuk diriku sendiri.

“Seberapa ikhlaskah aku dalam menjalani bab-bab kehidupan yang sudah Allah siapkan di Lauhul Mahfuz agar layak dikategorikan ke dalam golongan bertaqwa”

     Adapun Tujuan Penelitian ialah jawaban dari semua Rumusan Masalah. Tujuan penelitianku dalam hidup tak lain adalah menuju surga Allah. Menguji keikhlasan, belajar bersabar semata-mata karena mengharap ridho Allah. Kuharap kehidupanku menjadi bermanfaat untuk orang lain. Tidak hanya bermanfaat untuk para akademisi kehidupan, namun dapat dicontoh dan diteladani oleh para praktisi kehidupan. 

      Dalam menghadapi ujian biasanya kita mendapatkan bekal terlebih dahulu. Beberapa ujian terjadi agar kita mendapatkan bekal untuk menghadapi ujian atau masalah yang lebih besar. Umur 18 tahun aku pernah membuat Kajian Pustaka sederhana untuk bekal atau ilmu menghadapi ujian hidup yang lebih besar. Kajian pustaka tersebut kupelajari dari para ahli yang berbicara mengenai konsep IKHLAS, SABAR, IKHTIAR, dan TAWAKAL. Kualitatif iman seakan menjadi Landasan Teori dalam menghadapi hidup. Seberapa kuat pomeo innallaha ma‘ana tertancap dalam inti jantung kita. Sering kali kita terlalu banyak gelisah ataupun gundah gulana. Padahal kita hanya perlu tawakal dan ikhtiar sebanyak-banyaknya. 

   Hidup terkadang perlu diteliti serumit Metodologi Penelitian. Namun tak perlu melakukan uji instrumen validitas ataupun reliabilitas. Cukup melakukan Analisa Diri atau bermuhasabah diri. Hidup tak hanya mengandalkan analisis SWOT. Karena kuncinya bisa jadi menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji sekuat apakah kita dalam menghadapi masalah. Bagaimana pendapat orang ketiga mengenai sikap kita selama ini. 

    Akhir dari kehidupan kita memang bisa digolongkan ke dalam Bab 4 yang berisi Kesimpulan dan Saran. Dihabiskan untuk apa sedikit waktu yang kita punya di dunia? Kemudian paragraph keduanya amal baik dan amal buruk apa apa yang sering kita lakukan selama di dunia. Akan berakhir dimanakah perjuangan hidup kita selama ini. Ribuan saran dan nasihat orang-orang berikan kepada kita agar menjalani hidup yang lebih baik lagi. 

    Kuharap dimanapun kita berada dan setinggi apapun kita dimata dunia, kita tetap mengenang orang-orang yang memberikan kita banyak ilmu dan Teori yang melimpah. Selain dikenang, nama-nama orang tersebut dapat kita abadikan melalui Daftar Pustaka dan mendoakan mereka agar selamat dunia dan akhirat. Perkenankan aku berhusnudzon kepada Allah agar Lampiran kehidupanku diisi dengan potret kebaikanku selama di dunia yang dikelilingi dengan orang-orang yang shalih dan shalihah. Sehingga poin tersebut menjadi nilai kelayakanku agar Skripsi Kehidupanku mendapatkan tempat terbaik disisiNya. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin.

Sabtu, 30 April 2016

Dewasa ini dunia Shofia semakin dalam bergulat dalam dunia kehumasan. Bikin press release, media publikasi, jadi panitia EO, pun bulan depan udah PKL. Acctualy terkadang masih tak menyangka jurusan yang sejak kelas 12 kuimpikan ternyata dapat kuraih lengkap dengan titel kampus negerinya. Meskipun sebelumnya harus nangis-nangis tumpah darah cari tempat kuliah karena tak kunjung keterima :’) Alhamdulilllah Allah maha mengabulkan do’a hambaNya bagi yang terus berjuang.

Dari dulu mau masuk ilmu komunikasi cuma karena suka ngomong, sama suka nulis. Dan karena ilmu komunikasi banyak cabangnya yaitu jurnalistik, broadcasting, dan humas, jadi kupikir aku lebih prefer ke humas. Aku tak pilih broadcasting, karena enggak mau jadi mba-mbak semacem cameramen, dan aku juga pilih jurnalistik, karena aku juga gasuka kerja jadi wartawan yang tiap hari dikejar deadline berita. Well Alhamdulillah Allah mentakdirkanku mengampu program studi Hubungan masyarakat yang mempunyai tugas untuk menciptakan pengertian kepada publiknya.

