Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2018


Selamat siang temen-temen. Jadi mulai Maret lalu saya udah mulai aktif kuliah lagi. Setelah 7 bulan vakum untuk kerja dan istirahat di rumah. To be honest, hari pertama saya kuliah diisi dengan rasa full of lazy, badmood abis dan perasaan lain-lainnya yang bikin saya jadi malas kuliah. Awalnya saya semangat untuk kuliah lagi karena hanya ingin mengejar title sarjana, berhubung yang tahun lalu baru wisuda diploma. Saya merasa iri dengan orang-orang yang bisa mencapai gelar sarjananya.

But guess what i get in my first day of collage?

Saya diingatkan lagi bahwa kalau hidup itu bukan tentang cepet-cepetan memasuki babak kehidupan. Like i said in another post. Life is learning and giving the best. And the best isn't always the fastest. Life is about how you gain achieve something that people can be proud of it. Kita lupa tentang hausnya ilmu kaya waktu kita masih TK. Bagaimana semangatnya kita ingin mempelajari hal baru. Kebanyakan dari kita tidak tumbuh curiosity. Bahkan cenderung memakai cara instan tanpa menikmati proses sebuah keberhasilan.

Dulu saya merasa kurang paham betul pentingnya pendidikan. Saya merasa saya harus kuliah karena untuk mewujudkan cita-cita orangtua memasukkan anaknya di Perguruan Tinggi Negri. Saya tertarik kuliah karena teman-teman saya pun pada kuliah. Saya semangat kuliah hanya sekedar ingin terbebas dari masa SMA, dan masuk ke dunia yang baru. Sampai-sampai saya semangat kuliah hanya biar kaya impian orang-orang. Lulus Tepat Waktu.

Saya tidak tahu apakah hanya saya yang merasakan, beratnya kuliah lagi. Hanya karena yang lalu baru sampai jenjang D3. Kemudian lanjut lagi kuliah 1,5 sampai 2 tahun lagi. Yang kalau dikalkulasikan saya butuh 5 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana saya. Jadi yaa ketika orang-orang sudah bisa melanjutkan babak kehidupan lainnya. Saya masih stagnan disini. Masih kuliah. S1 pun. Sebut saja saya orang yang tidak bersyukur karena bisa kuliah lebih tinggi.

Sampai saya sadar bahwasanya keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur dengan rentang waktu dan dibatas oleh tempat. Belajar pun bisa dimana saja. Bertemu dengan orang baru juga termasuk kategori belajar, jika substansi bermanfaat. Pendidikan yang bikin kita aware sama kondisi dan kejadian sekitar. Tidak hanya terpaku menjalani kehidupan pribadi semata. Pendidikan bener-bener melatih kita untuk berbicara dengan baik. Modal untuk kita bisa masuk ke dunia luar. Bagaimana kita mau diterima dengan baik, jika ilmu yang kita punya tidak sepadan dengan lawan bicara kita. Pendidikan membantu kita untuk bisa memanage waktu dengan baik dan mengaplikasikan ilmu yang kita punya ke dalam keseharian kita. Pendidikan pula yang bikin kita naik level dari berbagai macam hal. Tidak hanya gaya bicara, namun gaya kita duduk, mendengarkan, melihat dan berpenampilan menjadi representatif seberapa berpendidikannya kita. Dan hal-hal tersebut yang akan dipakai di dunia sesungguhnya dan dinilai oleh banyak orang.

Berangkat dari itu saya belajar untuk lebih menghasilkan karya dari ilmu yang saya punya. Saya jadi memikikan banyak studi kasus yang bisa dikaitkan dengan keilmuan yang saya dapat selama kuliah. Saya merasa punya ambisi untuk melakukan banyak hal, bahkan diluar keilmuan saya. Saya jadi berpikir, seseorang yang bisa menjalani fase kehidupan di usia muda belum tentu mempunyai bekal yang cukup kuat. Jadi misalnya belum ditakdirkan untuk lulus kuliah, bekerja, menikah, dan punya anak. Yuk kita galih ilmu sedalam-dalamnya. Kita create diri kita menjadi orang yang lebih berpendidikan. Jangan lelah menuntut ilmu, karena semua yang kita dapatkan pasti akan membawa manfaat. Jika boleh mengutip saya sepakat pada seseorang yang percaya kalau apa yang sekarang saya upayakan, saya korbankan akan setimpal dengan yang saya dapatkan nanti di masa depan. Atau mungkin malah lebih. Sebab untuk berkembang, untuk menjadi seseorang yang lebih baik untuk berguna pada bangsa, agama, terutama untuk kita sendiri, itu batu loncatannya harus jelas Yang temen-temen perlu inget juga adalah zona nyaman adalah jebakan. Kita harus bikin gebrakan untuk buktiin sebuah perubahan dalam diri kita. Yeah saya juga berusaha keras untuk no comvert zone. Well, demi masa depan bangsa, anak, cucu kita nanti, semangat terus yaa temen-temen dalam menempuh dunia pendidikan. Jangan lupa bersyukur hari ini :)


