Kamis, 19 Oktober 2017

Hasil perjuangan selama 6 bulan
Dalam dunia perkuliahan, menurutku ada dua hal yang membuat kebanyakan mahasiswa stres. Tugas yang tak ujung selesai dan masa-masa menyusun skripsi. Buat kebanyakan mahasiswa, proses penyusunan skripsi dan tugas akhir memang menjadi proses terpanjang dan penuh rintangan. Dari mulai cari judul, bolak-balik ke tempat penelitian, sebar kuisioner, kendala maju sidang, sampai tanda tangan lembar pengesahan yang super crowded. Satu hari bisa bolak balik ke Tangerang-Bekasi-Jakarta untuk mendapatkan tanda tangan dosen yang begitu penting. Selama menyusun Tugas Akhir kemarin, aku sadar ada banyak hal penting yang luput untuk kuperhatikan. Oleh karena itu sebagai pembelajaran, berikut hal-hal yang perlu kamu perhatikan danoticed selama kamu menjalani proses penyusunan skripsi atau tugas akhir:

1. Mencari Banyak Referensi

       Menyiapkan bahan penelitian dimulai dari rajin membaca skripsi atau Tugas Akhir kakak tingkat. Hal ini sangat penting, agar bisa mempelajari lebih dalam bagaimana menyusun skripsi. Tak heran mahasiswa akhir jadi lebih sering pergi ke perpustakaan di banding tempat lainnya. Mencatat variabel apa saja yang sekiranya akan dipakai dalam studi kasus penelitian dan memerlukan wifi kampus untuk browsing hal yang bisa bersangkut-pautan dengan penelitian yang akan dikaji. Buatku, lebih sulit mencari studi kasus dibandingkan menentukan variabel yang ingin dipakai. Sebab satu kasus bisa diteliti dari berbagai macam perspektif atau variabel. Adapun variabel bila ingin dicocokkan dengan sebuah kasus harus berdasarkan (LBM) Latar Belakang Masalah.

2. Memilih Dosen Pembimbing

Dosen pembimbing sangat berpengaruh dengan proses penyusunan Skripsi dan Tugas Akhir. Sebab progres penelitian kita bergantung pada kuantitas dan kualitas kita bimbingan dengan dospem kita. Tipe-tipe dosen pembimbing sangat bermacam-macam. Coba pilih dospem yang sangat cocok dengan karaktermu. Dan kamu bisa mengikuti peraturan dosen tersebut. Ada dospem yang sangat perhatian dengan mahasiswa bimbingannya, sampai-sampai dosen tersebut mendatangi tempat tongkrongan mahasiswanya mengingatkan untuk segera bimbingan. Ada juga yang sampai meminta adik tingkat buat mengingatkan mahasiswa bimbinganya agar rajin bimbingan. Tak jarang juga dosen yang acuh saja bahkan mengambek, menunggu mahasiswanya sadar akan perlunya bimbingan.
         Memilih dospem berdasarkan lokasi rumah juga dipertimbangkan. Suatu saat nanti jika mendesak, mahasiswa harus mendatangi rumah dosen untuk bimbingan atau minta tanda tangan. Memilih dospem juga harus dilihat apakah dosen tersebut akan membela kita saat sidang nanti. Sebab berdasarkan pengalaman teman ada beberapa dosen yang tidak peduli, bahkan tertawa saat mahasiswa bimbingannya dicecer oleh penguji. Tetapi dari beberapa survey lainnya kebanyakan, dosen pembimbing akan membela kita pada saat di ruang sidang. 

3. Membuat Target

         Hal ini yang paling krusial. Tanpa target progress kita kemungkinan besar tidak maksimal. Membuat target di dorong mulai dari menghilangkan kemalasan dan mencatat hal-hal yang kurang dalam skripsi kita. Lalu dibagi waktu target untuk menyelesaikannya satu persatu. Bisa dimulai dengan mencicilnya perlahan, namun pasti. Mungkin bagi yang tidak betah berlama-lama di depan laptop, bisa dicoba dengan mengerjakan setiap tiga jam sehari, selama satu jam full fokus di depan laptop dan data-data penelitian. Gaya menyusun penelitian setiap orang berbeda-beda. Ada yang membuat jadwal kapan harus berkutat di depan laptop. Yang pasti, kita perlu untuk memaksa diri kita buat mengerjakan skripsi kita. Akan tetapi dengan catatan tetap menjaga kesehatan tubuh dengan makan dan istirahat yang cukup.

4. Mempunyai Cadangan Judul

Sebelum mengajukan judul ke dosen pembimbing, ada baiknya kita menyiapkan dua judul lainnya untuk menjadi cadangan penelitian kita. Hal tersebut sangat bermanfaat jika di tengah dalan pada proses penyusunan, ada beberapa kendala yang menyebabkan penelitian tidak dapat kita lanjutkan. Pada seminar proposal kita, panitia sidang bisa memberikan saran untuk mengganti kasus dengan instrument yang sama. Atau dengan mengganti variabel tapi tetap pada studi kasus yang sama. Atau bahkan dengan mengganti kasus dan instrumen yang baru lagi. 
Sebagai pengalaman, menjelang dua minggu sebelum seminar proposal dan waktu itu sudah rampung sampai bab 3, aku mengalami kendala dan harus mengulang dari awal lagi dengan penelitian yang baru. Penyebabnya karena perusahaan tidak mau diteliti, dan kalau tetap dilaksanakan penelitianku akan dianggap ilegal. Alhamdulillahnya belum aku fight cari studi kasus baru lagi, ada teman yang menawarkan objek yang bagus untuk kuteliti. Dan dengan pertolongan Allah lagi, proses pengumpulan data dan penyusunannya bisa dikerjakan dengan cepat berkat bantuan teman tersebut. Sehingga aku bisa mengejar ketertinggalanku. Terimakasih Yudi Nur Muhamad, S.Pd yang namanya pengen diabadikan disini..
 5. Memilih Lokasi Penelitian.

               Kadang kita menyukai sebuah penelitian yang kita penasaran akan hasilnya. Namun kadang  tempatnya sangat jauh dari rumah maupun universitas kita. Memang masih bisa dijangkau oleh raga dan biaya. Tapi akan lebih baik lagi jika penyusun memilih tempat yang memudahkan penyusun itu sendiri. Maka itulah manfaat adanya pembatasan masalah, agar penelitian lebih terarah (tidak merambat ke pembahasan lain), fokus dan memudahkan peneliti.
                 
      6.  Mengatur siasat jitu saat ingin sidang.

              Siasat yang pertama ialah tanya senior yang udah lulus. Bagaimana untuk mensukseskan sidang dengan memuaskan hati dosen dan agar tidak banyak revisiannya. Siasat yang kedua ialah mempelajari karakteristik dosen penguji dan ketua sidang kita dengan cara bertanya kepada mahasiswa bimbingan dari dosen tersebut. Dan tidak ada salahnya untuk melihat dan mempelajari draft skripsi mahasiswa bimbingan dari dosen-dosen tersebut yang akan menguji kita di sidang nanti.

7.  Mempersiapkan pemberkasan

                Seperti halnya saat kita hendak masuk universitas, pasti kita harus melengkapi pemberkasan. Maka tak ada beda, jika kita hendak lulus dan keluar dari kampus. Inilah pentingnya memiliki map atau tempat penyimpanan sendiri dalam menyimpan berkas dan data penting. Berkas umum yang sekiranya harus disiapkan ialah bukti pembayaran biaya semesteran kuliah atau UKT (Uang Kuliah Tunggal), pengembalian KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan Kartu Pinjam perpustakaan, Sertifikat-sertifikat kegiatan kampus yang selama ini sudah didapatkan, fotocopy legalisir ijazah SMA, surat bebas pinjam perpustakaan dan pas foto memakai baju putih dengan background merah. Kamu bisa tanya senior atau bagian akademik dari jauh-jauh hari apa saja berkas yang perlu disiapkan. Menurutku, berkas-berkas tersebut sangat perlu untuk mulai dicicil sebelum sibuk melakukan penelitian. Memang berkas tersebut akan dikumpulkan di akhir menjelang atau sesudah sidang akhir. Akan tetapi lebih baik berkas tersebut sudah dipersiapkan dengan baik sebelum diminta. 
               Sebagai pengalaman pada H-4 Seminar Proposal, aku masih sibuk ke Fuji Film karena belum punya pas foto buat pemberkasan sidang. Padahal transkip wawancara belum rampung semua. Bahkan H-2 pemberkasan Sidang Akhir, orangtuaku mengorbankan waktunya pada malam hari ke Jakarta buat mengantarkan fotocopy legalisir ijazah SMA yang masih di rumah. Jadi berkas-berkas diusahakan sudah siap dari jauh-jauh hari.
Akhirnya A.Md :)
        Buat siapapun yang akan atau sedang menghadapi Tugas Akhir atau skripsi, kuucapkan Selamat Berjuang di masa penuh rintangan. Go for the extramiles. Nikmati prosesnya dan ikhlas dalam menjalankannya. Ingat, semua yang kita perjuangkan tak pernah sia-sia. Setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Dan buat kamu yang sudah mendapatkan gelar dan melewati itu semua, kuucapkan Baarakallah fii ilmi. Semangat meniti karir buat yang langsung kerja. Semangat lanjut studi buat yang melanjutkan pendidikannya. Selamat datang di babak kehidupan berikutnyaaaa :) 


