Kamis, 23 Agustus 2018


Malam ini saya mau bahas hal yang paling kronis dalam bangsa kita, yakni menghargai orang lain. Termasuk di dalamnya menghargai usaha dan kebaikan orang lain. Sudah terlalu banyak orang yang tidak menghargai, memberikan apresiasi kepada orang lain, bahkan terhadap circle hidup mereka. Sesimpel memberi sedikit pujian atau mengucapkan terima kasih akan sangat berarti dibandingkan kita menjatuhkan hasil karya orang lain. Contoh dari tidak menghargai jaman sekarang bukan lagi berupa acuh, melainkan sebuah cacian, makian, dan nyinyiran. Dampak dari tidak menghargai orang lain tentu bisa mempengaruhi psikis atau perkembangan orang lain. Buat saya, kebaikan sekecil apapun sangat butuh diapresiasi. Kenapa? karena kita gak tahu se-effort apa orang itu sudah berjuang memberikan yang terbaik.

Oke sekarang saya beri contoh sederhana. Orangtua yang tidak menghargai nilai rapor anaknya, lalu kemudian memarahi dan berlanjut menjugde anak itu bodoh. Percayalah anak butuh proses dalam belajar. Justru menghargai, memberikan apresiasi dan semangat akan lebih baik untuk perkembangan belajar dan mental anak. Sama halnya dengan guru kepada murid, atasan karyawan terhadap bawahan, dengan teman sejawat, rekan kerja, tetangga dan masih banyak lagi. Termasuk yang lagi marak sekarang adalah tidak menghargai para penyanyi yang memeriahkan Ceremony Opening Asian Games dan atlet Asian Games. Dalam kasus ini menurut saya ialah bukti puncaknya warga Indonesia tidak bisa menghargai jerih payah orang lain. Bahkan kini medianya sudah canggih. Hanya dengan memasukkan kalimat dalam kolom komentar, orang dengan mudah meruntuhkan semangat perjuangan orang lain. Yang mungkin tidak kita tahu, orang itu sudah mengerahkan segala kekuatan, menguras keringat, bersimpah darah dan amat memeras kantong uang. Kita gak tahu apa saja yang udah orang itu korbanin. Misalnya seperti bisa quality time bersama keluarganya, rela waktu istirahatnya disita, dan lain sebagainya.

Kalau untuk menghargai sesama aja kita belum bisa, apalagi kita mau bersama menyongsong masa depan yang lebih baik. Mulailah mencoba mengeluarkan kalimat-kalimat yang baik, minimal untuk orang di sekitar kita. Jikalau anak, murid, teman, atau saudara kita mengalami kegagalan atau berbuat suatu kebaikan yang menurutmu belum benar. Cobalah untuk menghargai dulu usaha mereka dan menasehatinya dengan lembut. Sesalah-salahnya mereka melakukan sesuatu, buat saya penting untuk diapresiasi. Misal seorang anak berusaha berbakti pada orangtuanya dengan membantu pekerjaan rumah lebih totalitas lagi, kemudian ternyata hasilnya tidak sesuai dengan keinginan atau standar orangtuanya. Lalu apakah lantas anak itu berhak untuk dimarahi atau diketusin? apakah lantas orangtua tidak berhak menghargai usaha anak yang mencoba menjadi anak yang baik untuk orangtuanya?

Mari kita viralkan untuk 'gerakan menghargai orang lain' ini. Mungkin terlihat sepele, tetapi dampak dari menghargai dan tidak menghargai orang lain akan sangat besar. Kita lihat bagaimana para youtuber bisa sukses dengan pencapaiannya, pasti terdapat didalamnya support dan apresiasi dan para subscribernya. Anak-anak yang bisa juara kelas pasti terdapat dorongan semangat dan penuh penghargaan dari orangtua dan gurunya. Para karyawan yang bisa mempersembahkan output kerjanya dengan baik pasti tidak luput dari dukungan atasannya. Akan sangat menyedihkan kalau kita jadi bom besar yang secara tidak sadar meruntuhkan semangat juang orang lain. Begitupun sebaliknya, akan sangat berarti sebuah apresiasi dan dukungan untuk suatu pencapaian.

Seperti yang kita tahu bahwa sebaik-baiknya manusia ialah bermanfaat untuk orang lain. Lantas apa manfaat yang kita dapatkan dari tidak menghargai orang lain?

#AYOBELAJARMENGHARGAI
#AYOBERIAPRESIASI
#AYOBERIDUKUNGAN

Jumat, 17 Agustus 2018


Berdasarkan apa yang saya posting sebelumnya mengenai definisi dan pentingnya bagian pekerjaan social media specialist. Pada postingan kali ini, saya akan bahas apa saja tanggungjawab pada bidang pekerjaan ini. Sebelumnya masuk pada materi tersebut, saya akan bahas rumpun pengetahuan yang menghasilkan bidang pekerjaan ini. Jadi pada umumnya, pekerjaan ini mengutamakan pelamar dari lulusan sarjana atau diploma dari jurusan ilmu komunikasi seperti program studi public relations, marketing communication dan advertising communication.

Meskipun banyak perusahaan yang mempersilahkan untuk freshgraduates atau pendidikan akhir SMA, namun pelamar juga dibatasi oleh persyaratan minimal satu tahun pengalaman dalam bidang terkait. Oke, balik lagi. Kenapa lebih mengutamakan jurusan dari rumpun ilmu komunikasi. Sebab dalam memegang tanggungjawab media sosial, sama artinya dengan mengedukasi publik melalui media sosial.

Berikut tanggung jawab Social Media Specialist atau Social Media Officers (SMO):
  1. Mengupdate sosial media dengan konten yang sesuai dengan tren terbaru. Publik akan menaruh perhatian lebih jika konten yang dihasilkan mengikuti tren yang sedang marak diperbincangkan. Dalam pemberian kontennya pun harus ada valuenya. Tidak hanya sekedar mempromosikan produk atau jasa perusahaan. Namun harus ada sesuatu yang informatif, inspiratif dan edukatif.
  2. Bertanggungjawab penuh atas konten yang diciptakan. Mulai dari mengumpulkan bahan konten yang ingin di publikasikan, menjadwalkan konten yang akan di unggah, mengubah atau mengevaluasi konten yang sudah diupload. Buat saya pekerjaan ini termasuk ke dalam golongan yang menggunakan fungsi manajemen. Sehingga konten yang publik lihat di media sosial tidak hanya sekedar konten untuk menyebarkan pesan semata. Namun secara kontinyu direncanakan, dipersiapkan dan dievaluasi terhadap setiap pergerakannya. 
  3. Membangun hubungan baik dengan audience. Seperti yang sudah kita pahami bahwa media sosial adalah media paling mudah untuk mencangkup dan merangkul banyak audience dalam waktu yang singkat. Social media specialist harus mendengarkan, merespon komentar audience dengan ramah dan membantu mereka bila ada masalah. Balik lagi tujuannya adalah mengedukasi publik. Bagaimana kita memberi pemahaman kepada mereka, dan membantu menyelesaikan kendala yang dihadapinya. 
  4. Meningkatkan advocacy brand melalui word of mouth marketing. Inilah yang bisa kita andalkan jika kita sudah memiliki costumer yang sudah puas dan berlangganan dengan kita. Konsepnya dalam hal public relations begini, kita harus membuat pelanggan menceritakan kepada orang lain tentang betapa worth it nya produk atau jasa perusahaan kita. Menandakan bagaimana kita harus memperlakukan costumer dengan baik. Untuk kemudian perusahaan menjadi produk atau jasa yang direkomendasikan. 
  5. Monitoring terhadap kompetitor atau pesaing. Hal ini sangat perlu dilakukan. Jadi pesaing adalah sekelompok atau organisasi yang memiliki pasar yang sama dengan kita. Misalnya Gojek, kompetitornya berarti Grab. Pesaingnya Indomaret yaitu Alfamart. Manfaat dari memerhatikan perkembangan pesaing ialah menjadi bahan evaluasi kita dalam berkerja. 
  6. Evaluasi setiap project dan laporan hasil. Termasuk ke dalam step yang krusial yaitu evaluasi dan laporan output pergerakan kita di media sosial. Apalah perencanaan tanpa adanya evaluasi. Evaluasi berguna untuk meningkatkan kinerja menjadi lebih baik lagi.
Well temen-temen, sudah kebayang belum nih tugas dari Social media officers seperti apa. Silahkan isi komentar di bawah untuk menambahkan apa aja tanggung-jawab dari social media officers di suatu perusahaan atau organisasi. Masih ada lagi nih satu episode untuk serial social media specialist. Tunggu postingan selanjutnya yaa.

Selasa, 07 Agustus 2018


Di era millenial seperti sekarang, sebuah proses komunikasi berjalan sangat cepat. Tidak perlu dilakukan secara tatap muka, seorang komunikator dapat mengetahui feedback atau tanggapan dari komunikan. Hal tersebut tentu tidak akan terjadi, bila tidak adanya teknologi yang semakin canggih. Perkembangan teknologi komunikasi beserta implikasi dan outputnya membuat banyak institusi maupun individu terdorong untuk menjadi peserta media sosial.