Senin, 01 Januari 2018

Bicara tentang 2017. Apa aja moment penting yang terjadi selama 2017 yang paling saya noted. Bukan hanya tentang diri sendiri sih, tapi juga tentang Indonesia. Biasanya jaman SMA, di jaman gue sangat gemar menulis. Setiap mau pergantian tahun, gue tulis ulang apa aja yang udah dilewatin selam setahun ini. Mungkin mau gue budidayakan lagi di sini.


2017, yang pertama gue ingat ialah final pilkada Jakarta 2017. Yap pilkadanya di Jakarta tapi hampir seluruh Indonesia ikutan mengomporinya. After that, ini sih #thepowerofsetnov. Gak bisa ngerti lagi kenapa itu orang bisa aja neghindarnya. Ada aja hal yang bisa dijadiin alasan dari kaburnya kejaran KPK. Selain itu ada reuni 212 yang banyak orang pro dan kontra. Kemudian untuk taraf internasional pernyataan Trump atas Yerusalem sebagai Ibu kota Israel. LGBT makin marak. Ah iya ini sih kayanya tahun 2016 belum ada istilah 'kids jaman now' deh. Entah itu awal mula istilah itu gimana. Nah kalau menurut kalian kejadian penting atau unik apa yang terjadi di 2017?   

Buat gue tahun 2017 ini merupakan tahun yang ditunggu-tunggu sih. Tahun yang ditunggu sejak pertengahan 2017. Iya September 2017 gue bertekad harus bisa wisuda. Dan Alhamdulillah bisa terwujud. Seperti yang pernah gue ceritakan sebelumnya. Di 2017 ini dikasih kesempatan umtuk berlibur lebaran di Kalimantan dan di Pulau Dewata Bali. 2017 ini juga menjadi pertama kali (semoga juga yang terakhir) di rawat dan di operasi di rumah sakit.

Itu kesempatan yang di lakukan kan ya. Beda lagi dengan kemajuan dan apa yang terjadi dalam diri gue di tahun ini. Gue ngerasa lebih aware sama apa yang gue mau. Like i know actually what i need and what i must to do gitu. Tahun 2016 i was didn't know apa sih yang sebenernya gue mau tekunin, dan rincinya gue tuh sebenernya harus gimana sih buat jadi lebih baik lagi. Tahun 2016 emang jamannya gue masih jadi mahasiswa labil sih. Tujuan gue cuma buat lulus kuliah. Udah sebatas itu aja. Yaa mungkin pengaruh umur juga sih, sekarang menurut gue ya, gue udah cukup open minded sama lebih aware lagi sama lingkungan sekitar dan masa depan.

Peningkatan studi, ibadah sama passion sih yang gue rasain banget. Tiga hal itu yang menurut gue cukup berubah jadi lebih baik. Ini jangan jadiin ajang buat call me as an arrogant ya wkwk. Untuk tiga hal itu gue punya target masing-masing pencapaian apa yang harus di lakuin setiap harinya atau setiap minggunya. Even though gue belum cukup puas dengan segitu saja, i've to increase my another skill. Kaya gue mesti banyak belajar lagi untuk menguasai passion gue. 

Ach so, resolusi 2018. Dulu gue rajin sih bikin resolusi gitu per tahunnya. Tetapi karena beberapa jadinya malah gak tercapai, i guess that resolution of new year is a bullshit. I don't know someone says that life is more fun without any GPS way. Without any plan. Because it will be pain or more what i must to call it? emm omdo alias ngomong doang. If we have a purpose, but we wasn't attempted or trying to achieve it. Let's cheers to finish our plan well.  And may 2018 is moooore better than 2017. Aamiin.