Masih banyak orang yang masih salah mengartikan definisi dan tujuan dari humas. Ketika berbicara mengenai pengertian humas, maka tak akan jauh-jauh dari yang namanya ‘hubungan’ dan ‘citra.’ Karena tujuan dan fungsi humas adalah menjaga hubungan dan mempertahankan citra positif dari publiknya. Mulai dari hubungan dengan publik internalnya itu sendiri yaitu anggota atau karyawan, pimpinan, stakeholder (pemangku kepentingan) sampai publik eksternalnya yaitu masyarakat, media, pemerintah, pesaing, pemasok, dan komunitas.  


Jadi pengertian Hubungan Masyarakat a.k.a Public Relations (PR) adalah seni untuk menciptakan pengertian public yang lebih baik, yang dapat mempertahankan kepercayaan public terhadap organisasinya dengan cara membina hubungan. 
Dengan tugas yang cukup berat dalam mempertahankan reputasi perusahaan, membantu perencanaan kelangsungan hidup suatu organisasi, dan menjaga hubungan dengan publik-publiknya yang punya berbagai kepentingan, seorang PR juga harus memiliki kriteria kualitas diri sebagai berikut:

1. Kemampuan bergaul atau membina relasi hubungan. Dalam kata lain PR harus mampu menghadapi orang dengan beraneka ragam karakter dengan baik . Point ini seakan memberikanku teguran. Aku harus mulai belajar menyesuaikan diri menghadapi berbagai macam karater orang apapun situasinya. Karena pekerjaan PR berhubungan dengan banyak pihak yang memiliki beragam kepentingan, jadi kemampuan membina hubungan sangat diperlukan. Jauh melebihi itu, kesabaran juga sangat dibutuhkan untuk mempertahankan hubungan.   Shofia yang karakternya sanguin-melankolis harus bisa menjadi seorang yang calm and dinamistic terhadap situasi apapun dan karakter publik apapun yang ditemui. Seorang praktisi professional PR tak boleh baper-bawa perasaan, melainkan baper-bawa perubahan :)

2. Mampu berkomunikasi dengan baik, menjelaskan segala sesuatu dengan lisan dan tulisan secara jelas dan lugas.  Selain melalui komunikasi lisan dan tulisan, PR juga mampu menjelaskan sesuatu dari komunikasi visual (melalui gambar diagram atau foto-foto). Dosen mengatakan bahwa pekerjaan PR dibutuhkan keterampilan menulis 70%, sedangkan 30%nya adalah keterampilan bentuk komunikasi lainnya. Hindari berbicara dengan cepat pada saat komunikasi lisan. Harus memakai pembendaharaan kata yang tepat agar komunikan mudah mengerti pesan yang dimaksud komunikator.
3. Pandai mengoorganisir segala sesuatu Praktisi PR .harus aktif dan cekatan dalam kerjanya, terlebih saat perusahaan atau organisasinya mengalami krisis. Posisi ideal seorang praktisi Humas adalah dibawah langsung top executive pihak manajemen atau CEO. PR tidak hanya mengurus media publikasi dan citra, namun menjaga kestabilisasi perusahaan, kinerja anggota, jalur komunikasi internal maupun eksternal perusahaan dan mengontrol progress masing-masing department. Jadi mungking ini salah satu jiwa kehumasan shofia, kadang cenderung penasaran sama progress divisi lain :D
4. Memiliki integritas personal baik profesi maupun kehidupan pribadi. Dari semua kriteria, menurut shofia kriteria ini yang paling canggih. Integritas atau kejujuran ini memang sangat penting. Dibutuhkan baik sebagai kita professional praktisi PR, maupun sebagai reputasi diri kita sendiri dalam kehidupan pribadi. Tidak boleh inkonsisten kalau soal kejujuran, apalagi menyangkut dunis profesi. Integritas kehidupan pribadi akan mencerminkan kualitas diri dalam dunia profesi.
5. Punya imajinatif dan daya kreatif yang tinggi. Kemampuan kreativitas dan imajinatif ini dibuktikan Humas dalam membuat jurnal internal dan media publikasi untuk perusahaan. Kemampuan imajinatif inilah yang akan memvisualisasikan keinginan verbal dan non verbal khalayak sasaran humas. Kreatifitas humas ini yang nanti akan memberikan solusi-solusi menarik agar perusahaan dapat keluar dari masa krisinya.
6. Kemampuan mencari tahu. PR dituntun untuk memiliki akses informasi yang seluas-luasnya. Pekerjaan PR tidak hanya menjadi humas dari perusahaan penjualan pada satu produk atau satu jasa. Dan keterlibatan humas dalam berurusan dengan pers, pemerintah dan pemegang saham menuntut humas harus pintar dalam mengetahui segala hal dan bidang.