Silahkan komen dibawah untuk menceritakan pengalaman menakjubkanmu dalam menyusun Skripsi/Tugas Akhir :D

Kamis, 03 Agustus 2017

Mimpi Jaman SMA tahun 2013
Bicara soal mimpi, sebenarnya aku termasuk seseorang yang sangat ambisius untuk mencapai mimpiku. Dulu aku melabelkan diriku sebagai seorang a professional dreamer. Dari SMP, sudah bertekad untuk dapet scholarship overseas ke Europe. Pas SMA, pun mimpiku semakin serius dan semakin banyak hal-hal yang ingin dicapai. Seperti gambar yang diatas itu mimpi tahun 2013 pas masih duduk di kelas 12 dulu.

My dreams encourage me to be what i am in my dreams 

Berawal dari pindahan barang-barang dari kos ke rumah, yeah, sekarang udah gak jadi anak kosan sejati lagi. Its because my study almost done. Shofia yang kini menghitung hari wisuda, membuka lagi buku catetan jaman SMA. Sampai detik ini masih takjub dengan mimpi-mimpi yang kutulis jaman sedang merangkai masa depan.  Rupanya dulu mimpi shofia, memberantas korupsi dan bullying. Padahal sekarang kalo denger berita si anu korupsi palingan cuma geleng-geleng doang udah. Dulu mimpi untuk join international event, huh waktu itu kalo ada event apa gitu di kampus, kadang males banget jadi panitianya. Dapet gelar Ph.D sebelum umur 25, Subhanallah sekarang lanjutin S1 agak malas yah hehe. Yang lebih bingungin lagi ialah mimpi, terlaksana perubahan total di Indonesia pada Februari 2018. Gak ngerti lagi perubahan total disini tuh maksudnya dibidang apa aja dan siapa targetnya. Terus kenapa ditulisnya pada Februari 2018. MasyaAllah berarti tahun depan dong. Visioner sekali yah. Tapi dari semua itu, yang paling terpesona adalah mostly di buku itu aku menuliskannya by english. Hal yang sering disadari, tapi belum ada actionnya. Penurunan kualitas bahasa inggrisnya. Jaman SMA, bahasa Inggris berasa lancar kayanya writing and talkingnya. Di kuliah jarang banget rasanya mengaplikasikan bahasa inggris ke dalam kehidupan sehari-hari. Inget kalo jaman SMP sama SMA dulu, kalau mau minjem sesuatu aja harus pake bahasa inggris. Izin, minta tolong, dan lain sebagainya dari sekolah dibiasain pake bahasa inggris. Bahkan mau ngomong sama Guru aja gak bakal diterima kalau pake bahasa indonesia. Emang bener ya kebaikan itu emang harus dipaksa bener-bener.

Intinya, aku jadi merasa penurunan kualitas diri. Padahal aku sudah menuju usia tepat untuk menunjukkan jati diri ke banyak orang, merealisakan mimpi-mimpi dan berbuat banyak yang mengeksplor segala passion. Meski begitu ada beberapa mimpiku yang jadi kenyataan dan ketakutan terbesarku alhamdulillahnya gak terjadi. Jadi dulu ada dua hal yang paling aku takutin, pertama gak keterima di PTN manapun, dan yang kedua kalo kuliah gak lulus tepat waktu. Maka dari itu aku bekerja keras tumpah tangis dan fisik agar ketakutanku gak jadi kenyataan.

Sidang Juli 2017
Masih gak nyangka bisa lewatin masa-masa ini. Sebentar lagi nama ini akan ada gelar dibelakangnya. Bahagia rasanya udah kelar sidang dan meniti langkah menuju wisuda. Semua pengorbanan susah payah, tangis dan pengeluaran duit karena revisian sebentar lagi akan terbayar. Dan tentu kesuksesan dunia bukanlah kebahagiaan yang hakiki. Tekadku dari SMA bisa hafal alquran dengan mutqin sebelum lulus sarjana. Allah memang sebaik-baiknya planner. Mungkin ini ialah faktor mengapa takdirku diterima jurusan D3. Biar hambaNya ini fokus merealisasikan mimpinya satu-satu. Setelah lulus dapet gelar A.Md Kom ini, waktunya aku menyelesaikan dan melancarkan hafalanku. Mengingat kuliahku D3 yang bisa dikatan lebih padat, lebih banyak tugas dari teman-teman yang S1, aku merasa tak bisa memanage waktu dengan baik. Disaat orang-orang, lagi merasakan jadi senior dan punya adik tingkat, aku sudah mulai persiapan buat magang di perusahaan. Disaat kawan-kawan S1, baru selesai belajar metodologi penelitian tingkat satu, aku udah mulai nyusun penelitian yang sebenernya.

Sebelum aku merealisakan mimpi muliaku, targetku ialah mengembangkan bakatku and mulai showing to the world, what makes me different and distinguish from others. Soalnya aku sangat merasa tugas-tugas kuliah yang menyitaku untuk lebih mengeksplor passionku. Waktu yang aku pakai sebelumnya untuk nulis blog, belajar edit video, dan nulis cerita teralihkan dengan tugas-tugas kuliah dan penelitian. Menerbitkan buku ialah mimpi yang dari SD belum terealisasikan. Padahal jaman SMA, sudah terbayang pas Kuliah punya laptop sendiri dan bisa ngetik buat buku kapanpun dan dimanapun. Target sebenernya bisa menghasilkan dua buku selama masih label mahasiswa. Rupanya boro-boro satu aja gak ending ending itu buku.

Meski begitu di kuliah ini aku merasa menemukan bakatku yang lain, mengelola website dan desain komunikasi grafis. Kalau website emang dari SMA suka edit background dan layout blog sendiri biar lucu and cute. Gak nyangka bisa bikin website organisasi dan jadi adminnya. Pun desain komgraf, karena dulu jaman semester 4 banyak banget tugas bikin seminarnya, jadi mau gamau harus bisa desain bikin poster bannernya. Sempet menang lomba poster juga sama temen-temen. Sampe waktu itu ada anak jurusan lain yang mau pakai jasaku dalam mendesain. Sayangnya dulu hanya menganggap komgraf bukan sebagai hal yang bisa diasah lagi biar bisa dikatakan sebagai keahlian. Jadi ditolak lah ladang buat belajat tersebut hehe. Sampai sekarang untuk kepanitiaan maupun kepengurusan jarang masuk divisi yang selain HPD atau Pubdok.

Selagi muda explore bakat deeply emang diperluin banget. Konsistendan istiqomah. Mimpi yang sudah ditulis dan didoakan mestinya gak boleh mundur di tengah jalan karena usahanya kurang. Aku sadar banyak hal yang bikin aku nyaman tapi melalaikan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk dilakuin. Harus diakui perkembangan iptek benar-benar memanjakan bagi siapapun yang sudah masuk dan menikmatinya, Kontaminasi konten-konten di youtube gak jarang lho malah bikin orang males buat mempertajam keahlian. Speak2 buat cari inspirasi, tutorial, malah jadi keterusan browsing yang gak bermanfaat dan sia-sia. Pengaruh nonton drama korea pun juga bisa menjadi tantangan dan alasan buat mager ngerjain hal yang lebih bermakna. So, get out from the comfort zone. Go for the extra miles to reach your dreams comes true. Go out, meet the new experience, new obstacles and sure new people. We wouldn't know the might give us. Live you dreams!

Selasa, 21 Maret 2017


Seseorang pasti ingin selalu mengapgrade dirinya menjadi lebih baik lagi disetiap harinya menuju kematian. Konsisten yang benar, bagiku, bukan berarti apa yg kita sampaikan A akan A juga di keesokan harinya. Namun sejatinya konsisten yang benar adalah menempuh jalan yang selalu Allah ridhai. Allah tidak serta merta mengajarkan kepada hambaNya untuk tidak melakukan ini, harus menjaga ini pada satu waktu. Al-Quran aja diturunkannya berangsur-angsur, maka untuk berhijrah ke jalanNya yang benar juga tidak bisa langsung saat itu juga menjadi sempurna. 