Kita bisa artikan bahwa popularitas sebuah institusi sangat erat kaitannya dengan keberadaannya di media sosial. Kenapa? melalui media sosial, institusi dapat menjangkau khalayak luas dengan waktu yang singkat. Pun bisa mendapatkan feedback yang cepat dari audiencenya. Oleh karena itu dalam organisasi atau perusahaan sangat tinggi tingkat urgensinya dalam menyediakan bagian penanggungjawab social media. Atau yang sering disebut admin media sosial, social media officer, dan social media specialist. 

Unuk membangun brand image atau kesadaran audience akan brand, media sosial sangat bisa diandalkan. Berbagai platform seperti facebook, instagram dan youtube dapat membantu perusahaan. Mulai dari menyebarluaskan, merancang, menjadwalkan, memberikan tanggapan dan mengevaluasi pesan yang disampaikan kepada audience. Maka tidak sedikit yang mengandalkan media sosial untuk image building atau pencitraan

Namun berdasarkan definisinya, seperti apa bidang social media specialist ini?

Berdasarkan apa yang saya baca di situs qerja.com social media specialist adalah orang yang mengurus dan memantau perkembangan media sosial suatu perusahaan, ia bertanggung jawab terhadap performa akun sosial media dan juga mendongkrak brand atau image perusahaan tersebut.
 
Bisa dipahami bahwa jobdesc social media specialist ini diantaranya adalah merancang dan mengupload konten di berbagai platform media sosial, menanggapi audience dan mengevaluasi konten dan strategi penyebaran kontennya. Perlu diketahui bahwa dewasa ini tidak hanya sebuah organisasi yang memerlukan bidang kerja ini. Namun pejabat publik atau selebritis pun punya orang yang bertugas memegang media sosialnya. Lalu apa saja tanggungjawab dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan bidang media sosial ini? tunggu episode social media specialist selanjutnya.

Selasa, 29 Mei 2018


Teman-teman, hari ini, tepatnya pada 29 Mei 1453, umat islam berhasil berhasil menakhlukkan Konstantinopel. Hari ini, tepatnya 565 tahun silam, seorang anak muda berusia 21 berhasil menundukkan kekuasaan Heraklius. Setelah sebelas abad Kerajaan besar Konstantinopel berjaya, hari ini, 565 tahun yang lalu akhirnya diruntuhkan oleh pemuda dari khalifah ke tujuh Daulah Ustmaniyah.

Kemenangan umat Islam atas Konstantinopel ini tak terlepas dari nubuat Nabi Muhammad SAW pada delapan abad yang lalu. Tatkala kaum muslimin sedang bertempur dalam perang Khandaq, salah seorang sahabat bertanya "Ya Rasul, mana yang lebih dahulu jatuh ke tangan kaum Muslimin, Konstantinopel atau Romawi?" Kemudian Nabi menjawab, "Kota Heraklius (Konstantinopel)." 

"Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)
Seperti yang sudah kita ketahui temen-temen, Kota Konstantinopel jatuh di bawah pimpinan perang Sultan Mehmed II. Berkat kesholehan dan kepiawaian dalam merancang strategi perang, khalifah ke tujuh ini mendapatkan gelar, Al-Fatih, yang artinya Sang Penakhluk. Jika ingin meneladani, sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan, lihatlah perjuangan Al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel. Sejak kecil , ayahnya, Sultan Murad II menimpa banyak pengetahuan padanya melalui guru dan ulama yang berpengalaman. Sehingga Al-Fatih tumbuh menjadi pemuda dengan kemampuan menguasai berbagai bahasa asing, hafalan Qur'an 30 Juz dan menguasai banyak ilmu termasuk strategi perang. Al-Fatih pun tak pernah meninggalkan shalat malam, puasa dan ibadah sunnah lainnya. Sejarah mencatat, strategi keberhasilan Al-Fatih adalah menyebrangkan 70 kapal laut melintasi Galata menuju Golden Horn (tanduk emas). Yang dimana, sisi timur Konstantinopel ini merupakan titik lemah kota terkuat pada zaman itu.


Banyak pelajaran yang dapat diambil atas runtuhnya Konstantinopel di tangan pemimpin dan pasukan terbaik. Kota terkuat yang sudah berkali-kali didatangi Ayah, Kakek dan seterusnya, namun belum juga bisa dikalahkan. Berangkat dari itu Muhammad Al-Fatih, seorang anak muda memiliki keresahan terhadap Konstantinopel. Menaklukkan Kota tersebut seakan menjadi life goalsnya. Inilah penting adanya keresahan pada umat dalam hidup kita. Sebab hidup tidak melulu tentang diri kita dan di sekitar kita. Banyak orang mengatakan sebuah karya lahir dari sebuah keresahan. Lihatlah Negara Turki sekarang dengan keindahan Hagia Sophianya. Segala kemakmuran Turki saat ini tak bisa lepas dari hasil kepemimpinan khalifah ketujuh Daulah Ustmaniyah ini.

Hari ini, setelah 29 Mei berlalu selama 565 kali, adakah pemuda islam seperti Mehmet lagi di dunia ini? Setelah 565 tahun Konstantinopel ditaklukkan, adakah pemuda islam yang memiliki keresahan terhadap Roma? Setelah 961 tahun Shalahuddin membebaskan Yerussalem, kemudian terjadi pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Adakah pemuda yang punya bara api serta strategi untuk mengenyahkan Israel dari tanah Palestina? Setelah 565 tahun yang lalu, apa yang terjadi pada pemuda umur 21 tahun jaman sekarang? Untuk itu temen-temen, patutkah kita terutama anak muda meresahkan hal yang remeh-temeh?

Mari teman-teman kita keluarkan keresahan-keresahan kita terhadap negara dan agama ini. Bukankah anak muda yang menjadi pelopor bangsa dan agamanya? Jika semua orang hanya memiliki keresahan terhadap kehidupannya masing-masing, lalu siapa yang akan menjadi problem solver pada segala permasalahan yang ada di dunia ini? Pasti ada, namun sangat kecil persentasenya. Mari teman-teman kita bersatu menjadi Muhammad Al-Fatih era kini. Mari berkaca lagi kebaikan apa yang sudah kita perbuat dan yang belum kita lakukan. Selamat berprogres teman-teman :)

Kamis, 12 April 2018


Selamat siang temen-temen. Apa kabar nih? Semoga selalu semangat terus yaa. Berdasarkan dua postingan sebelumnya, saya mau bahas sisi kehumasan yang ada di serial Drama The Publicist. Buat temen-temen yang belum baca review drama The Publicist buatan Viu Indonesia, yuk langsung di klik aja link disini yaa.

Tapi kita pendahuluan singkat dulu. Jadi The Publicist ini merupakan serial drama dari Viu Indonesia. Di sutradarai oleh Monty Tiwa dan dibintangi oleh Adipati Dolken, Prisia Nasution, Baim Wong, Poppy sovia dan Reza Nangin. Serial drama ini tayang di aplikasi Viu mulai November 2017. Drama ini menceritakan seorang Reynaldi (Adipati) aktor yang mengalami krisis kepercayaan publik karena tersandung skandal narkoba. Kemudian hadir seorang image consultant, Julia Tanjung (Prisia) yang diminta untuk membantu memperbaiki citra dan reputasi Reynaldi. Ada Robert Hanafi (Baim), pengusaha sukses sebagai teman lama Julia.  Well langsung aja saya akan review film ini berdasarkan sisi kehumasannya. Kalau dibikin jurnal atau karya ilmiah, mungkin judulnya gini 'Peran Humas Perbaiki Citra dalam Serial Drama Indonesia (Studi kasus Drama The Publicist dari VIU Indonesia).' Heheheh

1. Manfaatkan Digital Publicist.

Kata Mba Julia image building jaman sekarang itu erat kaitannnya dengan sosial media. Karena bagus untuk keberadaan di sosial media. Aneh sih disini Rey gak main sosial media sama sekali. Hampir gak realistis kalau seorang artis jaman now gak punya sosial media. Disini dijelaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan untuk memperbaiki citra ialah menggencarkan sosial media. Of course, all people now, social media adalah tempat terbaik untuk pencitraan.

Dalam penggunaannya pun disini konsultan Julia mengarahkan untuk menetapkan target sasaran berdasarkan karakteristik sifat yang sesuai. Media sosial dimanfaatkan tidak hanya menjelaskan siapa kita. Akan tetapi dapat dimanfaatkan untuk sarana edukasi. Untuk media pembelajaran. Saya pernah denger kata dosen saya, pekerjaan PR itu esensinya tentang mengedukasi publik. Sebab kalau untuk menciptakan citra positif semua orang juga bisa. Namun bagaimana yang dipublikasikan mengandung value-nya. Ada nilainya, jadi substasinya gak terkesan picisan. Seperti Rey yang mengunjungi tempat rehabilitas narkoba dan memberikan pencerahan serta motivasi kepada mereka. Kemudian asisten yang diminta Julia sebagai Digital Publicist untuk melakukan live streaming di akun instagramnya Rey.