Foto ga nyambung sama tulisan. lol
Selain kurang berusaha to reach it, mungkin juga salah dalam merencanakannya. Kurang detail atau kurang motivasi. Untuk ke depannya. gue belajar untuk lebih cermat dalam merencanakan sesuatu. Hidup bukan tidak perlu memakai GPS. Akan tetapi merencanakannya dengan baik, mengikhtiarkan dan mentawakalkannya pada Allah. As we know, manusia hanya berencana dan Allah lah yang berkehendak. But hasil tidak akan mengkhianati usaha kok hehe. Gue doakan siapapun yang membaca postingan ini, may you have a nice plan and getting ease to achieve it. Kalau kamu apa yang terjadi selama 2017 dan apa harapanmu untuk 2018? 


Selasa, 12 Desember 2017

Oleh: Shofiyah Najiyah
Kalian pernah gak merasa hidup kalian stuck gitu-gitu aja?
Pernah gak bingung ini hidup mau gue jalanin gimana sih? Cemburu melihat teman-teman sudah pada menikah bahkan punya anak, Merasa hidup orang lain lebih sukses lebih beruntung daripada hidup kita
Akhir-akhir ini gue memikirkan banyak hal. Saking banyaknya gue sampe bingung hal mana yang akan gue tuang dalam bentuk tulisan. Apparently i realize gue orang yang cukup ambisius untuk mewujudkan tujuan gue. Kalau udah passionate sama sesuatu kadang gue sampe lupa sama sewaktu. Tapi disisi lain gue nanya sama diri gue sendiri apa hidup yang gue jalanin ini udah sesuai dengan apa yang gue inginkan. Entahlah. Pun gue ngerasa masih setengah-setengah terhadap hal yang gue passionate into. Gue jadi merasa terdistraksi mana hal penting yang harusnya dilakukan dengan tekun dan mana hal yang perlu gue pelajarin di lain waktu. Iyap, intinya gue bingung sama hidup gue sendiri.

Berawal dari gue ngerasa hidup gue gini-gini aja, gak seseru hidup orang lain. Gue merasa bakat gue susah banget diasah dengan sempurna kaya orang-orang. Gak tau kenapa gue juga akhir-akhir ini semakin menemukan alasan kalau gue butuh banget pendamping hidup. Rupanya gue kalo ngiri sama orang gak setengah-setengah. Gue selalu ngiri sama hidup orang yang berkualitas banget dengan keaktifan dia di organisasi, bakat dia yang menjadikan nilai jual dia di perusahaan, dan keberuntungan orang-orang yang dengan cepat mendapatkan jodohnya. Bahkan gue iri dengan orang-orang sehat yang hidupnya selalu diisi dengan kesibukan yang bermanfaat (berkaca pada faktor fisik setelah operasi). Padahal gue juga sadar sih, dengan diam di rumah kita juga bisa menghasilkan karya dan bermanfaat kok buat orang lain.

By the way, dibandingkan blogwalking gue lebih suka youtube walking sih (hehe maksain ya). Mayoritas yang gue kepoin terus blognya, ialah orang yang lebih dulu youtubenya gue pantengin. Sebut saja itu Vina yang menceritakan kegalauannya di Youtube saat menginjak usia 25 tahun. Kemudian di deskripsi boxnya dia cantumin link blognya. Gue menemukan sebagian besar kemiripan yang ada di kegalauan ini. Gue baru tahu kalo kegalauan itu normal setelah gue ngobrol sama orang-orang yang lebih tua dari gue dan mengalami krisis tersebut.

Krisis kegalauan itu dinamakan Quarter Life Crisis. Menurut beberapa situs yang gue baca, krisis ini hanya dialami oleh orang berusia 20-an yang masih terjebak dalam dunia remaja namun umur telah "memaksa" mereka untuk masuk ke dunia orang dewasa. Krisis ini datangnya perlahan-lahan dan tanpa kita sadari telah terjebak di dalam Quarter Life Crisis dan bahkan tak tahu harus berbuat apa. Setelah gue pikir-pikir kegaluan itu normal banget, karena sedang masa peralihan dari masa remaja yang menggebu-gebu menuju masa dewasa 25 tahun ke atas.