Perkembangan pemikiran dan nikmatnya tarbiyah memang yang selalu aku nantikan. Selalu membuat langkah kaki ini berusaha berjalan sesuai tadzkirahNya. Karunia iman memang berharga, karena ketiadaannya dapat memasukkan kita ke liang dosa yang terdalam. Lagi-lagi aku sepakat dengan quotes, lebih baik tidak makan nasi daripada tidak diberi hidayah dari Allah. Karena dengan ketiadaan hidayahNya, aku tak bisa membayangkan akan seperti apa hidup ini jalanin.

Bukankah sudah kuberi tahu, bahwa aku bukan seperti wanita kebanyakan. Aku (berusaha) bukan menjadi seorang wanita yang senang, diberi hadiah khusus, yang nilainya kecil maupun besar dari seorang yang bukan mahramku. Pun dari seseorang yang aku kagumi dan mengagumiku. Aku tidak menyukai seseorang yang bukan mahramku, tidak bisa menjaga jarak denganku. Aku bukan wanita bahagia yang ketika berduaan dengan yang bukan mahramnya, sekalipun itu orang yang kukagumi. Kebahagiaan apa yang sesungguhnya aku dapatkan dalam menjalani hal yang tidak Allah ridhai. 

Maaf, aku bukan seorang pemberi harapan palsu, aku hanya seorang wanita yang berusaha menjadi muslimah sejati. Aku hanya seorang muslimah yang berusaha untuk Istiqomah hijrah di jalanNya. Untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan sebagai muslimah yang berusaha untuk dicintaiNya. Apasih yang lebih bernilai dibandingkan kecintaan Allah terhadap kita.

Izinkan aku pertahankan keimananku di titik ini dan meningkatkannya lebih baik lagi. Jangan paksa aku untuk menerima kebaikanmu. Sesungguhnya kebaikan yang kamu berikan hanyalah tipudaya, dan perihal duniawi yang penuh dengan kemaksiatan. Bukan jalan yang Allah ridhai. Terimakasih sudah mampir sejenak. Biarkan aku Istiqomah dalam hijrahku. 

Jika saat bahagia nanti, dan apabila Allah berkehendak, datanglah kepadaku dengan hafalan Quran yang kau amalkan. Karena hanya dengan Alquran dan Sunnah Rasul yang menjadikan kita sebagai hambaNya yang beriman dan bertaqwa.

Rabu, 01 Maret 2017

Ceritanya Dilan tanpa Milea. Eak
Berhubungan dengan postingan yang sebelumnya QnA 'How to be Single' versi wanita, kali ini aku akan menggambarkan QnA 'How to be Single' versi kaum adamnya. Banyak yang nanya jawaban wawancara ini mau diapakan dan apa tujuannya dibuat konsep QnA. Jadi tujuan utama dari tulisan yang bertemakan 'Single' buat mengikuti tema bulanan yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger (KOMBUN). Karena bingung mau dikemas seperti apa tulisannya, dan merasa bosen kalo tulisannya dikemas such as feature. Jadi munculah ide QnA ini, dibuat dari daftar pertanyaan dengan membidik orang-orang yang sekiranya sesuai untuk menjawab pertanyaan mengenai 'single.' Penasaran kan seperti apa curhatan lelaki single bahagia? Baca terus sampai habis yaa. P.s nama-nama dibawah ini bukanlah nama yang sebenarnya. Happy reading :)
Apa di benakmu kalo mendengar kata single? 

Rio: Single adalah pilihan terbaik tatkala menjadi "couple" ternyata membawa banyak masalah hidup
Bena: Sendiri, mandiri.
Mas Gagah: Jomblo
Dilan: Single itu produk impor, kalo jomblo produk lokal.
Salman: Single adalah sarana sempurna disaat kebersamaan hanyalah membawa dosa.

Kamu merasa hidupmu dipenuhi dengan kesendirian?

Rio: Engga dong, alhamdulillah aku punya banyak teman hebat yang mengisi hari-hariku dengan penuh warna. hehe
Bena: Tidak, karena setiap hari kita selalu bertemu dengan orang banyak baik teman atau keluarga.
Mas Gagah: Tidak
Dilan: Tidak. Karena kita punya Tuhan, keluarga, sahabat, teman, dll
Salman: Terkadang. Saat hati tidak terpaut dengan dzikir, saat teman menjadi lawan, saat sahabat tak lagi teringat.

Tapi pernah ngerasain punya pasangan, aka kekasih?

Rio: Pernah, ngerasa gak tentram hidup. karena belum saatnya. hehe
Bena: Pernah.
Mas Gagah: Tidak
Dilan: Pernah.
Salman: Punya pacar tidak. Punya idaman pernah. Dan adalah hal yang wajar. Namun, semua bisa ditepis dengan cinta terhadap alquran

Apa yang kamu rasain pas punya pasangan? Lebih bahagia atau lebih sedih dibandingkan saat kamu sendiri?

Rio: Lebihnya emang ada yang care sama kita tiap saat. Beda tipis lah yaa ketika halnya punya gebetan.
Bena: Untuk dibandingkan dengan sendiri tentunya lebih bahagia. Karena punya tempat tukar pikiran, sharing apapun.
Mas Gagah: Belom pernah merasakan apa-apa, saat ini lebih bahagia sendiri.
Dilan: Ga beda jauh sih, yg enak itu kalo pasangan kita deket sama keluarga dan teman2 kita
Salman: Sangat bahagia saat mempunyai pasangan yang halal (In SyaaAllah)


Pernah merasa sedih gak dengan 'kesinglean' yang kamu jalanin?

Rio: Alhamdulillah yaa. Malah aku bangga, karena aku berani beda diantara teman-teman mayoritas wkwk
Bena: Tidak,
Mas Gagah: Tidak
Dilan: Pernah sih. Kadang ngerasa pengen punya pacar biar ada yg bisa diajakan jalan2 berdua tanpa takut ada org lain yg marah.
Salman: Kalau sedih karena kesinglean ga pernah, tapi kalau sedih melihat teman-teman pacaran sering.. Sedih

Suka iri gak sama orang-orang yang punya pasangan?

Rio: Yang pacaran? Enggak sama sekali, kalau sama pasangan halal kadang sukak iri. hehe
Bena: Terkadang, tapi biasa aja
Mas Gagah: Belom pernah merasakan apa-apa, saat ini lebih bahagia sendiri.
Dilan: Kadang-kadang. Karna ngerasa kita gabisa kaya mereka. Padahal sebenernya kita bisa lebih baik dari mereka
Salman:Ga iri.. Biasa aja.. Iri itu kalau ngeliat temen yang sudah nikah

Apa yang kamu rasain dalam ke-single-an kamu? Pernah merasa terpuruk?

Rio: Enggak pernah merasa terpuruk. Kebetulan aku punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal" yang sifatnya produktif. 
Bena: Tidak, tergantung menyikapinya bagaimana masing masing orang. 
Mas Gagah: Bahagia. Tergantung pribadi menyikapi setiap masalah. 
Dilan: biasa aja. Jalanin aja dulu
Salman: Ga pernah merasa terpuruk. Cuma galau ngeliat yg sudah berpasangan halal
Pendapat kamu apa buat generasi muda yang suka sedih dengan ke-single-annya?

Rio: Main yang jauh, karena hidup di dunia nggak cuma soal cinta aja
Bena: Banyakkin kegiatan. Sering jalan sama temen temen.
Mas Gagah: Banyak bergabung dengan komunitas yang baik dan aktif.
Dilan: Santai aja, Tuhan udh siapin yg terbaik ko
Salman: Terlalu cengeng, baperan dan tidak berani mengambil tantangan.

Apa pesan kamu buat orang2 single di luar sana?

Rio: Pastikan, "kualifikasi" kamu sesuai dengan "spesifikasi" pasangan kamu kelak.
Bena: Jangan merasa sedih. Allah sudah menetapkan garis kehidupan mu rezeki, mati, jodoh sudah di atur. Jadi gausah takut.
Mas Gagah:  Tetep istiqomah, karna semua ada 'saatnya'
Dilan: Berhenti mencari, mulailah memantaskan diri
Salman: Karena yang baik dengan yang baik. Maka jadilah yang terbaik. Semoga jodoh adalah yang terbaik.
Kalau pesan kamu buat calon pasangan hidupmu kelak?