Kriteria kualitas diri humas diatas  menjadi bahan pembelajaran untuk shofia pribadi, sudah seberapa pantaskah diri ini untuk berkiprah di dunia kehumasan. Semester 4 di D3 bukanlah usia yang dini dalam memasuki dan memahami dunia kehumasan. Semester 4 ini super amazing such as; revisi paper tugas dari februari yang gak di ACC terus sama dosen, sebelum UTS ada acara tangis-menangis dulu karena tiba-tiba bentrok sama deadline revisian, juga tak ketinggalan buat 4 tugas seminar dari mata kuliah yang berbeda bulan Mei nanti. Di semester 5 nanti yang udah mulai bikin laporan PKL dan persiapan semester akhir nanti membuatku tak ingin berhenti berjuang barang semenit saja. Shofia sedang berjuang dan benar-benar mengetuk pintu Allah agar diberi kesempatan buat nyusun Tugas Akhir di semester 6.   
Pejuang TA semester 6
Buat kamu-kamu calon praktisi Humas di luar sana, yuk kita analisis seberapa jauh jiwa kita sudah menyatu terpatri  dalam jiwa kehumasan. Ingat kita adalah anak Humas. Kita itu pelopor komunikasi, jangan sampai ada distorsi pesan, jangan sampai relasimu dengan publik mengalami keretakan. Ayo tingkatkan lagi kemampuan membina hubungan, kemampuan berkomunikasi, daya imajinatif, perbaiki integritas, aktif dan keep curiousity.  Mari kita tingkatkan lagi citra positif diri kita di mata Allah juga di mata publik. Bukankah tugas Humas salah satunya mempertahankan reputasi? :) 

Rabu, 13 April 2016

Perencanaan. Problematika yang sejak dulu terjadi dalam meraih sebuah tujuan salah satunya adalah tidak bisa ‘merencanakan rencana dengan baik’. Tentu semua orang sudah memiliki rencana yang pasti dalam meraih tujuan yang dituju. Namun tidak semua rencana yang sudah ia rancang dapat berjalan dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah kurang memahami dengan baik situasi yang terjadi saat ini dan kedepannya. Penyebab lainnya adalah strategi atas rencananya kurang mendetail. Karenanya akan mendapatkan banyak ancaman yang berbahaya, jikalau kita tidak memikirkan apa saja peluang dan detail dari strategi yang sudah kita rencanakan.
Dalam bukunya PR Smith ‘Marketing Communications’ dijelaskan bahwa ‘SOSTAC can in fact be applied to any kind of plan- corporate, marketing, marketing communications, direct mail or even a personal plan.  
SOSTAC, adalah pendekatan sederhana untuk membangun sebuah perencanaan dengan baik yang diiringi oleh pemahaman situasi, tujuan, strategi, taktik dan monitoring.     
Sederhananya SOSTAC adalah sebuah trobosan perencanaan yang dapat diaplikasikan untuk perencanaan apapun. Perencanaan di perusahaan, pemasaran atau bisnis dan bahkan bisa diaplikasikan pada rencanca pribadi kita untuk masa depan, misalnya. Sebut saja ini tips and trick dalam membuat rencana dengan baik.