2. Public Relations harus punya network yang luas

 Public Relations maupun image consultant harus punya banyak relasi. Meskipun fokusnya adalah mengembangkan dan mempertahankan mutu. Tapi bisa sia-sia kalau gak punya jaringan yang luas. Kalau menurut saya, soalnya humas itu bisa bekerja dalam industri atau bidang apapun. Jadi humas Bank minimal harus punya kenalan orang-orang yang berkecimpung dalam keuangan dan perbankan. Humas perfilman, harus punya jaringan Production House, sutradara dan aktor-aktor. Humas seorang aktor pun lebih luas lagi. Tidak hanya harus kenal orang-orang dalam industri entertaiment. Melainkan tahu pihak-pihak yang terlibat dalam dunia seni peran beserta isinya. Seperti Julia yang punya kenalan teater Lampu sebagai tempat unjuk bakat Rey sebagai aktor hebar.

3. Good media relations

Melibatkan media sangat penting dalam pembentukan citra. Seperti halnya Julia yang mengundang para wartawan dari berbagai media untuk memperlihatkan kehebatan Rey di teater setelah selesai dari rehabilitas. Tidak hanya pembuktian secara langsung, Julia pun memberikan penegasan bahwasanya Rey merupakan aktor dengan akting yang sungguh luar biasa. Tidak sekedar mengundang, dengan sopan secara lisan maupun tulisan, Julia juga menjamu media dengan makan malam yang telah dia sediakan. Guna menciptakan rasa nyaman media untuk melakukan wawancara lebih lanjut. Pasca acara tersebut Julia dengan team membaca pemberitaan yang berisi tentang Rey. Hal ini juga yang seorang humas lakukan yaitu, media monitoring. Untuk kemudian dianalisis dan dievaluasi apakah pemberitaan tersebut menimbulkan citra positif, negatif atau netral.

4. Make a good looking


Dalam hal apapun, kita semua paham kalau jika ingin menggapai hasil yang memuaskan maka pondasinya harus kuat dulu. Sama halnya dengan perspektif kehumasan, jika ingin publik seneng, tertarik sama produk atau jasa kita, kita harus bikin dulu kemasannya sebagus mungkin. Dalam hal ini kemasannya ialah penampilan Reynya. Julia merubah Rey agar lebih good looking. Julia merubah semua style Rey agar terlihat professional dan lebih kekinian. Professional image tentu sangat berpengaruh untuk membangun citra positif.

5. Image building bukan pembohongan publik

Meskipun seorang humas harus totalitas dalam pembentukan citra. Namun bukan sebuah pembenaran jika harus melakukan pembohongan kepada publik. Humas harus tetap bersikap jujur sekalipun harus mengakui kesalahan. Tapi jujurnya harus yang berkelas, dengan tidak menjatuhkan diri sendiri. Dalam drama ini, Javier asisten Rey melakukan pembohongan publik, yang mana Javier mengumumkan di social media kalau Rey adalah aktor pemain sebuah film bernama Java Raphsody. Padahal pada tahap itu, Rey masih masuk tahap mau audisi. Belum tentu lolos. Well, be honest is still number one. PR always striving to be absolute the best.

6. Press conference untuk klarifikasi

Press conference merupakan solusi paling awal jika perusahaan terkena masalah. Tentunya setelah planning yang matang, perusahaan harus segera buka pembicaraan di publik. Jika perusahaan menghindar, publik akan menilai perusahaan mengatasi konflik dengan gaya yang tidak kooperatif. Apapun situasinya PR perlu menciptakan situasi tenang, dan meredakan suasana konflik. Seperti yang dilakukan Julia, saat penangkapan Rey dari BNN yang kedua kalinya. Julia melakukan penolakan tuduhan narkoba serta memberikan pembuktian bahwa tuduhannya tidak valid.

Well yeah saya berasa lagi kuliah 3 SKS Manajemen Humas hahaha. Correct me if i wrong. Silahkan bila ada yang ingin menambahkan. Yang belum nonton, harus nonton banget kalau kalian tertarik mempelajari dunia kehumasan. Yaa minimal sampai episode delapanlah. Selebihnya konflik-konflik hubungan antar Rey, Julia sama Robert aja sih.

Oh iya postingan sebelumnya saya lupa kasih kekurangan dan kelebihan. Jadi kelebihannya buat saya, serial drama ini bagus banget dari sisi penokohan, alur dan sinematografi.  Kalau kekurangannya, saya bingung kenapa gak diceritain kemana keluarga Robert, Julia dan juga Rey. Cerita akan lebih lengkap dan terasa lebih realistis jika diceritakan sedikit secara historis perihal keluarga mereka. Soalnya Julia hanya menceritakan adeknya saja. Saya kasih nilai drama ini 8 dari 10. Terima kasih yang udah baca sampai habis wkwkwk. Sampai ketemu di postingan selanjutnyaa.

Senin, 09 April 2018


Selamat siang temen-temen. Jadi mulai Maret lalu saya udah mulai aktif kuliah lagi. Setelah 7 bulan vakum untuk kerja dan istirahat di rumah. To be honest, hari pertama saya kuliah diisi dengan rasa full of lazy, badmood abis dan perasaan lain-lainnya yang bikin saya jadi malas kuliah. Awalnya saya semangat untuk kuliah lagi karena hanya ingin mengejar title sarjana, berhubung yang tahun lalu baru wisuda diploma. Saya merasa iri dengan orang-orang yang bisa mencapai gelar sarjananya.

But guess what i get in my first day of collage?

Saya diingatkan lagi bahwa kalau hidup itu bukan tentang cepet-cepetan memasuki babak kehidupan. Like i said in another post. Life is learning and giving the best. And the best isn't always the fastest. Life is about how you gain achieve something that people can be proud of it. Kita lupa tentang hausnya ilmu kaya waktu kita masih TK. Bagaimana semangatnya kita ingin mempelajari hal baru. Kebanyakan dari kita tidak tumbuh curiosity. Bahkan cenderung memakai cara instan tanpa menikmati proses sebuah keberhasilan.

Dulu saya merasa kurang paham betul pentingnya pendidikan. Saya merasa saya harus kuliah karena untuk mewujudkan cita-cita orangtua memasukkan anaknya di Perguruan Tinggi Negri. Saya tertarik kuliah karena teman-teman saya pun pada kuliah. Saya semangat kuliah hanya sekedar ingin terbebas dari masa SMA, dan masuk ke dunia yang baru. Sampai-sampai saya semangat kuliah hanya biar kaya impian orang-orang. Lulus Tepat Waktu.

Saya tidak tahu apakah hanya saya yang merasakan, beratnya kuliah lagi. Hanya karena yang lalu baru sampai jenjang D3. Kemudian lanjut lagi kuliah 1,5 sampai 2 tahun lagi. Yang kalau dikalkulasikan saya butuh 5 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana saya. Jadi yaa ketika orang-orang sudah bisa melanjutkan babak kehidupan lainnya. Saya masih stagnan disini. Masih kuliah. S1 pun. Sebut saja saya orang yang tidak bersyukur karena bisa kuliah lebih tinggi.

Sampai saya sadar bahwasanya keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur dengan rentang waktu dan dibatas oleh tempat. Belajar pun bisa dimana saja. Bertemu dengan orang baru juga termasuk kategori belajar, jika substansi bermanfaat. Pendidikan yang bikin kita aware sama kondisi dan kejadian sekitar. Tidak hanya terpaku menjalani kehidupan pribadi semata. Pendidikan bener-bener melatih kita untuk berbicara dengan baik. Modal untuk kita bisa masuk ke dunia luar. Bagaimana kita mau diterima dengan baik, jika ilmu yang kita punya tidak sepadan dengan lawan bicara kita. Pendidikan membantu kita untuk bisa memanage waktu dengan baik dan mengaplikasikan ilmu yang kita punya ke dalam keseharian kita. Pendidikan pula yang bikin kita naik level dari berbagai macam hal. Tidak hanya gaya bicara, namun gaya kita duduk, mendengarkan, melihat dan berpenampilan menjadi representatif seberapa berpendidikannya kita. Dan hal-hal tersebut yang akan dipakai di dunia sesungguhnya dan dinilai oleh banyak orang.