Rio: Aku disini, lagi mempersiapkan banyak hal buat kami
Bena:  Semoga dia menjadi orang yang bisa menerima kita apadanya. Orang yang cerdas, bisa menjadi pengajar buat anak anak yang cerdas juga nantinya.
Mas Gagah: Siapkan diri agar jadi sepintar aisyah, setegar khodijah dan seberani hafshah.
Dilan: Jaga diri baik2. Inget, suatu hari kita bakal dipertemukan dan menjalani hidup bersama
Salman: Betapapun shalihahnya kepribadianmu, ia takkan pernah berada dalam satu posisi.. Namun pastikan bahwa perubahan posisi itu tetap dalam langkah-langkah kebaikan

Sudut pandang dari kaum adam mengenai 'How to be Single' mengajarkan kita bahwa Single tidak hanya menjadi takdir. Melainkan menjadi sebuah pilihan hidup yang diyakininya menjadi bekal untuk berumahtangga nanti. Hidup ini hanya sekali. Bukankah menjadi hal-hal yang sia-sia, jika hidup kita di dunia tidak dihabiskan dengan mengumpulkan pahala, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan meraih prestasi sebanyak-banyaknya. 

Beberapa diantara mereka, mungkin saja menganggap bahwa dengan memiliki kekasih hidup akan terasa berwarna. Memiliki seseorang yang nyaman untuk berbagi keseharian, mempersiapkan rencana masa depan bersama, dan menghadapi masalah dan segala sesuatu bersama. Namun apakah manfaat dunia akhiratnya lebih banyak saat kita memiliki kekasih, dibandingkan saat kita single dan berprinsip 'No Khalwat Until Akad'? Apakah dengan kesingle-an kita menghasilkan banyak mudharat dibandingkan dengan saat kita berpacaran atau menjalani hubungan tanpa status? Engga kan? Jadi tetaplah istiqomah untuk single dalam ketaatan kepadaNya. Bukankah banyak yang perlu dipersiapkan dalam menjadi seorang Ayah? Wahai para calon bapak, jangan sia-siakan masa mudamu. Pendamping hidup dan anak-anakmu kelak ialah tanggungjawab dunia daakhiratmu.



By the way, gimana nih untuk yang (lagi) gak single, apakah rasa sayangmu terhadap kekasih yang akan membawamu ke dalam SurgaNya?

Minggu, 26 Februari 2017

Maimunnah dalam kesendiriannya
  Diakhir zaman seperti sekarang, banyak kawla muda yang sering sedih dengan status 'Single'nya. Perkembangan pergaulan zaman sekarang membuat kebanyakan remaja dengan berbagai latarbelakang memiliki keinginan untuk mempunyai kekasih. Katanya sih guna menghilangkan kesendiriannya, membahagiakan hidupnya dan menemani kesehariannya. Tapi, apakah menjadi 'Single' adalah sebuah pilihan hidup yang buruk? Penasaran kan apa jawaban mereka. Simak berikut jawaban wanita-wanita single yang nyaman kesendiriannya. Ohya nama-nama yang ada dibawah ini hanyalah nama samaran. Bukan nama sesungguhnya. Silahkan menikmati :)
Apa di benakmu kalo mendengar kata single?  
Rani: Belum menikah
Aisyah: Jomblo. Yang suka doain ujan pas malem minggu, jomblo ngenes sih itu.
Mbak Kirana: Single itu satu, satu itu sendiri, sendiri sepi. Ah ga juga kok :))
Maimunnah: Single itu bukan sendiri. Single itu bareng keluarga dan saudara. Single itu bisa berduaan sama Allah (:
Dinda: Kata yang bisa digunakan para jomblo untuk membela diri dan menyebut dirinya single biar lebih keliatan elegan

Kamu merasa hidupmu dipenuhi dengan kesendirian?

Rani: Tidak. Allah selalu bersamaku
Aisyah: Enggaklah, kan punya temen, sahabat, saudara, keluarga, dan Allah sih pastinya eaa
Mbak Kirana: Emng kalo dalam hidup ada 1 pria yg selalu ngisi hari2 kita, akan beda rasanya? Aku punya banyak sahabat kok :))
Maimunnah: Tidak. Karena kemana2 ada malaikat kanan kiri.
Dinda: Engaa doong, ada banyak orang di sekitar kita yang selalu membuat tersenyum dan menangis seperti, orang tua, keluarga, sahabat, dan ada banyak hal yg di lakukan.

Tapi pernah ngerasain punya pasangan, a.k.a kekasih?

Rani: Pernah
Aisyah: Pernah
Mbak Kirana: Pernah.
Maimunnah: Belum. Nanti aja setelah "Sah"
Dinda: Pernah. Beberapa tahun lalu, udah lama banget

Apa yang kamu rasain pas punya pasangan? Lebih bahagia atau lebih sedih dibandingkan saat kamu sendiri?

Rani: Lebih bahagia sendiri
Aisyah: Kalo sedih atau senengnya sih sm aja gak ada bedanya, tapi sedihnya org pacaran ga mutu banget gak sih? Alay aja sekarang klo ingetnya. Kalo yang d rasa pas punya pasangan sih was was ya takut org tua tau
Mbak Kirana: Biasa aja si, karna waktu itu pacarannya cuma main-main doaang, ntah kalo serius(?)
Maimunnah: Kayaknya ribet, semua harus dibagi~
Dinda: Jika kita punya pasangan kita mempunyai kebahagiaan tersendiri dan rasa kesedihan bahkan marah, sedangkan dengan status single kita mempunyai rasa bahagia yang berbeda, kesedihan yg berbeda pula. Bahkan terkadang adakalanya merasa lebih bahagia jika kita sendiri

Pernah merasa sedih gak dengan 'ke-single-an' yang kamu jalanin?

Rani: Ngga sih. Keep husnudzon with Allah
Aisyah: Pernah sih kalo lagi sendirian di kontrakan karena anak2nya pada malem mingguan. Untungnya masih bs main hape, nonton youtube jadi udah terhibur lagi
Mbak Kirana: Pernah sih. Kadang ngerasa pengen punya pacar biar ada yg bisa diajakan jalan2 berdua tanpa takut ada org lain yg marah, pernah merasa ingin ada yg merhatiin juga, ngelindungin, bikin kita jadi spesial deh pokoknya
Maimunnah:  Pernah sih. Makanya berusaha menyibukkan diri untuk kebaikan, kalo ngga bisa2 terjerumus dalam hal 'kotor' itu
Dinda: Sedih sih engga. Paling ada rasa "Ah gue pengen deh punya pacar" tapi setelah dipikir2 hanya sekedar keinginan yg ga mau di wujudin aja 

Suka iri gak sama orang-orang yang punya pasangan?

Rani: Ngga sih. Sendiri lebih baik
Aisyah: Kadang. Apalagi klo malem2 liat temen gue suka dapet makanan gitu dari pacarnya, tp abis itu biasa lagi, kan gue kedapetan makanannya juga wkwk. Atau pas lagi dirayain ultah, tp gue kan punya temen yg suka ngerayain ultah gue juga, jd ga ngiri lagi
Mbak Kirana: Kadang2. Karna ngerasa kita gabisa kaya mereka. Cuma yaaa kalo diratapin terus ga akan ada habisnya :"
Maimunnah: Enggak sama yg belum halal mah~
Dinda: Iri sama beberapa pasangan sih, apalagi pasangan yang kemungkinan itu jodohnya dia dan udah persiapan mau nikah 😔

Apa yang kamu rasain dalam ke-single-an kamu? Pernah merasa terpuruk?

Rani: Biasa aja
Aisyah: Enggaklah, enak malah temenan sm siapa aja bisa.
Mbak Kirana: Terpuruk banget engga, cuma gimana ya? Kadang kalo lagi sendirian tuh suka mikir "coba punya cowo, pasti bla bla bla..."
Maimunnah: Jangan lebay ah
Dinda: Engga dong, karna pernah merasa terpuruk dikala pacaran jadi lebih bahagia dong kalau single haha 


Pendapat kamu apa buat generasi muda yang suka sedih dengan ke-single-annya?

Rani: Kalem. Allah punya waktu terbaik
Aisyah: Gausah alay deh. Doa aja yg banyak biar dipertepat jodohnya dan waktu
Mbak Kirana: Yaelah lu ga bakal mati, main aja yg jauh, cari banyak temen, nanti juga lupa sendiri kalo jomblo
Maimunnah: Sedih kenapa sih? Banyak orang yg butuh kebermanfaatan kita lho ;)
Dinda: Ngapain sedih sih, dengan single lo dapat melakukan hal2 yg mungkin gak lo dapet di masa pacaran, dengan menjadi single lo bisa mempersiapkan banyak hal untuk menjadi dewasa. Jalani aja selagi lu masih sendiri dan belum dikekang sama sidia "terutama bagi wanita yang kodratnya harus mengikuti suami"

Apa pesan kamu buat orang2 single di luar sana?