sumber
        S – Situation Analysis (where are we now?)
Pada elemen situasi analisis ini kita diajak untuk menganalisa keadaan yang terjadi saat ini dan nanti. Dalam membuat perencanaan langkah paling awal adalah memahami situasi. Pada point ini biasanya dalam perencanaan dibutuhkan pengkategorian pihak-pihak yang terlibat. (Siapa pesaingnya, siapa channel distributornya). Selain itu juga dibutuhkan analisis SWOTnya, (kelebihan dan kelemahan pada produk serta kesempatan atau ancaman yang relevan produk atau organisasi tersebut. Situasi analisis ini dapat disesuaikan berdasarkan kasus yang terjadi pada perusahaan atau rekam jejak seseorang. Misalnya kita adalah seorang penjual, dengan sedemikian kelebihan dan sekian kelemahan.         
        O ­– Objective (where do we want to go?)  
Pada point selanjutnya adalah adalah tujuan atau target seperti apa yang ingin kita capai. Kemana arah yang ingin tuju. Hal ini disesuaikan berdasarkan kasus atau organisasi dan perusahaan tersebut. Misalnya jika kita adalah seorang penjual, kita ingin pelanggan banyak yang membeli produk kita sehingga kita akan mendapat banyak keuntungan.
      S ­– Strategy (how do we get there?)
Strategi adalah langkah umum untuk mencapai tujuan kita. Mengambil contoh sebelumnya; agar pelanggan kita banyak berarti kita harus memuaskan pelanggan kita.
      T­ – Tactics (the details of strategy).
Kemudian ada taktik sebagai detail dari strategy atau langkah-langkah rinci dalam mencapai tujuan. Taktik dalam marketing communications merencanakan daftar apa yang akan terjadi dan berapa lama (penetapan deadline atau jangka waktu). Contoh melanjutkan point sebelumnya adalah, cara untuk memuaskan pelanggan adalah dengan memperbagus kualitas barang dan memperbanyak bonus pembelian.
      A ­– Action (putting the plans to work)
Aksi ini merupakan tindakan nyata dari taktik yang sudah kita rencanakan. Pada aksi inilah implementasinya
       C ­– Control (measurements, monitoring, reviewing and modifying)
Pada poin ini kita akan memonitoring apa yang yang sudah kita lakukan pada rencana kita. Pada bagian ini juga akan ada evaluating jika ada hal yang tidak sesuai. Dan contoh mengakhiri dari point sebelumnya adalah, kita harus menjaga hubungan dengan baik agar pelanggan tetap mengkonsumsi produk dari kita.
Perencanaan merupakan proses yang interaktif. Dan menurut para ahli yang sudah menggunakan trobosan perencanaan SOSTAC ini berpendapat bahwa SOSTAC adalah pendekatan paling bagus dan efektif untuk siapapun yang ingin berkembang maju dan lebih baik. Bahkan teori perencanaan SOSTAC ini sudah dicoba Marketing Director  dari Microsoft UK.  
Buat kamu-kamu yang punya rencana untuk tujuaapapun; rencana sederhana apalagi rencana besar, SOSTAC bisa jadi solusi yang ampuh. Jadi trobosan seperti apalagi yang bisa ‘merencanakan rencana dengan baik’ selain SOSTAC? :) 

sumber: Smith, PR, 1998, Marketing Communications London: Kogan Page  

Sabtu, 26 Maret 2016

Berbicara seputar 'Tempat Paling Indah' pasti semua orang memiliki banyak persepsi dan paradigma yang beragam. Semua orang mempunyai tolak ukur tersendiri tempat seperti apa yang bisa dikategorikan sebagai tempat yang paling indah.
Setiap orang pasti berbeda-beda skala sifatnya tentang keindahan suatu tempat. Mulai dari tempat indah yang mudah atau dapat ditemui, sampai tempat yang bisa jadi tidak akan pernah ada dibelahan dunia manapun. 
Contoh mengkrucutnya  tempat paling indah adalah rumah a.k.a keluarga, indah dalam ukhuwah persahabatan, indah tempat bersujud kepadaNya, sampai bersandar di bahu seorang yang spesial bisa menjadi tempat yang paling indah. Dan kategori tempat paling indah menurutku adalah provinsi dimana aku tinggal sekarang. Banten. Iyaa provinsi yang dikenal sebagai pemiliknya Gunung Krakatau, Pantai Anyer, Kampung Baduy, Tanjung Lesung dan masih banyak lagi.