Gue menemukan kenalan gue yang sebut saja Ikhsan, yang merasa depresi lantaran waktu pengerjaan skripsinya yang tak kunjung usai di usia 24 tahun. Sementara itu teman-temannya sudah pada memasuki jenjang kehidupan berikutnya yaitu bekerja, menikah dan punya anak. Okay, gue setuju memang hidup ini bukan hanya tentang lulus kuliah segera, menikah dengan pasangan idaman lalu punya anak yang lucu. But somehow lingkungan sekitar yang memaksa kita untuk menjalankan step hidup itu. Like we don't have any choise except that circle of life. Lalu karena depresi berat, progres hidupnya semakin stagnan. Mungkin bukan hanya sebagai orang yang iri, sebagian orang tambah depresi bahkan lantaran ditinggal nikah. Oke, gue sepakat ini hanya soal waktu. Kelak lo juga akan menikah kok. 

Meskipun gue udah 22 tahun, gue merasa bahwa hidup gue penuh dengan kebohongan. Setelah gue tanya pada lubuk hati yang paling dalam, at least bukan hidup yang seperti ini yang gue mau. Entahlah apakah gue terlihat seperti sedang memakai topeng menutupi apa yang sebenarnya gue inginkan. Tapi gue baru sadar akan satu hal, mungkin gue jadi begini karena gue terlalu dimanjakan dengan zona nyaman sehingga gue enggan keluar area yang padahal itu kunci untuk mendapatkan hidup yang gue inginkan. Mungkin bukan hanya gue yang merasa terlalu dimanjakan dengan hal yang sifatnya konsumtif, hingga abai dalam meraih hidup yang berkualitas. Mungkin bukan hanya gue yang kurang belajar dan doa sampai gue tak seberuntung hidup orang lain. Setiap orang memang punya tujuan dalam hidupnya, tapi tidak sedikit orang yang tidak fokus terhadap tujuan hidupnya. Banyak orang (termasuk gue) yang menggunakan istilah gabut lalu mencari hal-hal hiburan yang kurang bermanfaat. Padahal kalau kita evaluasi tujuan hidup kita, kita akan sadar kalo banyak banget hal yang perlu dikerjain. Banyak hal yang lebih deserve kita perhatikan, ketimbang kita lari cari hiburan demi menghilangkan kegabutan.

Pada akhirnya memang proses itu gak selamanya 'nyaman'. Tapi karena proses itulah kita bisa ada di posisi nyaman dengan hidup berkualitas dan membuat kita jadi lebih kuat dari sebelumnya. Yeah, we've to spririt buat mencapai tujuan kita masing-masing. Kadang yang membuat kita kurang beryukur itu karena terlalu banyak melihat ke atas, dan lupa bahwa masih banyak orang-orang yang nasibnya kurang beruntung. Lately i also talk too much with my frieds at university, and she said kalau gue gak boleh galau karena hidup yang gue jalanin sekarang. Sebab sesungguhnya gue punya kelebihan-kelebihan yang sebetulnya juga bisa dijadiin uang, hidup gue cukup beruntung karena lulus D3 tepat waktu, lalu langsung kerja, kemudian tahun depan bisa lanjut kuliah S1 kelas karyawan sambil kerja.

Gue sadar sih, kayanya emang kurang muhasabah aja. Gue mau naik level dalam kehidupan, tapi usaha gue belum sebanding dengan tujuan gue. Harusnya gue gak perlu iri dan sedih lihat achievement hidup orang lain. Melainkan mendorong agar gak pernah bosen untuk belajar. Bukan cuman keburuntungan dan modal nekad yang bikin seseorang bisa terus naik standar hidupnya, tapi ilmu yang dimiliki oleh seseorang juga akan sangat membantu mereka untuk naik lebih tinggi lagi. Kata blog yang gue baca, jangan terlalu sering bandingin hidup kita dengan hidup orang lain. Melainkan bandingin diri kita yang sekarang dengan diri kita misal setahun yang lalu. Pasti udah banyak kan  pencapaiannya. Ya memang harus seperti itu sih, biar kita fokus aja sama kelebihan dan pencapaian kita, hingga lupa dengan kekurangan kita. Dan gue juga sadar sih, keirian gue dengan hidup orang lain sama aja kurang mengapresiasi perjuangan dia untuk ada di posisi yang sekarang. (mana kita tahu rintangan apa yang dia lewatin untuk jadi yang sekarang ini).

Hehe katakanlah itu semua sekelibat keluhan dan kegalauan gue akhir-akhir ini. Tetapi mungkin kalian yang baca sudah melewati ini atau sedang merasakan kaya gue juga, yuk kita beranjak dari titik ini. Mari buat hidup kita lebih berkualitas dan lebih produktif. Kalau kata temen gue, sebaik-baiknya penantian ialah yang menambah dan mengasah keterampilan, hehehe. Lain kalo kata bapake, hadapi hidup dengan al-qur'an- yang setiap kali gue nanya saran, acap kali bapake cuma jawab ' baca aja al-waqiah' kalo gue nanya lagi- 'yaudah tambah sama al-mulk'. :))) emang sejatinya Al-Quran yang bisa menaikkan derajat hidup seseorang.