Rani: Fokus perbaiki diri aja dulu
Aisyah : Gausah sedih, gausah ngerasa gak laku, pacaran ga seenak yg di bayangin
Mbak Kirana: Lakuin yg terbaik ajaa biar dapet yg baik jugaa
Maimunnah: Nikmati masa sendiri, manfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi buat calon ibu ;)
Dinda: Yuk berbenah diri, persiapkan diri menjadi lebih baik sehingga bisa menemukan pasangan yang ideal.
Kalau pesan kamu buat calon pasangan hidupmu kelak?

Rani: Jaga shalat dan Alqur'an
Aisyah: Belajar yg bener, sholatnya jgn pernah ditinggal, tahajud dhuha nya di tingkatin, sekarang sama2 usaha perbaikan diri dulu
Mbak Kirana: Di sini aku lagi berusaha untuk menjadi baik, semoga kamupun begitu :"
Maimunnah: Semangat selalu berbagi denganku 
Dinda: Jaga pandanganmu yaa dari hal2 yang nggak nggak, ttp jaga hatimu untuk cinta sejatimu


The conclution is many woman more happier than she have a couple. Disaat banyak wanita yang terpuruk dengan ke-single-annya, masih banyak juga wanita yang berprinsip untuk tidak mempunyai pasangan sampai 'saatnya' nanti. Status 'Jomblo Sampai Halal' yang disandang membuat mereka percaya bahwa seseorang yang baik untuk pasangan yang baik pula. Berbenah dan meningkatkan kualitas diri menjadi pilihan terbaik untuk para kaum single. 

Selain karena dilarang dalam islam pada surat Al-isra ayat 32 yang berbunyi: Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk, ketidak-single-an/pacaran termasuk juga hubungan tanpa status adalah hal yang berdampak negatif untuk studi kita, perilaku keseharian kita, dan tentunya mempengaruhi ketaatan kita pada Allah juga orangtua. Wajar bila setiap orang mempunyai kisah masalalu dengan seseorang lawan jenis yang ia kasihi. Tetapi yang terpenting adalah pilihan hidupnya yang sekarang, yang menjadikan status 'single' ialah bukti ketaqwaan dan kecintaannya terhadap sang pencipta. 


By the way buat yang (lagi) gak single, apa kalian yakin bahagia bersama kekasih kalian dengan menjalakankan larangan yang maha kuasa?

Jumat, 24 Februari 2017

Hijrahku di Berlin.
Oleh Shofiyah Najiyah

Pstt jangan tanya siapa modelnya ehe
Kulangkahkan kaki menyusuri pertokoan Kottbusser Tor. Kurapihkan sedikit hijab yang sudah setahun ini menemani hidupku di Jerman. Kottbusser tor adalah bagian dari Kreuzberg Jerman. Daerah ini banyak ditempati oleh orang turki dan arab. Jadi tidak heran di sebelah kanan dan kiri jalan banyak terdapat kafe-kafe halal.

Kakiku berhenti di depan toko makanan arab. Membaca menu-menu baru di depan toko kebab. Tiba tiba aku mendengar ada yg memberikan salam dari belakang. Reflek aku menjawabnya dan menengok ke belakang.  Seorang ibu-ibu yang sepertinya asal turki menyalami dua perempuan di hadapannya. Rupanya Ibu tersebut hanya menyalami perempuan yang memakai hijab.

"Wo komms du her?"
"Ich komme aus Malaysia." Muka ibu itu terlihat sumringah. Tak hanya disalami, wanita berhijab itu juga hendak dipeluknya.
"Ahh Malaysia. Was machst du?"
"Ich bin eine studierende."

Ibu asal turki tersebut hanya tersenyum dan mengangguk kecil ke arah perempuan yang tidak memakai hijab.
Kejadian tersebut sama persis dengan kejadian yang pernah ku alami. Saat jalan berdua teman yang memakai hijab, mereka, orang-orang turki di Jerman hanya menyalami temanku yang memakai hijab. Mereka tidak memberikan salam kepadaku. Mungkin hal itu tidak akan terjadi, jika waktu itu saya memakai jilbab juga. Karena dia pasti tidak mengetahui jika saya seorang muslim. Betapa indahnya islam. Diberi salam oleh orang-orang yang berbeda negara dengan kami, tapi ternyata kami bersaudara.

Dari Kottbusser Tor aku menaiki U-Bahn menuju jembatan dekat Der Fernsehturm yang dulu sering aku kunjungi.  Berlin di sore hari memang memukau. Dan menikmati matahari terbenam di Jerman diatas jembatan ini adalah hal yang suatu saat nanti akan kurindukan bila tidak tinggal di Jerman lagi. Bagiku jembatan ini adalah jembatan kenangan. Jembatan yang menjadi saksi bisu berakhirnya kisahku dengan seorang mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang tinggal di Hamburg.

"Bist du Diana?" Aku mengangguk.
Hari pertama aku mengenakan hijab dihadapan Paulus, ia sedikit terkejut. Diam melihatku dari ujung kaki sampai kepala. Saat itu pertama kalinya aku terserang grogi dan ketakutan yang amat dalam saat bertemu Paulus. Teman dekat yang menemaniku selama tiga tahun tinggal di Jerman kini merasa asing dihadapanku. Selama beberapa menit saat itu kita tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Wie geht es dir?"
"Mir geht es gut Paul."
Aku masih ingat saat itu aku sudah begitu yakin dengan pilihanku.
"Maafin saya ul. Ada banyak hal yang terjadi pada saya yang bikin saya sadar bahwa hidup itu bisa berakhir kapan aja. Dan saya ga bisa menunda keinginan saya lagi untuk berhijrah. Saya gabisa membayangkan hidup saya selanjutnya tanpa datangnya hidayah dari Allah."

Penjelasan saya waktu itu buat Paulus mengerti. Dinding keyakinan kita semakin terlihat jelas berbeda. Paulus menghormati keputusanku. Besar harapannya agar aku tetap bisa mengisi kehidupannya. Namun dengan segenap usahaku, aku menolaknya dengan halus. Senja saat itu terasa begitu sesak dan berbeda. Perpisahan yang menghasilkan pertemanan antara aku dengan Paul sebatas teman seperjuangan dari Indonesia di Jerman.

Sudah genap satu tahun rupanya. Dulu diatas jembatan ini sering kami habiskan waktu bersama. Menikmati senja, menemaninya mengamen dengan gitar kesayangannya atau sekedar menikmati suguhan musik dari pengamen lainnya. Butuh banyak perjuangan dalam menempati pijakan pilihanku yang sekarang. Aku tidak ingin agama yang menjadi keyakinanku hanya sebagai formalitas saat aku terlahir di dunia, saat menikah dan saat aku wafat nanti.

Hidup di Jerman membuatku banyak berpikir. Mendapatkan hidayah untuk berhijab. Meninggalkan Ikhtilat dan menjaga hubungan dengan lawan jenis. Bisa dikatakan bahwa mungkin dengan ketiadaan takdirku di Jerman, aku belum mendapatkan esensi dalam beragama itu sendiri. Menengadah ke langit, aku berharap segala hal yang aku pilih adalah yang sesuai dengan koridorNya. Dan tentu saja berpisah dengan orang yang kita sayangi bukan berarti berhenti mendoakan. Selalu kuselipkan do'a agar Paulus menjalani hidup yang lebih baik dan  diberikan Allah hidayah untuk memeluk apa yang kuyakini.

Terjemahan
Wo komms du her?: Where do you come from?
Ich komme aus Malaysia: i'm from Malaysia
Was machst du?: What do you for living?
Ich bin eine studierend: I'm a student here.
Bist du Diana?: Are you Diana?
Wie geht es dir?: kamu kenapa?
Mir geht es gut: aku baik2 aja kok

I know my germany still making mistakes. I just wanna trying some different chase. Opening suggestion everytime. By the way this flash fiction, i copied from Forsad's website. Auf Wiendersehen :)
Dimanakah dirimu saat kitab sucimu dinistakan? Islam adalah identitas yang sangat melekat jauh tidak hanya sampai kita wafat. Di negara manapun pijakan kaki berdiri, Al-Qur'an tetap menjadi kompasnya kehidupan umat islam. Kerealistisan tidak berlaku, jika syariat islam tidak ditegakkan, jika perihal aqidah yang jadi pertimbangan. Logika sudah bukan tolak ukur, jika Al-quran adalah harga akhirat. Segala macam bentuk kesuksesan duniawi, tidak bisa menjamin tujuan inti kehidupan. Sesunggguhnya di dunia inilah sedang kita bangun surga di akhirat. Karenanya, 4 November aku akan turun, sebagai bukti islam agamaku dan al-Quran pedoman hidupku. 
Kira-kira itu tadi yang aku tulis, beberapa hari menjelang Aksi bela Islam 4 November 2016. Keinginanku cukup besar untuk hadir di aksi tersebut. Aksi Bela Islam Jilid II yang menuntut si penista agama segera dipenjarakan. Hati dan aqidahku terusik, kitab suci Al-Quran yang kuhafal, yang berusaha kuamalkan, kitab pedoman hidup umat dilecehkan terang-terangan. Tapi hukum lamban untuk memproses keadilannya. Padahal sebagai bukti bahwa kita adalah bangsa beradab dan cinta damai, kita perlu menegakkan keadilan dan supremasi hukum.