Berangkat dari itu saya belajar untuk lebih menghasilkan karya dari ilmu yang saya punya. Saya jadi memikikan banyak studi kasus yang bisa dikaitkan dengan keilmuan yang saya dapat selama kuliah. Saya merasa punya ambisi untuk melakukan banyak hal, bahkan diluar keilmuan saya. Saya jadi berpikir, seseorang yang bisa menjalani fase kehidupan di usia muda belum tentu mempunyai bekal yang cukup kuat. Jadi misalnya belum ditakdirkan untuk lulus kuliah, bekerja, menikah, dan punya anak. Yuk kita galih ilmu sedalam-dalamnya. Kita create diri kita menjadi orang yang lebih berpendidikan. Jangan lelah menuntut ilmu, karena semua yang kita dapatkan pasti akan membawa manfaat. Jika boleh mengutip saya sepakat pada seseorang yang percaya kalau apa yang sekarang saya upayakan, saya korbankan akan setimpal dengan yang saya dapatkan nanti di masa depan. Atau mungkin malah lebih. Sebab untuk berkembang, untuk menjadi seseorang yang lebih baik untuk berguna pada bangsa, agama, terutama untuk kita sendiri, itu batu loncatannya harus jelas Yang temen-temen perlu inget juga adalah zona nyaman adalah jebakan. Kita harus bikin gebrakan untuk buktiin sebuah perubahan dalam diri kita. Yeah saya juga berusaha keras untuk no comvert zone. Well, demi masa depan bangsa, anak, cucu kita nanti, semangat terus yaa temen-temen dalam menempuh dunia pendidikan. Jangan lupa bersyukur hari ini :)


Jumat, 30 Maret 2018


Halo temen-temen. Berhubung hari ini tanggal 30 Maret, Hari Film Nasional. Saya pengen review sebuah serial drama, berjudul seperti poster diatas, The Publicist. Menurut saya drama ini menjadi wajah baru dalam rekam jejak serial drama, maupun perfilman Indonesia. Kalau kalian pernah denger aplikasi VIU. Viu merupakan sebuah layanan video-on-demand (Film/Drama Korea terbaru dll). Tidak dipungut biaya selama 30 hari pertama dan selebihnya dikenai biaya 30ribu per bulan, jika ingin melanjutkan. Jadi Serial ini dipublikasikan di aplikasi Viu, yang kalian bisa download di ponsel, maupun tablet. Temen-temen bisa nonton video-video di Viu secara online maupun offline.

Buat temen-temen yang sering nonton drama korea (drakor), The Publicist bisa menjadi pilihan drama Indonesia rasa Korea. Drama yang sering melibatkan antara konflik percintaan dengan dunia politik, kedokteran, jurnalistik dan lain sebagainya. Kalau kalian pernah nonton Pinocchio, drakor yang bertemakan dunia wartawan. The Publicist ini menurut saya sebelas dua belas sama Pinocchio.  The Publicist melibatkan ilmu kehumasannya. Serial drama ini di sutradarai oleh Monty Tiwa, sutradara yang cukup banyak men-direct film-film layar lebar. Seperti Sabtu Bersama Bapak, Critical Eleven, Mau jadi Apa? dan film yang akan tayang April nanti Reuni Z. Dibintangi oleh aktor pemenang FFI 2013, Adipati Dolken, Prisia Nasution, peraih Piala Citra FFI juga tahun 2011, Baim Wong, Poppy sovia dan Reza Nangin.

Serial drama ini tayang sebanyak 13 episode mulai 22 November 2017, setiap hari rabu dan kamis. Dimulai dengan kisah seorang Reynaldi (Adipati) aktor yang mengalami krisis reputasi karena tersandung skandal narkoba. Kemudian datang seorang image consultant muda, cantik dan professional, Julia Tanjung (Prisia Nasution) yang diminta untuk membantu memperbaiki citra dan reputasi Reynaldi. Agar ia bisa kembali berkarir di dunia hiburan. Kemudian ada Robert Hanafi (Baim Wong) sebagai teman lama Julia, pengusaha muda yang maju ke Pilkada untuk pemilihan walikota. Dari situasi yang seperti ini, kita bisa merasakan drama Indonesia rasa korea.

Jadi, saya akan review berdasarkan dua sisi. Sisi penilaian teknis film itu sendiri dan sisi konten cerita dalam kacamata dunia kehumasan. Disclaimer ini kacamata saya pribadi. Tidak maksud untuk menjatuhkan atau melebih-lebihkan. Berhubung saya bukan orang film, saya akan menilai apa adanya sebagai orang awam. Kurang lebihnya mohon ditambahkan yaa temen-temen.

1. Poster

Poster-poster The Publicist ini menampilkan wajah Prisia, Adipati dan Baim wong saja. Background posternya, tempat kerja Prisia atau hitam dengan nuansa lampu-lampu. Kalau dari segi poster, buat saya pribadi tidak langsung tertarik untuk menontonnya. Mungkin karena saya tipikalnya butuh waktu lama untuk akhirnya memutuskan untuk menonton atau membaca suatu karya. Jujur first impression waktu sering lihat iklan tentang serial ini, my reaction is flat. I don't know, just i don't have any reason to watching this drama. Menurut saya, poster yang ditampilkan tidak mencirikan  nuansa filmnya seperti apa. But perhaps this is they said 'dont judge by cover.' Rupanya dalemnya wow menarikkkk.

2. Trailer

Trailer The Publicity berdurasi satu menit. Gaya trailernya menurut saya sudah terbilang mirip dengan trailer drama korea lainnya. Sangat mirip dengan ala-ala drakor karena pengambilan lokasi syuting ini ada yang di Jepang. Trailer juga ada subtitle bahasa inggrisnya. Saya kurang paham sih pengaruh keberadaan subtitle inggris di trailer ini. Kalo dramanya memang menggunakan subtitle, tapi berbahasa indonesia. Secara keseluruhan, trailernya menurut saya menggambarkan 60% alur cerita. Julia Tanjung dicintai oleh dua orang yang sangat berbeda, Reynaldi, mantan pecandu narkoba dan Robert, sang pengusaha muda.

 

3. Original Soundtrack.

Saya pernah baca di suatu platform kalo lagu tema atau soundtrack yang baik yang bisa membingkai cerita atau menggambarkan tokoh utama dalam film. Soundtrack film ini yang akan menjadi brand image suatu film. Sehingga apabila orang mengingat lagu tersebut, akan mengingat pula filmnya. Soundtrack The Publicist ini. Monty Tiwa sendiri yang menciptakan liriknya. Diaransemen oleh Andi Rianto dan dinyanyikan oleh Marcell Siahaan berjudul Changing Lanes. Bila ada permintaan rate, soundtrack ini saya beri nilai 8/10. Alasannya, pertema tentu originalitas lagunya. Kedua, cukup mewakili alur ceritanya. Seorang junkie yang ingin kembali, merubah citra diri menjadi positif. Seperti halnya judulnya Changing Lane merubah jalur.



4. Pemeran atau penokohan

Buat saya karakter yang dimainkan disini sudah pas dan sesuai porsinya. Tidak ada yang kurang dan dilebih-lebihkan. Prisia mampu memerankan karakter pekerja tangguh dan image consultant yang professional. Pun Adipati Dolken sudah tidak bisa diragukan lagi aktingnya mendekati sempurna dalam memerankan karakter Rey. Tapi sepertinya saya cenderung menyukai karakter Robert yang di perankan Baim Wong- yang menurut saya sangat istimewa. Jadi Robert ini kan workaholic banget, tapi Robert juga bisa sweet dan lembut sama Julia. Yang bikin saya sakit hati, Robert business oriented banget. Kaku gitu. Kurang bisa membawa suasana menjadi menyenangkan. Tapi kalau Rey terlalu anak kecil sifatnya, kalo gak suka sama sesuatu langsung pergi gitu aja~ So, yeah karakter mereka kuat banget. Saya pernah denger penokohan dikatakan sukses, kalau berhasil membuat penonton cinta atau kesel banget sama peran yang dimainkan. Berarti menunjukan keberhasilan dalam berakting.

5. Konten Cerita

Jadi tema serial drama ini menurut saya merupakan gabungan dunia aktor dengan dunia kehumasan. Pada episode pertama kita disuguhi dengan lokasi syuting Rey, lalu ada casting film, syuting iklan, dan audisi teater. Meski menurut saya, sedikit lebih banyak unsur kehumasannya seperti keterlibatan pers pada saat wawancara, konferensi pers, media sosial dan citra dalam penampilan juga sikap. Opening dan alurnya drakor banget, maju mundur gitu. Klimaks atau konfliknya gak picisan kaya sinetron. Cukup gak bisa ditebak. Dengan adanya konflik masa lalu disini buat saya menjadi nilai plus kesamaan dengan drama korea.

6. Sinematografi

Cukup suka pengambilan gambarnya. Pergantian shoot per shootnya bagus. Apalagi pas scene Rey mabuk di jalanan, udah kelas drakor banget. Colour gradingya juga hidup. Yeah, you know sekelas Monty Tiwa udah gabisa diragukan lagi filmnya.

7. Scene dan dialog terbaik

Saya suka setiap scene Julia yang bareng sama Robert. Menggambarkan hubungan dua orang dewasa yang sangat profesional. Dialog terbaiknya "You're a great actor rey, you have to know that. Gak ada jumlah narkoba yang bisa hapus itu." In my perspective, it's like mau seburuk apapun masa lalu kelam kamu, yang namanya udah bakat, itu gak akan bisa tenggelam :')


Di hari film nasional ini, saya berharap yang terbaik untuk perfilman Indonesia. Semoga semakin banyak produksi film-film yang memiliki nilai-nilai positif dan edukasinya. Jadi tidak hanya sekedar menghibur saja. Apapun genre atau temanya, film bisa mewakili karakter bangsa Indonesia. Suatu film lahir bukan untuk tandingan film-film yang sudah ada. Melainkan menjadi perkembangan pencapaian film yang harus lebih baik lagi. Dan sebagai kacamata seorang muslim, saya berharap akan lebih banyak lagi produksi film yang punya nilai islami, meneruskan dakhwah rasulullah.