Hemat kata, gak perlu kebanyakan mikir, yuk jadi yang lebih baik lagi :)

Sabtu, 02 Desember 2017

2 Desember 2017


Hai guys. Kali ini ngomongnya pake gue, biar lebih intim gimana gitu. Hari ini sama sih kaya sebelum-sebelumnya kegiatan gue. Yang membedakan cuma ditutup dengan makan malam sama orangtua di luar. Biasanya setiap tanggal 2/12 di tahun-tahun sebelumnya especially jaman gue SMA, gue selalu nulis tentang perjalanan gue selama setahun sampe gue ketemu tanggal ini lagi. Yaa berasa nostalgia lah di umur sebelumnya apa aja yang gue dapetin, dan apa aja yang gue harepin ke depan. Berhubung kayanya selama kuliah udah jarang nulis begitu lagi, sekarang gue mau praktekin lagi.

Wwkwk jadi tema tulisan kali ini, kalian cuma baca resume gue selama setahun belakangan ini guys. Moga gak boring yak hahaha dan jangan hujat aku kalo EBI nya gak bener wkwkwk
Oke. Mulai dari 2 Desember 2016. Siapa sih yang gatau 212 tahun lalu terjadi apa di Indonesia. Iyap aksi bela islam 3 yang sukses dengan 7 juta pesertanya. Gue merasa keren gitu ultah gue yang ke-21 dirayain jutaan umat islam dari segala penjuru. Gue merasa kemaren tanggal lahir gue dibikin legitimasi aksi 212 hho. Dan sekarang ultah gue yang ke-22 pun diadakan lagi reuni 212 di Monas. Engga deng, gue gak merasa keren, karena gue gak ada di bagian aksi itu. Tahun lalu dengan segala macam keriwutan kuliah, gue jadi gabisa kesana, ya karena emang gabisa ditinggal. Kalau tahun ini, pun gue gak dibolehin karena belum boleh aktivitas berat. You know, sakit gue ini soalnya belum sembuh total karena belum juga dua bulan berjalan. Di usia 21 tahun kemarin gue dapetin dua kue ulang tahun. Satu dari temen jurusan sama dari temen IKMB. Makasih  banget ya guys. Gue gak expect rupanya kalian sampe effort beliin begituan.

Muka gak ke kontrol saking bahagianya

Yaa yang ini not bad lah ehe
 Menengok kembali pada satu tahun belakang ini, di umur 21 kemarin gue merasa usia gue dihabiskan oleh berjuang untuk lulus kuliah. Oke, akhir tahun 2016 gue masih bisa jalan-jalan ke Semarang nengokin ade. Tapi januari-februari? :) guys gue dengan segala macam cara mempertaruhkan nasib gue biar bisa nyusun Tugas Akhir di semester itu. Waktu itu ada problem yang bikin gue nyaris nganggur kuliah semester itu. Kebetulan waktu 112 alias 11 Februari 2017, gue ikutan doa bersama di Istiqlal. Disitu gue nangis, minta tolong sama Allah supaya diberikan jalan keluar. Meskipun disitu sebenernya gue malu banget sama Allah. Setelah gue dikasih masalah aja, gue baru ngemis2 tiap hari.  Harusnya setiap hari yaa emang begitu, nangis-nangis aja terus sama Allah minta perlindungan, diberi ampunan, dan dikuatkan bila masalah datang menghadang. As always, andalan gue banget saat itu surat Muhammad ayat 7, kalau kita bela agama Allah, Allah pasti bakal nolong kita.