Awalnya rasa sedih dan kesalku belum pada tingkatan saat ini. Namun hatiku tersentuh melihat postingan snapgram temenku yang dari Jogja berangkat aksi H-1. Kalo gasalah dalam postingannya itu, dia ngejelasin kalo dia ridha ikhlas apapun yang terjadi nanti pas aksi yang akan dijalaninya. Dia gak tau apa dia bisa balik lagi kembali ke Jogja setelah aksi ini. Yang dia tau, dia balik ke Jakarta untuk membela agamanya, untuk menjadi mujahid di JalanNya.

 

Video tersebut diambil oleh temenku dari Forsad yang turun aksi. Seharusnya aku juga ada disitu menggelorakan takbir:') Teramat sedih, pada hari itu Jurusanku lagi akreditasi yang mengharuskan semua mahasiswa ikut serta. Dan pulangnya abis dzuhur mungkin sebenernya masih bisa, tapi temenku ngajak buat ngurus observasi dulu ke sebuah perusahaan. Sepulangnya aku hari itu, aku bersedih menangis tidak bisa ikut turun. Aku mau bela agamaku juga. Aku mau al-Quran yang kubela di dunia ini, bisa membelaku kelak diakhirat.

Setelah aksi bela islam Jilid II ini, alhamdulillah ada lagi Aksi Bela Islam Super Damai Jilid III hari Jumat 2 Desember 2016. Aksi yang terkenal dengan Aksi 212 ini buatku sangat istimewa. Kenapa? karena beretepatan dengan ulang tahunku yang ke 21 :")) Allah maha baik. Hari lahirku yang ke 21 dirayakan dengan doa bersama 7,4 juta umat muslim dari seluruh penjuru di Monas, Jakarta. Aksi yang bener-bener damai dan tentram, yang membuat banyak orang bergidik dengan kekuatan umat islam, supaya Hukum ditegakkan. Supaya Allah mengabulkan doa kami. Aksi yang bersejarah untuk kaum muslimin di Indonesia. Gak merusak tanaman. Gak ada sampah bertebaran. Semuanya dipungutuin sama peserta aksinya. Aksi yang dirahmati Allah karena hujan turun saat peserta aksi sedang menjalankan ibadah shalat jumat.Ya Allah aku juga mau bagian dari mereka :')

Yang lebih bikin aku terharu, adalah rombongan dari Ciamis yang jalan kaki ke lokasi aksi di Jakarta. YaAllah setiap langkah yang kita jalanin ke tempat sholat aja dinilai pahala olehMu. Sebesar apa pahala dan keikhlasan hambaMu yang kuat jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. HambaMu ini malu yaAllah, hamba yang tinggal juga di Jakarta belum bisa ikut juga ke aksi tersebut.
MENAKJUBKAN !!! Video Pemandangan Udara 7 Juta Orang Aksi 212 di Monas!
Sumber disini

Lagi-lagi Aku tidak bisa ikut aksi karena kuliahku yang absennya sudah diujung tanduk. Sedih sih, tapi yaa mau gimana lagi. Di aksi 212 ini, alhamdulillah Umiku bisa ikut turun menjadi bagian dari mereka. Sempet terlintas di pikiranku, nanti kalau aku sudah jadi seorang ibu nanti. Lalu anakku bertanya kepadaku. Sedang dimanakah Ibu saat Aksi bersejarah itu terjadi? Aku malu jika harus jujur karena aku sibuk dengan kuliahku. Sibuk dengan duniaku. Doaku, sebelum wafatku Allah mengizinkan aku untuk turun ke medan juang dalam membela agama dan KitabNya.

Alhamdulillah Allah mengabulkan do'aku. Aku ikut Aksi doa bersama di Masjid Al-Istiqlal, hari Sabtu tanggal 11 Februari 2017, atau yang sering dikenal dengan kode Aksi 112. Karena dari Forsad gak turun secara formal bersama-sama, aku ikut serta bersama rombongan ibu-ibu ODOJ. Paginya, aku sempet galau karena di Jakarta paginya hujan cukup deras. Karena dari Rawamangun aku berangkat sendiri, jadi aku harus memesan Transportasi Online biar gampang kesananya. Sedihnya, tak ada satupun driver yang mau menerima pesananku:( Sampai akhirnya terimakasih Bapak Jamal Mu'minin telah mengantar saya ke area sekitar aksi di Al-Istiqlal.

Di jalan aku terharu dengan cerita Bapak Jamal yang tinggal di Kampung Melayu ini. Ternyata anaknya Pak Jamal yang masih SMP juga ikut aksi 112. Bahkan udah menginap dari semalem di Masjid Al-Istiqlal. Pak Jamal di jalan sedikit mengungkapkan kemarahannya dengan si penista agama. Kalo gak salah dia bilang Lihat Mbak, hujan ini rahmat dari Allah. Hujan yang Allah turunkan menjadi berkah bagi peserta aksi hari ini. Dahsyat ya mbak umat islam itu. Hari ini umat islam berkumpul lagi membela al-maidah ayat 51. Anak saya aja ikut aksi.

Belum sampai si lokasi, aku harus pakai jas hujan karena hujannya makin lebat. Sampai daerah Pasar Senen, aku ngelewatin peserta aksi juga yang lagi jalan kaki ke Istiqlal. Aku liat anak kecil juga ikutan aksi ditemani orangtuanya. Derasnya hujan tak menyurutkan mereka dalam menggelorakan takbir kepada Allah. Saat itu juga air mataku berlinangan seiring dengan percakapan bersama Pak Jamal. Ya Allah Permudahkan langkah kami berjuang di jalanMu.
Di depan Masjid Al-Istiqlal
Sesampainya aku di depan Majid Ail-istiqlal, kawasan daerah Al-istiqlal sudah dipadati oleh para peserta aksi. Tentu aku sangat senang dan penuh haru. YaAllah akhirnya hambaMu ini bisa menjadi bagian dari mereka, mujahid dan mujahidah yang membela agama, al-quran dan ulama. Berjalan menuju pintu al-fattah dan berakhir berdzikir di dekat kali. Ya disitulah tempatku, akhirnya memanjatkan sholawat dan dzikirku kepadaNya. Tausyiah yang para habaib dan ulama sampaikan membuatku tak sedikit menitikkan air mata.

Benar yang disampaikan teman-teman dan yang ada si sosial media, para peserta aksi datang tidak diinisiasi oleh partai-partai politik. Aksi yang selama ini dilakukan oleh umat islam, bukan perihal pilkada atau politisasi. Para peserta aksi pure murni ingin membela agama dan alquran. Kulihat raut-raut ketulusan mereka. Senyum yang mereka lemparkan satu sama lain. Kami hanya ingin hukum ditegakkan seadil-adilnya. Kalian bilang pasukan nasi bungkus? siapa yang rela mengobarkan hartanya unttuk membiayai jutaan umat untuk turun. Bahkan di aksi 212 dan 112, uang pun sudah tidak ada nilainya. Makanan dan minumann dibagikan secara gratis. Banyak orang muslimin yang menginfakkan sebagian hartanya untuk aksi hari ini.

Sering aku temukan oknum-oknum lain, tak terkecuali oarng islam sendiri mengatakaan "masyarakat jakarta dan penegak hukum gk boleh di tekan begini terus, aktifitas warga Jakarta juga terganggu kali" atau "Alquran gk perlu dibela tong, urus diri sendiri aja pada belum becus malah bela2 alquran, MASIH PADA PUNYA DOSA KAN???" atau "Ente dari daerah yang nyampah naik bus kemari? dapet honor berape tong? jangan lupa bapa ibu di bagi2 ya, hehe"  Astagfirullah, kalau tak ada ilmu dan bukti mending jangan ngomong tong. Beropini juga mesti ada landasannya kali:(

Wahai saudaraku tidak selamanya kita mencari keuntungan lewat dunia, mengindahkan dunia dan mementingkan kepentingan duniawi. Kontribusi kita mengikuti aksi atau menyedekahkan harta kita untuk donasi aksi adalah salah satu cara untuk mengambil keuntungan di akhirat. Toh hidup di dunia ini cuma sebentar kok. Yang kekal kan hidup di akhirat. Sesungguhnya yang sedang kita bangun adalah surga kita di akhirat. Buat apa dunia kita bikin indah dan megah, tapi amal kita hidup di dunia tidak bisa mengindahkan hidup kita nanti di akhirat. 