                       

Bagiku Banten adalah tempat terindah dari semua hal yang indah-indah. Menurut kacamataku Banten memilki banyak nilai plus yang dapat menutupi kekurangannya. Karena selain indah pemandangan kota wisatanya, orang-orang yang berasal dari Banten juga memiliki sifat yang terbilang indah pula. Tanpa mengurangi rasa hormat pada provinsi-provinsi lain, sejauh aku mengenal karakteristik orang Banten sama yang di luar Banten, mayoritas orang-orang asal Banten ini memiliki sifat yang menyenangkan, jiwa berbagi dan kontribusinya sangat tinggi, Karena Banten ini punya banyak pedesaan dan kawasan kampungnya, pemuda Banten banyak yang bertekad untuk memajukan daerahnya. Bukti kontribusinya bisa dilihat dari keberadaan Istana Belajar Anak Banten ISBANBAN, adalah sekelompok anak muda yang tergerak melakukan sesuatu untuk pendidikan di Indonesia dan Banten tempat tinggal kami. Karena berdasakan data pada tahun 2011 masih ada 25.000 anak tidak sekolah di Banten dan di dominasi oleh anak anak yang berasal dari pelosok desa.

Karena tinggal dan besar di kota Tangerang, jadi awalnya kukurang mengetahui segala hal yang diluar Tangerang. Hanya sekedar tau ada Gunung Krakatau di Serang. Dan saat masuk ke dunia kuliah yang cangkupan temannya bukan hanya di Tangerang atau jabodetabek saja, baru kupunya teman yang berasal dari Pandeglang, Serang, Cilegon dan juga Lebak. Dan rupanya subhanallah mahasiswa-mahasiswa asal Banten itu hebat-hebat. Pendiri ISBANBAN, kerjasama melaksanakaUniversity Day Out Banten tahunan, mahasiswa berprestasi pun. Aku mengenal mereka di Ikatan Keluarga Mahasiswa Banten IKMB UNJ. Paguyuban mahasiswa asal Banten yang ada di kampusku, a.k.a keluargaku di tanah rantau ini.

IKMB di tugu UNJ
Keindahan alam yang terjaga di Banten dan kehebatan orang-orang di dalamnya, membuatku jatuh hati pada Banten. Tempat yang tidak mempunyai kepadatan seperti Jakarta. Tempat yang masih banyak sawah di pelosok. Tempat yang akan kutuju saat aku butuh pulang. Tempat yang suasana pegunungannya sangat terasa. Juga dilengkapi dengakerendah-hatian dan jiwa aktivis kaum muda di dalamnya. Itulah alasan mengapa Banten menjadi tempat yang paling indah untukku. 

Terlebih untuk IKMB, aku dan teman-teman dari Tangerang pernah berjuang datang menghadiri pameran pendidikake Serang dan kembali ke Tangerang dengan penuh kesusahan dan jeri payah. Namun bahagia. Untuk Banten kami pernah menghadapi banjir yang menghadang menuju roadshow di daerah yang sangat rawan banjir. Untuk Banten kami terjun ke pelosok berbagi ilmu dengan penuh sukarela. Jika boleh mengutip kata-kata kakak tingkatku, Saya berkontribusi untuk Banten karena saya berasal dari Banten. Saya tumbuh besar di Banten. Dan saya pun akan memberikan pengabdian untuk Banten. Ini penuturan yang aku favoritin banget. Bener-bener kacang yang gak lupa sama kulitnya. Ada bentuk kontribusi dan pengabdiannya. Ini jadi pembelajaran banget buat kita yang suatu saat nanti sudah sukses, sudah berhasil di tempat lain, diusahakan harus bisa ada feedback entah bentuknya seperti apa ke tempat yang sudah membesarkan kita. Ini tolong dinoted yaa teman-teman :')
Tempat yang paling indah memang tak harus berasal dari permata berlian, bukan hanya atau mulu mengandung unsur kehangatan dan kenyamanan juga, melainkan juga dapat berpegaruh dan bermanfaat besar pada pemikiran, sikap, dan kata-kata kita. 
Banten serta orang-orang yang ada di dalamnnya adalah tempat paling indah untukku karena bisa membuatku lebih baik lagi. Karena membuatku lebih tahu dan banyak belajar tentang banyak hal yang sebelumnya tidak kutahui. Aku bertekad untuk membuat provinsiku ini menjadi lebih indah lagi. Tidak hanya tambah indah pemandangan alamnya, namun tambah indah pula akhlahnya dan semakin tinggi daindah pula prestasi yang diraih Banten. Pun Banten bisa jadi tempat paling indah untuk banyak orang, tidak hanya untukku, untuk warga Banten saja, melainkan indah untuk warga di luar Banten juga. Hidup Banten! :D

UNJ for peace of Banten.