Last, jaya dan dukung terus perfiman Indonesia(:

Jumat, 02 Februari 2018

Hari ini 1 Januari 2018. Udah seminggu film Dilan 1990 tayang di bioskop. And guess what, baru hari ke 7 tayang, penontonya sudah mencapai 2 juta lebih. Selamat tim produksi Falcon beserta para kru dan pemainnya. Buatku ini merupakan sebuah rekor sih. Rekor untuk film yang merupakan adaptasi dari sebuah novel. Juga rekor untuk film bergenre remaja SMA. Film Dilan cukup booming dengan berbagai memenya tentang beberapa dialog dan adegan yang ada di film ini. Aku tidak akan membahas beratnya rindu seperti yang ada pada dialog. Namun jangan hujat aku karena kesibukanku, sampai detik ini aku belum juga nonton filmnya. Honestly, i excited enough to waching this movie.

Terlepas karena film Dilan dosis bapernya tinggi, apalagi karena pemain utamanya itu Iqbal Ramadhan. Ada keinginan nonton Dilan karena udah pernah baca ketiga novelnya karya Pidi Baiq. Kalau kalian team baca novelnya dulu baru nonton filmnya atau nonton dulu filmnya belum belum baca novelnya? Novel Dilan aku baca kalau tidak salah tahun 2015. I curious enough apakah filmnya cukup representatif dari segala hal yang ada di novelnya. Alasan-alasan orang nonton film di bioskop pasti beragam macam. Ada orang yang mau nonton sebuah film, tapi tidak termotivasi untuk menontonnya di bioskop. Jadi nunggu filmnya tayang di TV atau keluar di bioskop online aja gitu. Berikut lima alasan orang-orang yang nonton film di bioskop.

1. Film yang di adaptasi dari novel. 

Kebetulan aku adalah salah satu orang yang sering menonton film dari adaptasi novel yang udah ku baca. Film pertama yang ku tonton itu film Laskar Pelangi. Laskar Pelangi menurut tante wikipedia, termasuk kategori film dengan penoton terbanyak yaitu sekitar 4 jutaan. Novel yang aku baca waktu SD itu, aku tonton sebanyak dua kali pas SMP.  Film ini masih menginspirasi sepanjang hidupku. Mulai dari ceritanya, pemeran-pemerannya bahkan lirik lagu soundtracknya. Ah, jadi mau nostalgia dengan mimpi-mimpi kecil jaman SMP.

Tante Wikipedia
2. Memiliki kesamaan dengan film tersebut.

Akhir tahun 2016, aku nonton film Negeri Van Orange dengan alasan utama udah baca novelnya beberapa bulan lalu. Gak menyangka banget kalau mau di film-in. Alasan aku nonton film itu sebagai nostalgia karena latarnya mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Jadi mengingat jaman sempet tinggal di negara tulip dulu. Waktu itu aku juga pernah review filmnya di sini. So orang bisa termotivasi untuk nonton sebuah film mungkin karena memiliki kesamaan dari segi pengalaman. Seperti mantan-mantan santri mungkin akan memutuskan untuk nonton Cahaya Cinta Pesantren.

3. Suka sama genrenya atau Aktor pemainnya bagus

Gak jarang, orang akhirnya memutuskan menonton sebuah film di bioskop karena yang main salah satu artis idolanya. Beberapa kali aku denger curhatan temen, yang rela-relain nonton sebuah film karena ada Herjunot Alinya. Atau karena ada Reza Rahadiannya. Banyak juga orang yang tertarik dengan sebuah film karena menaruh attention pada film tersebut. Sebab bergenre thriller, horor, komedi, romance, islami, action,atau animasi mungkin. Ada satu film bergenre islami yang menginspirasi banget buat aku. Ada yang masih inget film Iqro? film garapan masjid Salman ITB yang melibatkan tentang membaca Al-Qur'an. Masih inget banget kebetulan waktu itu lagi ada masalah, setelah nonton film itu entah kenapa jadi menemukan pencerahan.

Berhubung suka sejarah, aku jadi tertarik dengan film dokumenterThat's why aku juga sering nonton film yang memang di angkat dari kisah nyata di masa lalu. Film-film sejarah yang pernah ku tonton itu, Sang Pencerah; sejarahnya Muhammadiyah. Juga kisah presiden kita Pak BJ.Habibi, dari jaman masih kuliah sampai nikah dengan almarhumah ibu Ainun. Ah sama ini film Dibalik 98, latar tempat dan suasananya menggambarkan sejarah banget pas ricuhnya rezim Soeharto 1998. Di balik 98 termasuk film yang kutonton sebanyak dua kali di bioskop. Tentu dengan temen yang berbeda.

4. Sensasi nonton bersama-sama

Ada sebagian orang yang kurang bisa nonton sendiri. Seakan lebih nyaman untuk menonton bersama di bioskop. Pun dengan orang-orang yang tidak di kenalinya. Katanya sih feelnya lebih dapet daripada nonton sendiri di rumah dengan laptopnya. 

5. Refreshing atau nemenin temen

Pas jaman kuliah, pernah nonton film Supernova,  Now You See Me 2, Spiderman, Assalamu'alaikum Beijing dan Koala Kumal cuma karena iseng aja cari hiburan. Refreshing dari rutinitas yang penat dan kadang membosankan. Nonton film Hangout pun cuma sebatas nemenin adik. Iya, nonton film luar pun aku cuma sekedar iseng aja. Of course manfaat dari nonton iseng bisa di jadikan bahan pembicaraan biar makin nyambung ngobrol sama temennya. Berdasarkan riset kecilku di Instagram, orang pergi nonton ke bioskop lebih banyak dengan alasan ini ketimbang karena suka genrenya. It means kita gak bisa pungkiri kalo nonton film di bioskop merupakan salah satu bentuk hiburan masyarakat Indonesia.



Padahal ujung-ujungnya juga bakal tayang di TV, tapi mungkin alasan di atas bisa membuat orang  tidak sabar menunggu filmnya keluar di bioskop online. Ada satu alasan terakhir kalau dari aku, why finaly i decided to watching a movie in cinema? Demi mendukung dunia perfilman Indonesia. Klasik sih emang hehe. Berhubung dulu pernah bercita-cita jadi sutradara film walaupun sekarang engga lagi. I only be a movie observer. Tapi niatan untuk coba bikin film tetep ada. Bolehlah kalau ada projek film, mungkin bisa di libatkan heheh. That's why i passionate enough to editing video.
Anyway, Kalau kalian nonton film di bioskop karena alasan nomor berapa? Atau ada yang punya alasan lain mungkin. Tell me below the comment :)


Senin, 22 Januari 2018

Alhamdulillah, 15 Januari 2018 kemarin aku baru aja memenangkan Juara dua Hiburan Lomba blog dari dompet dhuafa. Jujur ini pertama kalinya ikut kompetisi blog ini. Aku bersyukur banget bisa menjadi salah satu pemenang, meskipun bukan pemenang utama. Biasanya cuma ikut lomba tulis cerita aja. Sebelum mulai nulis, aku searching dulu karakteristik pemenang seperti apa. Selain pastinya mengikuti syarat dan ketentuan, juga harus ada infografik atau gambar pendukungnya sebagai ilustrasi sebuah tulisan.

Pengumuman Pemenang di Dompet Dhuafa

Entah ini yang ke berapa kalinya, aku merasa kalo jadi content creator dengan media blog itu rupanya gak semudah yang ku kira. Padahal yaa hanya modal nulis doang kan ya. Tapi kenyataanya gak sesimpel itu. Selain kita harus mempertanggung jawabkan apa yang kita tulis. Kita juga perlu berpikir keras dengan memperhatikan relevansi tulisan kita.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan tulisanku, aku menemukan banyak hal yang ada pada sang juaranya. Namun tidak kutemukan pada tulisan blogku. Well, i would like to review juara 1 dan juara 3. Kenapa juara 2 enggak? Karena buatku, juara 2 memang sudah bagus dari segi kontennya. Juara pertama dan juara ketiga sudah memiliki domain sendiri yaitu www.dudukpalingdepan.com dan joecandra.com. Jadi menurutku inilah 5 alasan mengapa mereka pantas dan layak untuk menang.