Dan disinilah kita membela surat Al-Maidah ayat 51. Mengapa kita harus membela agama dan kitabNya? Bukankah Allah maha besar dan penuh kuasa atas segala sesuatu? justru itu Allah maha kuasa untuk membolak-balikkan dunia ini. Allah ingin menguji kita sebagai hambaNya, seperti yang dikatakan Allah dalam kitab suciNya:
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا Ø¥ِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللَّÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ Ø£َÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukannya."
Ya Allah semoga apa yang umat islam lakukan pada aksi 411, 212, 112 dan aksi apapun yang diniatkan untuk membela agama dan kitabMu, dapat menjadi saksi di akhirat kelak terlebih untuk HambaMu yang hina ini. Inilah bukti real kami mencintai dan tulus membela agamaMu. Kami hambaMu datang insyaAllah selalu berkumpul dalam ketaatan. Tidak ada yang paling bernilai di dunia ini dibanding keridhoan Allah kepada kita. Matikanlah kami dalam Syahid di JalanMu. Engkaulah sebenar-benarnya pelindung dan pembela.

Check it her blog too!

Senin, 12 Desember 2016

Image result for budaya mencontek
Sumber Gambar Ini
Salah satu budaya buruk pelajar Indonesia adalah menyontek. Mencontek menurut bahasa arab disebut dentan ghish (الغش) dan khadi'ah (الخد يعة) yang berarti tipu daya. Adapun pengertian dalam bahasa inggris cheating memiliki makna asal dari menipu, memperdaya, berperilaku tidak jujur dan melanggar aturan secara sengaja. Media mencontek bisa lewat teman, gadget atau buat kertas contekan sendiri. Budaya yang satu ini amat sangat mendarah daging di Indonesia. Dari kalangan pelajar, tenaga pengajar, bahkan pejuang skripsi, tesis dan disertasi ikut melestarikan budaya menyontek.

Penyebab terbesar pelajar Indonesia untuk menyontek adalah tidak belajar. Dikarenakan malas buka buku, malas belajar dan malas buat berusaha. Kalaupun mereka sudah belajar, dan ada soal yang mereka gabisa jawab, maka mereka akan menyalin jawaban teman atau serching di internet. Motivasi pelajar Indonesia untuk menyontek tak lain adalah mengejar nilai setinggi-tingginya. 
Mayoritas pelajar bahkan meyakini bahwa nilai adalah segalanya. Nilai yang bikin lulus ujian, nilai yang bikin keterima di PTN favorit atau nilai yang bikin kita diterima di seleksi administratif pekerjaan. Buat mereka bukan cara yang terpenting, melainkan hasilnya. Jika dikaitkan dengan ilmu psikologi, budaya mencontek ini di latarbelakangi oleh bagaimana orangtua dan guru mendidiknya, lingkungan, dan nilai-nilai yang dianut. Ketiga hal tersebut yang menjadi tombak dari pilihan menyontek.
Kebanyakan dari pelajar Indonesia melupakan bahwa "Nilai-nilai yang terkandung dalam amal kita, sama usaha yang dinilai oleh Allah SWT jauh lebih penting daripada nilai kuantitatif di kertas." Urgensi amal kita jauh lebih penting dari nilai yang kita dapat dari hasil mencontek.
Allah Maha melihat, Allah Maha mengetahui. Sekecil apapun perbuatannya kita akan diminta pertanggung-jawabannya sama Allah di Yaumil Akhir nanti. Sesepele apapun, sesederhana apapun, termasuk perilaku contek-mencontek ini. Dari kebanyakan orang yang memelihara budaya ini, adapula yang sudah berprinsip untuk tidak mencontek dan memberikan contekan. Lantaran sudah susah-susah belajar, dan semudah itu orang-orang menyalin hasil jawaban kita. 

Buat aku sendiri, ujian menjadi tolak ukur atas pemahaman kita terhadap materi yang selama ini didapatkan. Dan nilai yang menjadi posisi seberapa persen kita menguasai materi tersebut. Sejatinya kita kuliah sekolah 12 tahun dan dilanjiutkan kuliah 4 tahun, tujuannya ialah untuk menuntut ilmu dan medapatkan ridho Allah. Sesungguhnya ijazah hanyalah formalitas dalam dunia pendidikan. Yang terpenting adalah pengaplikasiannya, ilmu yang akan bermanfaat untuk diri kita, orang lain bahkan berguna bangsa ini. Lantas kalau kita nyontek, esensi mencari ilmu apa yang kita dapat selama ini, bahkan tega melakukan hal yang sejatinya tidak Allah ridhoi?

Ketakutan dengan teman kita, kalau ga ngasih contekan akan kalah dengan rasa takut kita kepada Allah. Statement nilai adalah segalanya, seharusnya bisa tersisih dengan reminder hal-hal yang tidak Allah ridhoi, dan dengan hal-hal yang menjerumuskan kita kepada liang dosa. Perasaan mengerjakan ujian hasil jerih payah sendiri tanpa mencontek dan memberikan contekan, akan jauh lebih menyenangkan daripada mendapatkan nilai hasil hasil contekan atau mefasilitasi budaya  mencontek.
Iyasih nilainya bagus, tapi kalo timbangan amal buruk lo lebih berat begimane? :(
Allah gak akan merubah takdir seseorang sampai seorang tersebut melakukan usaha dalam merubah dirinya sendiri. Mencegah kemungkaran yang paling mudah adalah mencegah melewati hati. Selama kita mengingkari bahwasanya mencontek itu adalah dosa, salah dan kita tidak memfasilitasi budaya tersebut, insyaAllah yang kita lakukan tidak terhitung dosa. Semoga budaya mencontek dan memberi contekan perlahan bisa menjamur dan  tidak diimplementasikan oleh generasi selanjutnya. Aamiin.

Jumat, 21 Oktober 2016

Umur 14-16 saya merasa tidak terlalu terbuka dengan orang tua. Diusia saya yang sekarang, saya merasa dulu di Umur saya 17-18 tahun saya mulai mencoba berontak dari hal-hal yang tidak orangtua saya bolehkan. Saya merasa terganggu apabila orangtua ngehubungin saya terus dan mengkhawatirkan hal-hal kecil. Umur 18 tahun saya merasa tidak bebas karena hal-hal kecil pun selalu dipermasalahkan dengan orangtua. Saya merasa umur 18 tahun adalah usia yang cukup dewasa untuk saya mengambil keputusan sendiri. Umur 18 tahun saya merasa cukup bisa dalam mengatur rutinitas dan hal-hal lainnya. Sedangkan pada usia 19 tahun saya sudah pasrah tidak mau ambil pusing dengan lagi-lagi ketidaksesuaian keinginan orangtua dengan keinginan saya sendiri. Dan di usia 20 tahunlah, saya baru tersadar betapa pentingnya peran orangtua bagi masa depan dunia dan akhirat saya. Mungkin ya dari dulu SMA sadar, namun tidak bisa menjelaskan secara rinci dan luas kenapa peran orangtua sangat penting untuk setiap anaknya.

Orangtua adalah madrasah pertama bagi setiap anak. The first role model bagi anak adalah orangtuanya. Di usia-usia saya sebelumnya entah kenapa saya belum percaya diri dan mampu 100% untuk menunjukkan kasih sayang dan rasa terimakasih saya kepada orangtua. Saya merasa di usia 20 tahun ini saya baru benar-benar full memberikan perhatian kepada mereka, mengikuti semua apa yang diinginkannya dan lain-lain.

Untuk ukuran mahasiswa yang jauh dari orangtuanya, dan pulang tiga atau dua minggu sekali, orangtua saya masih sangat perhatian di usia saya yang sudah mulai berkepala dua. Ketika dini hari, orangtua saya mengirim pesan singkat agar saya bangun shalat tahajud, dan masak nasi untuk sarapan. Di siang hari pun orangtua saya mengingatkan untuk segera makan siang, dan jangan sampai telat. Setelah saya pulang kuliah sekitar jam lima, ibu saya pun mengingatkan untuk membeli makan malam terlebih dahulu sebelum menuju kosan. Di semester 5 ini memang tugas dan system belajarnya benar-benar beda dari semester sebelumnya. Ya memang harus diwajari, karena semester 5 ini adalah semester terakhir saya kuliah efektif. Sehingga tugas dan dealine yang saya hadapi bener-bener dahsyat.Di awal semester 5 saat hecticnya bimbingan dan pengumpulan laporan PKL, selama semingu jadwal makan tidur dan istirahat saya sangat tidak teratur. Waktu saya sangat disita dengan ngerjain laporan PKL. Sampe pas akhir pekannya, saya jatuh sakit,. Gak ada makanan dan minuman yang bisa masuk ke perut. Dan betapa mulia hati kedua orangtua saya, mereka datang menjenguk di hari kedua saya sakit.