Yep, doa gue terkabul untuk nyusun semester itu. Gue jadi doyan ikut aksi atau doa bersama lagi karena merasa lebih tenang aja dan merasa deket banget gitu sama Allah. Ya lagian kalo bukan lari ke Allah, kita mau minta-minta sama siapa lagi sih. Gue ikut doa bersama waktu itu di Masjid At-ttin gatau lupa bulan apa. And the effect? wow perjalanan selama gue nyusun TA dimudahkan Alhamdulillah sampai gue diwisuda. Segala macam persoalan dan rintangan gue bisa menghadapinya dengan lancar. Guys bener-bener ya Allah mau menguji hambaNya yang diberi kekuasaan untuk membela agamaNya. Buat gue Muhammad ayat 7 ini bener banget dan terjadi dalam kehidupan gue. Atau coba deh kalian yang pernah ikut aksi, ngerasa gak hidup kalian seperti Allah mudahkan banget? apa cuma gue ya yang merasakan, dan asal cocokolgi aja hehe. komen dibawah ya guys kalau kalian merasa wkwkwk

Menuju hari wisuda gue diuji dengan kehilangan dompet yang dilanjutkan kecopetan hp :) Jadi waktu itu gue pulang jam 10 malem sampe besok paginya gue lupa taruh dimana itu dompet setelah gue bayar grabbikenya setengah sadar. Beberapa hari kemudian dompet gue ketemu. Rupanya cuma terjatuh di kolong kasur tapi kurang keliatan karena nyaru sama tembok. Soalnya dompet gue warna hitam dan kecil bgt. Di pagi hari dompet gue ketemu, siangnya hp gue kecopetan di stasiun Duri :) Pulang-pulang gue nangis karena berasa pulang hampa gak bisa ngabarin orang-orang kalo gue otw balik dari kampus. Bener aja ortu di rumah kelimpungan telpon sana sini nyariin gue (meskipun sebenernya udah tau siangnya kalo hape anaknya kecopetan). Gue baru sadar gue terlampau sombong saat dompet gue ketemu paginya. Gue bilang tuh "Tuhkan dompet kaka ketemu. Selama 21 tahun kaka hidup tuh kaka gapernah mi kehilangan dompet hp gitu2" Ehh karena mulut gue yang asal ngomong ini Allah menguji gue langsung siangnya. Kun Fayakun banget kan. Jangan ditiru ya guys, dan harus lebih hati-hati sama omongan hhoo

Kurang lebih perjalanan gue di usia 21 sih kebanyakan udah gue ceritain di postingan yang Curhatan 7 bulan. Gue ke Semarang, Kalimantan dan Bali. Disini gue cuma melengkapi aja. Gue ngerasa memasuki usia 22 tahun, berasa udah kaya orang dewasa gitu, yang senin-sabtu kerja kerja, minggu kondangan atau ikut pelatihan. Gue udah mengurangi jatah main-main gue dan lebih explore sama bakat sama kesibukan baru gue. Hehehehe itu juga karena temen-temen gue kebanyakan di luar Tangerang dan gue sekarang udah ngendep aja di Tangerang wkwkwk. Jujur sih akhir-akhir ini gue ngerasa gue tuh ansos banget. Gue kurang suka ketemu terus sama temen dalam waktu yang deket. Gue lebih suka kasih space waktu, memupuk rindu biar maksimal. Berharap pas meet up jadinya quality time banget karena jarang ketemu.

Lanjut ke memasuki 22th, gue ngerasa lagi Allah kasih keberkahan lagi. Kemaren 1 Desember maulid baginda kita Nabi Muhammad. Sholawat dan perayaannya masih terasa sampai sekarang. Karena udah H+1, gue jadi merasa Allah mau gue perbanyak sholawat lagi di usia yang makin tua ini. Yaa intinya lebih kenceng lagi perihal ibadahnya beserta amalan sunnahnya. Menghadapi hidup yang makin fantastis di usia yang bukan lagi remaja pasti butuh kuda-kuda spiritual yang kenceng. Biar makin siap dalam menyongsong masa depan yang gemilang. Halah wkwk

Tadi malem gue tidur cepet. Gue gak nungguin malam di penghujung pergantian usia gue kaya tahun-tahun sebelumnya. Lalu menebak siapa yang jadi pengucap pertama ulang tahun gue. Namun dalam tidur, gue merasa otak bekerja. Seakan banyak alarm terpasang mengingatkan bahwa diri yang katakanlah bersahaja ini (cuih) sudah mulai masuk usia dewasa 22 tahun. Dimana lo udah bukan remaja akhir yang dari 19-21 tahun, apalagi masih anak-anak. Yeah, you will face the real life, (after finish college, and start work. Then i'll get married and have children HEHEHE)

But gue udah cukup gamau ngebahas jodoh terlalu banyak, 99% yang doain gue hari ini semua tentang jodoh. Gue percaya jodoh, kematian dan rezeki selalu Allah atur dengan adil dan di waktu yang tepat. We just do the best and hope with praying without stop. Never ending ikhtiar lah hehe. Biar Allah yang menggerakkan hati ini akan melabuhkannya pada lautan yang mana. Usaha dan doa terus, tinggal tunggu tanggal mainnya. Eaq.