1. Redaksi yang di pakai ringan dan enak di baca. 

Runutan tulisan tidak langsung serta merta membahas topiknya, tapi menceritakan pengalaman atau kisah pribadi mereka. Yang which is ini related banget menurutku sama pengalaman kebanyakan orang. Juara pertama awalnya menceritakan semasa kuliahnya dulu akif dalam lembaga kemasyarakatan, lalu setelah mempunyai keluarga tetap menjadi relawan namun berupa donasi. Sedangkan juara ketiga berawal dari salah jurusan saat kuliah, lalu berkiprah di UKM untuk mengembangkan passionnya. Berkat passionnya dalam UKM, dan modal salah jurusan ini justru menjadi bahan untuknya mengajar dan menjadi relawan untuk banyak orang. Yang tulisan juara 3 aku ini aku suka banget sih, karena alur tulisannya gak ngebosenin. Dari menceritakan tentang pendidikan sampai bercerita dengan jelas mengenai Dompet Dhuafa. Di sini aku ngerasa udah beda banget sih, karena tulisanku gayanya jurnalis banget. Jadi agak kaku gitu kesannya

2. Banyak foto dan infografinya. 

Of course rupanya foto-foto dan ilustrasi yang ku tampilkan belum cukup untuk menjelaskan secara gamblang apa yang ku maksud.

Desain Ilustrasi yang di pakai Juara Pertama

Lucu ya, ini desain medsos Dompet Dhuafa yang di bikin sama Juara pertama
Gambar Ilustrasi juara 3

3. Tulisannya sangat informatif dan kaya akan data dan nilai-nilai. 

Hal ini menunjukkan bahwa tulisannya sangat edukatif. Dengan memasukkan nilai-nilai, maka tulisan bisa di ambil pelajaran atau hikmah yang cukup besar oleh pembaca.

Data mengenai pendidika oleh juara 3


Survey data donasi dari juara 3
 Adapun nilai-nilai yang di sisipkan ke dalam tulisan di lihat dari quotes-quotes, misalnya seperti yang terdapat pada tulisan juara 3 ini. Seseorang akan di kenang dan di ingat oleh orang lain ketika orang tersebut memiliki nilai. Quotes ini di sisipkan dalam menjelaskan mengenai Hero Zaman Now.  

Atau yang seperti juara 1 katakan ini
Relawan tak di bayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai. Kalimat ini ia tambahkan setelah menceritakan beragm banyak manfaat dan keuntungan yang ia dapat setelah menjadi relawan sosial.
 
4. Sangat menonjolkan program-program dan bagaimana dompet dhuafa bekerja. Tuh gimana gak bisa jadi juara, kalau selengkap ini.
Juara 1

5. Mendefinisikan Dompet Dhuafa dengan redaksi sendiri yang mudah di ingat. Sebagai closing penulis blog ini lagi-lagi juga melibatkan dompet dhuafa yang di sesuaikan dengan tema tulisannya.

Dompet Dhuafa memang benar-benar solusi kekinian yang memudahkan generasi milenial dalam membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dan menangani kemiskinan. -Juara3.

Keren-keren ya program Dompet Dhuafa, bukan hanya banyak programnya tapi terstruktur dan tepat sasaran. Lembaga seperti ini cocok sekali untuk kita yang bekerja, sibuk mengurus keluarga, dll sehingga tidak sempat turun langsung sebagai relawan. -Juara 1

Dari kelima hal di atas buat jadi pelajaran aku banget, untuk ke depannya lebih lengkap, informatif dan edukatif lagi. Semoga bermanfaat. Silahkan buat kalian yang mau ikutan lomba blog, bisa diterapkan 5 hal di atas tadi. But this is my version of review their blog. Mungkin kalian kalau sudah baca tulisan mereka menemukan lagi alasan lainnya sebagai bukti kelayakan pemenang. Sampai ketemu di postingan selanjutnyaaaa

Kamis, 18 Januari 2018

Disclaimer: sebelum membaca, pastikan kalian udah baca yang part pertamanya di sini

Kemarin maghrib tepatnya tanggal 17 Januari 2018, aku melihat di beberapa Insta story yang posting tentang kekecewaan dia terhadap video opini dari influencer yang baru aja apload di You tube tentang kasus Ge dan Jo. Jadi katanya, dalam video ini si influencer ini bilang kalo kita terlalu sibuk mengkotak-kotakkan orang. Kita lupa kalau kita seharusnya berdialog, dan lupa apakah sudah nge-treat orang lain dengan baik dan fair atau belum.

But Seriously? aku gak paham dengan 'kita perlu dialog'. Mungkin 'perlu dialog' ini sama halnya dengan meninjau kembali aturan Tuhan tentang pelarangan LGBT. Kata seorang oknum pas di ILC sih, hal ini perlu di bahas dengan kehati-hatian dengan wawasan keilmuan-_- Terus untuk perihal intropeksi terhadap diri masing-masing, itu memang selalu harus di lakukan. Namun jika dengan alasan ini menjadikan kita tidak menyampaikan kebaikan dan mentoleransi kemungkaran, menurutku itu salah. Justru dengan mengingatkan saudara lainnya, sama halnya dengan memberikan rambu-rambu kepada diri sendiri. Sehingga mengajak kebaikan akan beriringan dengan muhasabah diri. Anyway kata bapakku, alasan untuk berintropeksi diri adalah alasan yang bahkan sudah sedari dulu ada dari jaman ayahku SMP. Alasan ini rupanya memang sering di jadikan boomerang untuk 'lebih baik tidak dengan jelas menyuarakan kebaikan' atau dakhwah.
Aku setuju dengan salah satu di komen Youtubenya bahwa justru cara memperolok agama yang di lakukan Ge dan Jo inilah yang menutup celah dialog bagi mereka. Di tambah lagi mereka sama sekali tidak memberikan klarifikasi apapun, cmiw. Tidak seperti Ernerst yang waktu itu bikin postingan maaf dan mengakui kesalahannya. Bahkan tanggapan beliau terhadap kasus ini pun ialah "sebagai seniman, harus berani bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita lakukan."

Islam bukan untuk materi lawakan



And for sure, lawakan atau becandaan itu harus ada attitudenya. Jelas Rasulullah melarang kita untuk tertawa dan bercanda berlebihan karena bisa membutakan hati. Apalagi membawa agama menjadi materi komedi, it's not absolutely a joke. Again, sebagai muslim kita wajib menyikapi sesuatu dalam kacamata islam, dengan berlandaskan Al-Qur'an. In this chase, we could see Allah already said in qur'an surah At-Taubah ayat 65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab "sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.'' Katakanlah, " Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"

Al-Qur'an harus selalu menjadi landasan
Dari opini yang telah di tuangkannya di Youtube ini entah apa landasannya. Tapi kalau boleh aku tebak sih, influencer ini terlalu mind blowing. Menyikapi sesuatu memang harus di lihat dari berbagai sisi. Akan tetapi sisi al-qur'an dan hadits sangat di prioritaskan dari sisi lainnya. Memang di pertengahan aku sebagai subscribernya ini, menemukan banyak kejanggalan terlebih dengan idealis liberalisme yang sepertinya sudah amat melekat pada dirinya. 

Ohiya ini nih sekalian di bahas deh, ketika mengimani sesuatu seperti apa yang sudah Allah katakan dalam At-Taubah 65-66 ataupun yang trending kemarin, surah Al-Maidah ayat 31. Sebagai muslim sudah sepatutnya kita tidak hanya mengimaninya dalam hati kita saja. Akan tetapi dengan perkataan dan perbuatan kita. Itulah arti iman sesungguhnya.  Kita ucapkan melalui lisan maupun tulisan, lalu kita buktikan melalui perbuatan.  Tempo lalu aku gak sengaja baca di blognya, kalau dia merasa tidak perlu mengotori feeds sosmednya dengan melulu mengangkat ayat tersebut. Bahkan dia menclaim orang-orang yang sering membahas atau membawa ayat ini dalam feeds or konten social medinya dengan 'orang-orang yang giat memainkan ayat' yang berniat untuk menjatuhkan orang lain. Astagfirullah hal adzim. Yang amat aku sayangkan di sini banyak fans dan orang yang menyetujuinya. Seakan-akan beranggapan bahwa menjadi islam tidak harus dengan secara gamblang membawa ayat untuk mengkotak-kotakkan kelompok tertentu. Padahal dalam islam sendiri sudah jelas di Al-Quran di katakan mengenai ada perbedaan tiga golongan manusia, beriman, munafik dan kafir. (Al-Baqarah:285)

Lagi-lagi, sebagai umat muslim sudah semestinya memiliki ghirah (kecemburuan atau ketersinggungan karena agamanya di durhakai). Muslim di wajibkan untuk jihad-menjaga kehormatan nama baik islam dan kaum muslimin. Dari alasan inilah orang-orang berangkat untuk berpegang teguh bahwa apa yang di katakan mantan gubernur Jakarta dan dua komika ini ialah penistaan agama dan perlu untuk ditindaklanjuti.