Beberapa kali memang saya seringkali jatuh sakit, akibat gak bisa kontrol makan dan tidur karena sibuknya kuliah. Fisik saya terbilang lemah, sehingga orangtua saya juga memberikan fasilitas dan materil yang memadai agar saya tetap sehat dan lancar kuliahnya. Entah mulai sejak kapan, saya sudah sering menanyakan kegiatan sehari-hari orang tua saya. Usia 18 tahun awal masuk kost, ibu saya rajin banget sms saya sekedar mengingatkan hal-hal kecil seperti kunci pintu kosan. Jaman semester satu, ibu saya juga masih rajin nganterin saya balik ke kosan kalau akhir pekan saya pulang ke rumah. Dan saya menyesal kenapa dulu saya tidak memberikan perhatian full ke orangtua. Yang saya tanyakan cukup sekedar kabar kesehatan dan kondisi di rumah. Saya ga nanyain ibu sedang apa, sudah makan apa belum, atau lagi ada di mana.

My Half

Saya paham hal-hal yang tidak kita inginkan bisa saja terjadi pada saya ataupun pada orangtua saya. Tidak ada yang tau perihal waktu kapan salah satu dari kami mengakhiri petualangan di dunia. Di usia 18 tahun kebawah saya sama sekali tidak terlintas dan tersadar, bahwa kapan aja kita bisa dihadapkan dengan kondisi kehilangan orangtua atau berakhirnya hidup diri saya sendiri. Dan mulai usia 19 tahun, gatau kenapa saya mulai membayangkan bagaimana hidup saya nanti dengan ketiadaan orangtua. Sebagai anak pertama, sekarang orangtua lebih banyak diskusi atau bercerita kepada saya. Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan kedua adik saya, orangtua mulai menitipkan dan mempercayakan saya untuk mulai membantu mengurusi adik-adik. Adik saya yang pertama baru masuk kuliah arsitektur di Semarang. Dan adik saya yang kedua duduk dibangku SMP kelas 2. Saya rasa, saya terlambat. Baru di usia menjelang awal 21 tahun, saya memberikan 100 persen perhatian saya kepada orangtua dan adik-adik. Setiap dua atau tiga hari sekali, saya selalu menanyakan kabar adik saya. Sedang sibuk ngejain tugas apa. Lagi dimana, ada makanan gak di kosan.

Ya mungkin di luar sana pasti sudah memahami kewajiban seorang anak kepada orangtuanya harus bagaimana. Seusia sekitar 20 tahun keatas, kita sedang sibuk-sibuknya dengan aktivitas hidup kita yang semakin seru dan menantang. Kita sedang senang bertemu dengan banyak orang, bergaul dan menikmati masa muda kita bersama teman-teman. Tapi saya harap temen-temen selalu ingat, bahwasanya bisa membahagiakan orangtua adalah perasaan yang gak bisa digantikan dengan apapun. Selalu mendoakan dan memberikan yang terbaik adalah kewajiban kita. Barang atau rumah semahal apapun tidak akan sebanding dengan kasih sayang dan perjuangan jihad yang orangtua berikan kepada kita. Semahal apapun pemakaman yang kita berikan tidak akan mempengaruhi, kalau beliau sudah tidak ada nanti. Waktu kita sebenarnya banyak, namun kadang kita tidak bisa memanfaatkan waktu untuk selalu membahagiakan orangtua.

Allah telah menjelaskan di dalam Alqur’an Al-isra ayat 23: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang diantara keduanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Maka dari itu, buatlah mereka bahagia, sesekali jangan buat keduanya menangis. Mendoakan mereka adalah satu hal yang tidak pernah terlewatkan dalam barisan doa setiap sujud kita. Buatlah orangtua sangat bangga dan bersyukur telah mempunyai anak seperti kita. Berikanlah yang terbaik untuk keduanya. Sayangilah orangtua seperti mereka menyayangi kita di waktu kecil. Ridho Allah adalah ridho orangtua. Surga adalah di telapak kaki ibu. Amalkanlah dan hafalkanlah al-quran agar bisa memberikan mahkota kepada keduanya di akhirat nanti. Semoga kita selalu termasuk golongan yang beriman kepadaNya, dan taat kepada orangtua. Aaamiin ya rabbal alamin.

Kamis, 08 September 2016


     Hidup itu indah dan penuh kegembiraan, segembira menciptakan Kata Pengantar di awal skripsi. Hidup itu penuh ketelitian, seteliti saat menciptakan Daftar Isi. Untuk menjadi dewasa dalam menjalani hidup, anggap saja aku telah melewati 45% masalah dalam hidup. Dan tentu masalah tersebut sudah kutuangkan dalam Latar Belakang Masalah. Tak ketinggalan dengan Rumusan Masalah, sudah Kusiapkan pertanyaan untuk diriku sendiri.

“Seberapa ikhlaskah aku dalam menjalani bab-bab kehidupan yang sudah Allah siapkan di Lauhul Mahfuz agar layak dikategorikan ke dalam golongan bertaqwa”

     Adapun Tujuan Penelitian ialah jawaban dari semua Rumusan Masalah. Tujuan penelitianku dalam hidup tak lain adalah menuju surga Allah. Menguji keikhlasan, belajar bersabar semata-mata karena mengharap ridho Allah. Kuharap kehidupanku menjadi bermanfaat untuk orang lain. Tidak hanya bermanfaat untuk para akademisi kehidupan, namun dapat dicontoh dan diteladani oleh para praktisi kehidupan. 

      Dalam menghadapi ujian biasanya kita mendapatkan bekal terlebih dahulu. Beberapa ujian terjadi agar kita mendapatkan bekal untuk menghadapi ujian atau masalah yang lebih besar. Umur 18 tahun aku pernah membuat Kajian Pustaka sederhana untuk bekal atau ilmu menghadapi ujian hidup yang lebih besar. Kajian pustaka tersebut kupelajari dari para ahli yang berbicara mengenai konsep IKHLAS, SABAR, IKHTIAR, dan TAWAKAL. Kualitatif iman seakan menjadi Landasan Teori dalam menghadapi hidup. Seberapa kuat pomeo innallaha ma‘ana tertancap dalam inti jantung kita. Sering kali kita terlalu banyak gelisah ataupun gundah gulana. Padahal kita hanya perlu tawakal dan ikhtiar sebanyak-banyaknya. 

   Hidup terkadang perlu diteliti serumit Metodologi Penelitian. Namun tak perlu melakukan uji instrumen validitas ataupun reliabilitas. Cukup melakukan Analisa Diri atau bermuhasabah diri. Hidup tak hanya mengandalkan analisis SWOT. Karena kuncinya bisa jadi menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji sekuat apakah kita dalam menghadapi masalah. Bagaimana pendapat orang ketiga mengenai sikap kita selama ini. 

    Akhir dari kehidupan kita memang bisa digolongkan ke dalam Bab 4 yang berisi Kesimpulan dan Saran. Dihabiskan untuk apa sedikit waktu yang kita punya di dunia? Kemudian paragraph keduanya amal baik dan amal buruk apa apa yang sering kita lakukan selama di dunia. Akan berakhir dimanakah perjuangan hidup kita selama ini. Ribuan saran dan nasihat orang-orang berikan kepada kita agar menjalani hidup yang lebih baik lagi. 

    Kuharap dimanapun kita berada dan setinggi apapun kita dimata dunia, kita tetap mengenang orang-orang yang memberikan kita banyak ilmu dan Teori yang melimpah. Selain dikenang, nama-nama orang tersebut dapat kita abadikan melalui Daftar Pustaka dan mendoakan mereka agar selamat dunia dan akhirat. Perkenankan aku berhusnudzon kepada Allah agar Lampiran kehidupanku diisi dengan potret kebaikanku selama di dunia yang dikelilingi dengan orang-orang yang shalih dan shalihah. Sehingga poin tersebut menjadi nilai kelayakanku agar Skripsi Kehidupanku mendapatkan tempat terbaik disisiNya. Aamiin yaa Rabbal ‘alamin.