Satu atau dua tahun ke depan, sepertinya hidup gue akan lebih seru dan menyenangkan. Gue gak pernah tau episode hidup apa yang bakal menghampiri gue. (Doain gue yang baik-baik ya guys hahaha) Di usia yang sekarang ini gue gak terlalu noticed apa aja yang udah gue dapatkan, selain pastinya pelajaran hidup. Gue gak mau menuntut diri gue yang macem-macem selain menjadi pribadi yang lebih bertaqwa dan berkualitas. Lebih memprioritaskan hal-hal positif apa yang gue share and give ke orang lain daripada apa yang gue dapatkan dari orang lain. Ya intinya kebermanfaaan sih. Setiap aktivitas yang gue lakukan, apakah itu berguna bagi bangsa dan agama gue? apakah membawa manfaat pada orang-orang disekitar gue.

Last but not least, Happy 212 yang ke 22 myself dear.....

Senin, 23 Oktober 2017


Disini aku bener-bener mau curhat tentang aktivitas dan kesibukan selama 6 bulan terakhir ini. Tahun 2017 ini buatku super-super menakjubkan banget. Berawal dari diberi kesempatan bisa menyusun Tugas Akhir sehingga bisa lulus tepat waktu, bisa pulang kampung akhirnya ke Kalimantan untuk yang pertama kalinya, bisa traveling ke Bali dan yang paling bahagia akhirnya wisuda yeay. Tetapi karena hidup itu gak hanya tentang bahagia atau sedih, qodarullah dikasih cobaan penyakit yang cukup serius. Dari semua itu aku bersyukur mendapatkan banyak pelajaran, dan hal-hal positif lainnya,

Aku belajar untuk menghargai sebuah proses selama menyusun Tugas Akhir. Seperti yang sudah kutulis di potingan sebelumnya, aku mengalami kesuksesan yang tertunda saat udah rampung sampai bab 3, tapi harus mulai lagi semuanya dari awal. Jadi penelitian awal aku itu dulu tentang gaya manajemen konflik driver online sama angkutan konvensional. Dan letak gagalnya karena manajemen driver online pada gak terima untuk dijadiin objek penelitian. Awalnya sempet terpuruk, karena seminar proposal tinggal dua minggu lagi. Cari studi kasus, variabel urus surat penelitian itu bukan proses yang cepet dan mudah. Sedangkan teman-teman seperjuanku sudah sampai mau sampai bab 3 saat itu. Udah tuh, pasrah aja sama Allah. Aku keluar dari zona stres dan enjoy aja menikmati kumpul-kumpul sama banyak temen,

Sampai akhirnya di kopi darat Komunitas Blogger, aku dapet saran dari seseorang yang namanya sudah kutulis di postingan sebelumnya, untuk meneliti kampanye 'Yuk nabung Saham' dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang banyak orang meragukan kesuksesan kampanyenya. Disinilah aku belajar untuk menghargai proses. Aku memulai sebuah penelitian yang baru lagi, tapi karena sudah belajar dari penelitian sebelumnya. Aku jadi lebih tahu siasat apa saja yang perlu dikerjakan dengan cepat. Allah memudahkanku melalui bantuan teman tersebut untuk memahami penelitianku, memberi kontak orang BEI dan channel untuk responden. Jadi alhamdulillah aku bisa mengejak ketertinggalanku.

Aku belajar menerima saran dan kritikan apapun dari orang lain. Pasti pernah temen-temen meminta saran atau solusi dari teman atau kerabat, tapi rupanya saran atau solusi dari malah bikin kamu tambah down. Bukannya membangun dan jadi semangat. Jujur dua-tiga minggu pertama nyusun, aku masih belum sepenuhnya paham. Esensi dari penelitian itu apa. Waktu matkul riset atau metodologi penelitian, aku cuma ya ngikutin aja apa kata dosen. Disuruh ngerjain kuis yang begitu, yaudah kerjain. Tanpa bener-bener paham penelitian itu gimana sih. Jadi aku konsultasi ke beberapa kakak tingkat dan orang-orang yang sekiranya bisa memberi solusi. Dan man, disinilah aku belajar menerima dengan bijak apapun yang orang lain katakan kepada kita. Entah kita gatau apa yang ada di hati orang lain, tapi yang pasti kita hanya perlu mengambil yang positif dan yang baik aja buat kita. Kita hanya perlu membuat apa yang orang lain bilang itu menjadi boomerang buat kita untuk tetap maju dan semangat dalam berprogres lebih baik lagi. Sekalian mau ngucapin nih jazakumullah khairan katsiran buat Grup whatsapp Dewan Penasehat TA shofia, Kak Isna, Kak Ervi, Kak Wahyu, Kak Nazar yang udah bimbing aku sampe alhamdulillah udah dapet gelar A.Md