Overall, the main point is pentingnya menanggapi sesuatu dengan kacamata islam (for moslem) bukan dengan pandangan pribadi yang tidak jelas apa landasannya. Selalu apa yang kita lakukan dalam hidup harus dalam koridor Al-qur'an. Jika belum mengetahuinya, cobalah untuk tahu dan mengerti.  Mengacu pada koridor Al-Qur'an pun bukan berarti kita tidak fair atau tidak toleran, tapi memang muamalah dalam islam itu sudah ada batas-batasnya. Kayanya pernah ku bilang juga di postingan sebelum-sebelumnya, bahwa di akhir tuh adanya hitam dan putih. Ini sudah mutlak. Haq atau bathil. Tidak ada yang namanya abu-abu untuk sebuah pilihan dan keyakinan. Pun tidak ada yang namanya Spektrum. So i'm totally agree dengan komentar di bawah ini.

Writing this, doesn't I mean, aku lah yang benar. But, just correct me if I'm wrong. Yuklah kita berkaca lagi sambil mempertanyakan bagaimana keislaman kita. For ending, kalau aku boleh mengutip kata-kata yang ada di Film Ayat-Ayat Cinta. Apa yang kita lakukan, kita ucapkan ini sudah karena Allah?





Rabu, 17 Januari 2018

Tangerang, 17 Januari 2018
Assalamu'alaikum guys.

Sekarang waktu menunjukkan pukul 12.30 AM. Aku belum bisa tidur, abis baca-baca comment di salah satu video di you tube. Sebenernya udah dari minggu lalu aku mau bahas ini. Tapi karena belum nemu waktu dan mood yang pas aja buat nulis lagi. So guys, let's say tulisanku ini adalah bentuk keresahan dari pendapat public figure mengenai kasus fenomenal dari komika Ge Pamungkas dan Joshua Suherman. Buat kalian yang kenal You Tube atau Instagramnya si influencer ini pasti udah tau hehe.

Ge Pamungkas
Pertama aku akan bahas satu-satu dulu. Aku pribadi dari awal of course emang gak setuju dengan cara lawakan kedua komika ini. Pertama karena membawa isu SARA. Kedua sebagai umat muslim, aku melihat mereka dengan jelas memperolok dan merendahkan agama Islam. Untuk soal Ge, yang di bilang "Allah SWT memberi cobaan kepada hamba-hamba yang di cintai. CINTAI APAAN!" Dari kalimat ini yang aku tangkep jelas Ge menafikkan takdir bahwa Allah akan memberikan ujian atau cobaan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya.  As a moslem, jelas aku akan beropini dengan kacamata islam. Bukan, bukan aku seorang yang tidak open minded. Tapi untuk kadar open minded- perihal agama atau yang menyangkut dengan aqidah, itu tidak bisa di toleransi lagi. Apalagi dengan dalih 'ah sebetulnya juga mereka tidak bermaksud menyinggung kok'. Oke aku paham mungkin apa yang sudah di katakan Ge berasal dari keresahan dia, tapi apakah worth it membawa takdir Allah, mempersoalkan perihal Jakarta banjir sebagai materi lawakan? Think about it. However untuk alasan apapun, agama bukanlah untuk di bercandakan.

Commen yang aku temukan di Youtube



Joshua Suherman

Kemudian mengenai Jo, yang bingung mengapa nama Annisa kebanyakan lebih 'terjual', terkenal dan lebih-lebih lainnya di bidang Che atau cherly, menurutku itu adalah pemikiran yang sempit. Terlepas dari dia  membahas yang seharusnya bukan ranah dia ya. Untuk mengagumi atau memuji seseorang, apakah terlebih dahulu kita melihat dia mayakini agama mayoritas atau minoritas? Contohnya Youtuber-Youtuber non muslim banyak kok yang di puja dan di banggakan. Perihal agama mereka tidak menjadi tolak ukur untuk kita menilai seberapa bagus karya mereka.

Commen yang aku temukan di Youtube
Kalau misalnya apa yang di katakan Jo ialah benar, barang kali mungkin Youtuber yang sudah mendapatkan lebih dari 1 juta subscriber itu berdasarkan bagian dari mayoritas. Tapi faktanya engga gitu kan? Chandra Liaw, Raditya Dika, Arief Muhammad, Reza Arap, atau Kevin Hendrawan dan lain-lain. Pencapaian mereka- yang tak lepas dari pengaruh ketertarikan kita mungkin. Itu pasti bukan di pengaruhi oleh agama kan? Toh film koh Ernest Prakasa juga makin banyak yang nonton. Bukan karena dia seorang non muslim, lantas film nya tidak banyak di tonton oleh masyakarat. So buatku, dari pemikiran Jo sendiri salah besar, seakan menyalahkan atau menyudutkan agama islam. Padahal mah kesuksesan setiap orang, tergantung masing-masing orang aja. Yegak? Hehe

At least aku berharap para komika, maupun public influencer manapun bisa lebih berhati-hati dalam bersuara dan bersikap. Ini tentu menjadi reminderku juga karena ekspetasi orang berbeda-beda. Maka dari itu perlu sebuah kehati-hatian. Of course gak semua orang bisa fair dengan apa yang kita ucap dan perbuat. Tapi kembali lagi sebagai jati diri kita sebagai muslim, apakah hal itu sudah benar? Apakah dalam Islam wajar apa yang sudah di katakan kedua komika ini?


Lanjut ke postingan berikutnya ya guys.

Kamis, 11 Januari 2018

Oleh Shofiyah Najiyah.

Dua hari yang lalu tepatnya tanggal 9 Januari 2018, saya di tugaskan untuk meliput kegiatan Pelatihan Leadership Siswa di tempat saya bekerja. Hari itu buat saya cukup berkesan. Siswa di perintahkan untuk membawa telur mentah. Telur yang di bawa tidak boleh jatuh dan pecah. Maka dari itu telur harus di kalungkan dengan tali dari mulai berangkat sampai pulang sekolah. Telur yang akhirnya pecah tidak boleh di buang. Siswa harus tetap mengkalungkannya dengan plastik.

Pejuang Telur hari itu

Dari peristiwa telur inilah, siswa di ajarkan untuk disiplin dalam menjaga barang. Sama halnya dengan menjaga amanah. Aturan bahwa telur yang pecah harus tetap di bawa kemana pun, mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang di lakukannya. Tidak lantas telur itu di buang ke tempat sampah. Terlepas dari apapun penyebab pecahnya telur, siswa tetap harus menanggung resiko untuk membawa pecahan telurnya. 

Yap satu paragraf barusan, sudah sebelumnya ku tulis di web sekolah tempat kerjaku. Melihat guru sangat mengapresiasi siswa yang tetap bertahan telurnya, saya jadi tergugah untuk membuat tulisan. Guru secara tidak langsung mengajarkan mengenai kedisiplanan dalam menjaga barang dan amanah. Barangkali semua orang pasti sadar, kosakata disiplin ialah yang sering di pakai dan di ajarkan guru kita waktu SD dan SMP. Berkali-kali kedisiplinan di tekankan. Mulai dari segi disiplin waktu, disiplin terhadap peraturan, disiplin sikap sampai disiplin dalam beribadah.

Namun ketika saya beranjak dewasa, nyatanya kedisiplinan yang sudah sejak dini di galakkan rupanya belum sepenuhnya berhasil. Waktu yang harus di gunakan untuk belajar dan istirahat, seiring waktu malah di habiskan untuk having fun dan hal yang tidak bermanfaat lainnya. Begitu pula dengan bersikap. Budi pekerti yang sudah di tanamkan guru kita dari dini, kini telah luntur oleh dalih 'pergaulan zaman now'.

Perihal amanah, percayalah jika ingin merasakan pentingnya menjaga amanah, cobalah anda kalungkan telur yang di bungkus oleh plastik selama satu hari penuh. Memang pasti tidak mudah. Sebab telur sendiri pun gampang retak. Sama seperti progres dan semangat kita dalam mengemban amanah. Ada kalanya kita merasakan lelah dan ingin berhenti saja. Maka dari itu semangatnya perlu di kuatkan dalam merealisasikan dan mempertahankan tujuan dari amanah yang kita emban. Sama dengan menjaga telur tidak pecah. Telur harus di bungkus plastik berkali-kali agak tidak mudah pecah.

Sebetulnya bukan perkara karena telur dan amanah yang di perjuangkan. Apapun dalam dunia, selama itu baik dan kelak bermanfaat, juga perlu untuk di jaga dengan baik. Kita tidak tahu, kapan kita akan membutuhkannya. Namun saya yakin dalam hidup kita ini semuanya perlu untuk di jaga dan di apresiasi.

Ketika telur siswa ada yang pecah, di sinilah letak tanggung jawab di uji. Dalam tataran yang berbeda tanggung jawab sering kali terasa berat. Kita harus tanggung jawab terhadap suatu resiko dari pilihan hidup yang kita ambil. Berani bertanggung jawab terhadap situasi apapun sama dengan tidak lari dalam menghadapi masalah sebesar apapun. Membuang sampah makanan pada tempatnya pun juga menjadi tanggung jawab atas makanan yang kita makan. Contoh paling klasik ialah menyelesaikan kuliah. Tentu semua paham menuntaskan pendidikan sama dengan tanggung jawab kita terhadap orangtua yang telah menyekolahkan kita sejak kecil. Lantas ketika berbagai masalah datang saat ingin menyelesaikannya, kita tidak harus pindah kampus. Atau berhenti kuliah di tengah jalan.