Aku juga belajar untuk terus mensyukuri nikmat Allah dan percaya pada janji Allah bahwa Inna ma'al yusri, yusron. Dulu setelah sempro, ada yang nanya "Sop lu nyusun sampe stres gini masih bisa main-main gak sih. Jalan-jalan gitu sampe luar kota." Guys, Allah itu udah janji kok dibalik kesusahan pasti ada kemudahan. Inna ma'al yusri, yusron. Bukan sama ya kaya peribahasa bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian. Dibalik kesulitan yang Allah uji buat kita, sebenernya itu Allah juga kasih kemudahan buat kita. Hanya saja kadang kita kurang menyadarinya. Alhamdulillah, waktu itu berapa hari sebelum sempro di awal Mei, banyak tuh tanggal merahnya. Jadi berjuang sebelum sempro aku diberi kesempatan buat jalan-jalan ke Bandung ikut sama tempat kerjanya Ibu. Terus setelah sempro memasuki bulan ramadhan, lagi-lagi Allah kasih aku waktu buat refreshing lagi. Aku bisa menikmati bulan puasa di Semarang, tengokin adik yang kuliah disana. 

Nikmat Allah gak akan pernah ada habisnya, menjelang sidang akhir karena waktunya lebaran, aku diberi kesempatan lagi sama Allah buat libur lebaran sama keluarga besar ke Kalimantan. Traveling dari Kalimantan Selatan sampai Kalimantan Tengah. Disela-sela seminggu sebelum sidang aku bisa jalan-jalan keluar pulau buatku itu wasyukurillah banget. Terlebih setelah sidang, angkatanku harus mengikuti KKL (Kuliah Kaya Liburan) hehe alias Kuliah Kerja Lapangan di Bali. YaAllah bahagianya tak terkira setelah semuanya selesai, Allah kasih hadiah lagi bisa traveling ke Pulau Dewata itu. Apalah aku mah, selama ini aku jalan-jalan paling kemana sih. Gak pernah sampai keluar pulau gini. Alhamdulillah wasyukurillah yaRabb




Setelah Yudisium dan menunggu hari wisuda alhamdulillah dapet amanah buat bantu-bantu di tempat kerja Ibu. Jobdecs utamanya yaa yang pasti sesuai dengan kapasitasku sebagai seorang lulusan Humas. Mengelola website, perencanaan sosial media, lmeliput kegiatan dll. Tapi yaa namanya juga hidup, kita gabisa memaksain buat selalu melakukan pekerjaan yang sesuai passion kita. Awalnya ngerasa gak betah karena hampir dua minggu aku diminta mengerjakan sesuatu yang sebelumnya staff lain kerjain. Dan pekerjaan itu terkadang membuatku jenuh ka. Beda ketika aku mulai berkutat dengan laptop mengatur konten website atau pengaturan sosial media misalnya, 

Akan tetapi dari itulah aku belajar bahwa yaa apapun alasannya, kita gak bisa menentukan dimana dan jadi apa kita akan bekerja. Ya gapapa jika kita belum melakukan hal yang sesuai passion kita. Gapapa jika pekerjaan yang saat ini kita kerjakan belum sesuai dengan apa yang kita impikan. Semua hanya tentang proses, lagi-lagi aku belajar untuk menghargai proses. Untuk mengawali karir itu memang biasanya dari bawah, untuk mengasah bakat dan kemampuan bekerja. Gak heran kalau banyak perusahaan yang memberi syarat minimal satu-dua tahun pengalaman kerja. Kita masih punya banyak waktu untuk coba mendapatkan apa yang kita inginkan. Tentunya diiringi dengan memperdalam kemampuan kita bisa yang menjadi nilai jual di sebuah tempat kerja. Alhamdulillah sekarang pure jadi Admin Media aja, nantikan website sekolah buatanku yaaa netijen wkwkwk