Untuk kalian yang sedang mengemban amanah, buktikanlah kalian bisa dan bertanggung jawab. Bukan perihal skala yang beda dengan siswa SD yang mempertahankan telur. Akan tetapi contohlah usahanya dalam melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Semangaaattt, amanah tidak akan salah pundah kok :)

Senin, 01 Januari 2018

Bicara tentang 2017. Apa aja moment penting yang terjadi selama 2017 yang paling saya noted. Bukan hanya tentang diri sendiri sih, tapi juga tentang Indonesia. Biasanya jaman SMA, di jaman gue sangat gemar menulis. Setiap mau pergantian tahun, gue tulis ulang apa aja yang udah dilewatin selam setahun ini. Mungkin mau gue budidayakan lagi di sini.


2017, yang pertama gue ingat ialah final pilkada Jakarta 2017. Yap pilkadanya di Jakarta tapi hampir seluruh Indonesia ikutan mengomporinya. After that, ini sih #thepowerofsetnov. Gak bisa ngerti lagi kenapa itu orang bisa aja neghindarnya. Ada aja hal yang bisa dijadiin alasan dari kaburnya kejaran KPK. Selain itu ada reuni 212 yang banyak orang pro dan kontra. Kemudian untuk taraf internasional pernyataan Trump atas Yerusalem sebagai Ibu kota Israel. LGBT makin marak. Ah iya ini sih kayanya tahun 2016 belum ada istilah 'kids jaman now' deh. Entah itu awal mula istilah itu gimana. Nah kalau menurut kalian kejadian penting atau unik apa yang terjadi di 2017?   

Buat gue tahun 2017 ini merupakan tahun yang ditunggu-tunggu sih. Tahun yang ditunggu sejak pertengahan 2017. Iya September 2017 gue bertekad harus bisa wisuda. Dan Alhamdulillah bisa terwujud. Seperti yang pernah gue ceritakan sebelumnya. Di 2017 ini dikasih kesempatan umtuk berlibur lebaran di Kalimantan dan di Pulau Dewata Bali. 2017 ini juga menjadi pertama kali (semoga juga yang terakhir) di rawat dan di operasi di rumah sakit.

Itu kesempatan yang di lakukan kan ya. Beda lagi dengan kemajuan dan apa yang terjadi dalam diri gue di tahun ini. Gue ngerasa lebih aware sama apa yang gue mau. Like i know actually what i need and what i must to do gitu. Tahun 2016 i was didn't know apa sih yang sebenernya gue mau tekunin, dan rincinya gue tuh sebenernya harus gimana sih buat jadi lebih baik lagi. Tahun 2016 emang jamannya gue masih jadi mahasiswa labil sih. Tujuan gue cuma buat lulus kuliah. Udah sebatas itu aja. Yaa mungkin pengaruh umur juga sih, sekarang menurut gue ya, gue udah cukup open minded sama lebih aware lagi sama lingkungan sekitar dan masa depan.

Peningkatan studi, ibadah sama passion sih yang gue rasain banget. Tiga hal itu yang menurut gue cukup berubah jadi lebih baik. Ini jangan jadiin ajang buat call me as an arrogant ya wkwk. Untuk tiga hal itu gue punya target masing-masing pencapaian apa yang harus di lakuin setiap harinya atau setiap minggunya. Even though gue belum cukup puas dengan segitu saja, i've to increase my another skill. Kaya gue mesti banyak belajar lagi untuk menguasai passion gue. 

Ach so, resolusi 2018. Dulu gue rajin sih bikin resolusi gitu per tahunnya. Tetapi karena beberapa jadinya malah gak tercapai, i guess that resolution of new year is a bullshit. I don't know someone says that life is more fun without any GPS way. Without any plan. Because it will be pain or more what i must to call it? emm omdo alias ngomong doang. If we have a purpose, but we wasn't attempted or trying to achieve it. Let's cheers to finish our plan well.  And may 2018 is moooore better than 2017. Aamiin.



Foto ga nyambung sama tulisan. lol
Selain kurang berusaha to reach it, mungkin juga salah dalam merencanakannya. Kurang detail atau kurang motivasi. Untuk ke depannya. gue belajar untuk lebih cermat dalam merencanakan sesuatu. Hidup bukan tidak perlu memakai GPS. Akan tetapi merencanakannya dengan baik, mengikhtiarkan dan mentawakalkannya pada Allah. As we know, manusia hanya berencana dan Allah lah yang berkehendak. But hasil tidak akan mengkhianati usaha kok hehe. Gue doakan siapapun yang membaca postingan ini, may you have a nice plan and getting ease to achieve it. Kalau kamu apa yang terjadi selama 2017 dan apa harapanmu untuk 2018? 


Rabu, 27 Desember 2017

Menurut anda apa penyebab LGBT bagi umat islam? faktor psikologi kah, ekonomi atau pergaulan?
 Pada tanggal 14 Desember 2017 kemarin, kita semua tahu MK melaksanakan persidangan atas gugatan uji materi tentang zina dan hubungan sesama jenis atau (LGBT).Yang saya baca di media katanya ada tiga pasal KUHP yang dimohon untuk diuji oleh MK, yakni pasal 248 tentang perzinahan, pasal 285 tentang perkosaan, dan pasal 292 tentang pencabulan anak. Terus katanya ada beda pendapat antar hakim gitu deh. Agak ribet juga jelasinnya.

Yang mau saya bahas, adalah maraknya LGBT dan penyebabnya. Secara keseluruhan berdasarkan Data Kementerian Kesehatan pada 2012 menunjukkan bahwa terdapat 1.095.970 Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) alias gay yang tersebar di semua daerah. Dari jumlah itu, sebanyak puluhan ribu orang terindikasi merupakan penderita HIV/AIDS. Di Provinsi Banten  jumlah pria penyuka sesama jenis mencapai 2.175 orang dan waria 3.735 orang berdasarkan ata sementara yang dimiliki KPA Banten. Kemudian penderita HIV/AIDS di Banten pada 2017 sebanyak yakni 5.397 jiwa.

Angkanya yang semakin mencuat tinggi membuat saya miris. Terlebih saat menonton Dokter Dewi Inong di Indonesia Lawyer Club (ILC) pada 19 Desember lalu. Data pengidap dan korban HIV dari LGBT semakin memuncak. Banyak di antaranya pasien yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga lembaga swadaya masyarakat milik dokter yang membayarnya. 

Awalnya penyebab kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) ini saya kira tentang kurangnya perhatian dari lingkungan terdekat. Seorang lelaki bisa mempunyai kecendrungan dengan sesama jenis, karena merasa kaum perempuan kurang menaruh perhatian padanya. Itu yang saya tonton dari beberapa pengakuan mereka di media. Berangkat dari kurangnya perhatian ini yang menyebabkan rusaknya pergaulan. Satu orang laki-laki pengidap AIDS dan syphilis diketahui mempunyai tiga pacar laki-laki dan satu pacar perempuan- dan keempatnya pernah berhubungan badan dengannya. Selain faktor psikologi, faktor ekonomi dan genetik juga bisa menjadi penyebabnya.

Seperti biasa, berdiskusi dengan Ayah saya, menurutnya penyebab LGBT tak perlu ribet-ribet dari banyak faktor. Cukup di lihat bagaimana sholat lima waktunya. Jika sholatnya lengkap lima waktu, insyaAllah tahu cerita Nabi Luth dan kaum Sodom. Insya Allah tahu azab Allah pada orang-orang yang melakukan hubungan sesama jenis. Maka dari itu, jika mengetahuinya, insya Allah tidak akan mendekati perilaku LGBT. Selesai. Sebab ini adalah perihal keimanan.

Kita sebagai muslim juga perlu untuk mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi sebeumnya. Kalau dalam hal ini azab yang di timpakan pada kaum semasa Nabi Luth. Sebab muslim tidak hanya butuh untuk mengimani keberadaan mereka saja. Namun juga mengambil hikmah dari setiap peristiwanya. Semoga para pembaca semua tergolong orang-orang yang beriman pada Allah (bagi yang muslim).

Lalu bagaimana untuk yang beragama non muslim?

Mohon maaf itu. It's not my chase. Bukan kapasitasku untuk mengomentari hehe.

Yang sudah tahu cerita Nabi Luth, yuk kita sebarkan ceritanya agar menjadi amal karena telah menyebarkan kebaikan. Dan kita pelajari kembali kaum-kaum yang di azab Allah. Seperti kaum 'ad pada zaman Nabi Hud, Kaum Nabi Nuh, Kaum Tsamudnya Nabi Shaleh dan lain-lain. Maka insyaAllah perkara seperti LGBT dan lainnya bisa kita hindarkan. Mungkin di postingan selanjutnya aku bahas azab apa sih yang menimpa kaum sodom atas perilaku homoseksuaknya, dan apakah keluarga Nabi Luth semuanya selamat dari Azab Allah? 

Anyway, udah bingung closingnya gimana. Maafkan aku